Haevan duduk di halte bus, menatap ramainya kendaraan berlalu lalang. Jean juga ikut terduduk, namun berjarak jauh dari tempat Haevan duduk.
Keduanya sudah bermenit-menit lalu tiba di sini, namun selama perjalanan hingga kini pun tak ada interaksi apapun.
Biasanya jika tidak hujan, Haevan akan duduk sendiri di sini, sebab ketiga saudara itu akan berangkat bersama menggunakan mobil. Namun kali ini tidak, sebab ada Jean, ia merasa senang untuk itu.
Tibanya sebuah bus di hadapannya membuat Haevan segera berdiri dan hendak masuk.
"Ayo Bang." Ajaknya.
Jean pun dengan terburu menarik lengan Haevan dan mendudukannya di tempat semula.
"Jangan salah bus lagi." Ucap Jean yang berhasil menjawab pertanyaan di benak Haevan.
Haevan mengangguk mengerti. "Lama banget, ngga kaya biasanya."
"Kita udah telat, bus nya juga udah pergi."
"Loh? Kok baru bilang?!" Ucapnya panik.
"Sekali-kali bolos juga ngga ngaruh apa-apa. Lo itu, sekolah sama ngga sekolah sama aja, tetep bodoh juga."
Haevan mencebik kesal. "Soalnya ini tuh Haevan udah tiga hari ngga masuk. Hari ini juga presentasi."
"Lo ngga masuk? Bolos tiga hari lo?" Jean menantap tak percaya ke arah Haevan. "Berani juga?"
Haevan menggeleng. "Aku kan sakit." Sudah tidak heran dengan kelakuan Jean, toh sudah terbiasa tidak dipedulikan.
Sedangkan Jean tak merespon apa-apa.
"Terus kita ngapain di sini? Kenapa Abang diem aja kalo udah tau kita telat?"
Tanpa menjawab apapun Jean beranjak lalu berjalan lebih dulu. Sedangkan Haevan menatap bingung.
"Kemana? Abang yakin mau bolos? Nanti kalo di marahin gimana?"
"Gue udah bilang, sekali-kali bolos juga nggapapa."
"Tapi kok tumben?" Haevan berlari kecil mengikuti langkah saudaranya di depan.
Melihat raut wajah Jean yang sangat enggan dan tak bersemangat ke sekolah membuatnya heran. Apakah ada masalah di sekolah?
"Abang ada masalah ya?"
"Ngga usah banyak bacot."
"Ooh bener lagi ada masalah? Kenapa nih?" Tanyanya lagi tak peduli dengan Jean yang menahan amarah akibat terus diganggu dengan suaranya, lagipula penasaran Haevan tak bisa di kalahkan oleh apapun.
"Bang?"
"Bukan urusan lo."
Haevan hanya menganggukkan kepalanya pelan, ia pikir abangnya butuh teman, ia siap menemani kok.
Mereka berdua menyusuri jalanan yang perlahan sepi, tentunya orang-orang sudah mulai sibuk dengan pekerjaannya.
Jean diam-diam merasa gelisah. Ia menundukkan kepalanya, merasakan gelisah yang kian menjadi. Ia tau penyebab rasa ini muncul.
Suatu hal, yang menyebabkan ia di sini, ia pikir menghindar adalah cara terbaik untuk mengatasi masalah yang menimpanya. Namun ternyata ia salah, ia lupa bahwa seorang Yoga tak akan membiarkan musuhnya lepas begitu saja, Yoga adalah seorang pendendam. Apapun yang membuatnya terusik jangan harap bisa selamat.
Langkah Jean berhenti, menatap dingin ke arah depan dimana Yoga berdiri sembari merokok, masih dengan seragam yang sama, serta beberapa teman yang mengikutinya.
Haevan ikut berhenti, menatap bingung dua arah bergantian.
"Lo kira bisa menghindar?" Tanyanya menyombongkan diri disertai bibir yang masih menyentuh rokok tersenyum miring.
Yoga mendekat perlahan. Jean hanya menatap datar nan dingin.
"Ini Jean? Yang ternyata sepengecut itu?" Yoga tepuk pipi bersih milik Jean, melihatnya pun Haevan tahu ini pertanda buruk. "Inget, lo salah lawan."
Bugghh..
Bunyi mengilukan berasal dari Jean yang mendapatkan pukulan di wajahnya, kuat sekali sampai pemuda itu terjatuh.
Haevan yang terkejut lantas segera menghampiri Jean. "Abang nggapapa? " Tanyanya sembari mengusap pelan luka memerah di rahangnya, namun segera di tepis oleh Jean.
"Haha, gitu aja jatoh lo? Selain pengecut, lemah juga. Nanti apa lagi ya?" Yoga masih menghina, lagaknya seperti sudah juara saja.
Jean berdiri, menatap nyalang ke arah Yoga, tangannya mengepal kuat, Haevan pun di buat khawatir.
"Apa?"
"Setidaknya, lo lebih pengecut dari gue. See? Lo bawa pasukan banyak buat ngeroyok gue kan? Kenapa? Lo takut kalah lawan sama gue?"
"Banyak bacot lo!" Yoga kembal melayangkan pukulan, namun belum sempat mendarat pada bagian tubuh sang lawan, Jean sudah menahan itu dan balas memukul.
Akibatnya terjadi peperangan, teman yang sedari tadi membuntuti Yoga lantas ikut maju, pukul balas pukul telah terjadi. Satu lawan sepuluh bukanlah hal yang mudah, Haevan sendiri yang tak pandai bertengkar hanya mampu terdiam, ia takut pun juga terkejut. Lantas dengan kemampuan yang ia punya, Haevan membantu Jean walau sekedar mendorong lawan yang hendak memukul. Tak jarang pukulan telak ia dapatkan.
Jean yang sadar akan hal itu menatap marah ke arah Haevan.
Sembari memukul lawan ia berteriak berharap sang saudara mendengarnya. "Anjing. Ngga usah ikut-ikutan Haev! Lo tambah ngrepotin gue anjing!"
"Ngga mungkin Haev biarin Abang di keroyok!" Balasnya. "Akh. Kenapa nendang kemaluan Haev sih? Sakit." Ia mengaduh kala orang itu menendang tepat pada kemaluannya, memang tidak keras, namun tetap sakit.
Tak terima seperti itu, akhirnya untuk pertama kali Haevan balas menendang kemaluan orang itu. Sangat keras. Ia terkekeh pelan, wah berantem itu seru juga ya?
Bughh..
Hingga tak sadar, kini seseorang menendang punggungnya hingga ia tersungkur ke depan. Tubuhnya serasa sakit, lebam dimana-mana, dan darah akibat tergesek aspal. Kurang puas, sang lawan kembali menendang perut Haevan beberapa kali dan tanpa jeda, menyebabkan ia tak bisa menghindar.
Diam-diam Jean memandangnya khawatir.
Suara sirine yang berpatroli, nyatanya membuat mereka segera bergegas melarikan diri, namun ada beberapa yang tertangkap akibat tak kuat untuk sekedar berdiri.
Semua yang tersisa di paksa untuk menaiki mobil petugas, termasuk Haevan dan Jean. Keduanya pun saling tatap.
Jika sudah begini, yang di khawatirkan adalah sang kepala keluarga yang marah besar.
***********
*****
Sekali-kali double up gapapa kan? Hehe
Semoga kalian ngga bosen..
Oh ya, buat yang lagi exam, semangat ya?
Love you guys
♡♡♡♡♡♡♡♡♡
KAMU SEDANG MEMBACA
The Dark Sun (hiatus)
Fiksi PenggemarSemesta, kehadirannya memang tak diharapkan, namun ia ada, mengapa tak dianggap? Adalah suatu kalimat yang sering terlintas di otaknya. Dunia, ia juga tak mengharapkan hadir, namun tuhan berkehendak, lalu untuk apa ia menyerah? Adalah suatu kalima...
