12. RASA YANG ASTA PUNYA

22 4 0
                                        

12. RASA YANG ASTA PUNYA

"Yang namanya perasaan itu harus benar-benar dipastikan. Entah itu benci, atau mungkin sebaliknya. Perasaan lo ya salah satu di antara keduanya"
Leo Nebrasolidei

--••🍙••--

Lauri berdiri di depan gerbang utama SMA Sanecalla. Tidak ada apapun di sana, hanya ada sepi yang menemani mendungnya hati gadis itu. Naina meninggalkannya seorang diri, bersama supir yang biasa mengantar jemput mereka.

Helaan nafas terdengar dari mulut Lauri. Seolah mendukung suasana hatinya yang sedang tidak baik-baik saja. Langit pun ikut menangis. Wajah sembab Lauri semakin basah ketika air hujan mulai menerpanya dengan lembut. Dia mendongkak perlahan.

"Apa kamu menangis untukku?" gumam Lauri.

"Terima kasih, kamu baik sekali" lanjutnya sembari tersenyum simpul.

Air mata gadis itu kembali terjatuh. Namun tak terlihat karena menyatu dengan air hujan yang nampak semakin deras. Syukurlah ada hujan, dengan begitu gadis itu tidak perlu repot-repot menyembunyikan air matanya dari orang lain.

Tiba-tiba ada sebuah mobil berwarna kuning yang berhenti di depan Lauri. Seorang gadis keluar dari mobil itu sambil membawa payung yang juga berwarna kuning. Namun saat melihat wajah Lauri yang begitu menyedihkan, payung tersebut dia jatuhkan. Tanpa basa-basi gadis itu berlari dan langsung memeluk Lauri dengan erat.

Dia tak memperdulikan badannya yang ikut basah karena hujan. Karena yang dia pedulikan saat ini hanyalah Lauri, sahabatnya yang paling dia sayangi.

"Kalau kamu hujan-hujanan kamu bisa sakit, Diana" gumam Lauri.

Ya, benar. Gadis dari mobil kuning itu adalah Diana Pratiwi Selbian. Satu-satunya sahabat terdekat Lauri. Setelah mendengar kabar kalau Lauri masih di sini, dia langsung bergegas untuk menemuinya. Gadis itu mengeratkan pelukannya terhadap Lauri.

"Ssttt... Udah diem" gumam Diana.

"Kamu tau dari mana aku di sini?"

"Itu gak penting, sekarang... Lo udah boleh keluarin semuanya di sini. Lo udah berjuang keras, Lauri. Pasti lo capek banget kan? Kalau lo mau nangis, sekarang aja gak pa-pa. Gue ada di sini buat lo" ujar Diana lagi.

Mendengar kata-kata itu, Lauri benar-benar tidak bisa menahannya lebih jauh lagi. Gadis itu membalas pelukan Diana, menangis keras, meraung-raung penuh luka di bahu sahabatnya yang satu itu. Sementara itu Diana hanya menepuk-nepuk bahunya, mencoba menenangkan Lauri.

--••🍙••--

Curah hujan tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa dia akan berhenti. Malah yang ada hujan datang semakin deras. Seolah-olah langit memang sedang patah hati berat dan kini tengah menangis.

Seperti biasa, sepulang sekolah anak-anak Castinozera berkumpul di markas mereka. Sebuah warung yang terletak beberapa meter di belakang SMA Sanecalla. Baik anggota inti maupun anggota sekunder. Mereka semua berkumpul hanya untuk sekedar menongkrong, membeli makan, mengobrol, dan lain halnya. Satu hal kecil yang menguatkan solidaritas antar sesama anggota yang sudah terjalin lama.

Asta juga tentunya ada di sana, karena dialah ketuanya. Cowok itu hanya duduk di dekat Leo, Aji, dan Suga sembari memperhatikan apa yang dilakukan oleh teman-temannya. Jangan tanya kenapa karena pada dasarnya dia memang tipe orang yang dingin dan pendiam.

Sedangkan anak buahnya melakukan berbagai hal. Ada yang sedang mabar game online, ada yang sedang main biliar, ada juga yang sedang bucin dengan pacarnya lewat handphone, ada pula yang sedang mengobrol, dan lain sebagainya.

ASTA SHENAZARCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang