Masih di tempat yang sama, Kantin Sekolah.
Beberapa saat lalu terjadi keributan antara Blaze dengan Thorn dikarenakan tingkah jahil Dilan. Keributan itu diakhiri oleh Gempa yang sudah mengeluarkan jurus emak-emak andalannya.
Fang, Ice, dan Solar menjadi saksi bisu keakraban mereka. Ketiganya masih belum tahu siapa sebenarnya sosok Dilan itu, kenapa dirinya bisa seakrab itu dengan para putri Alexander.
"He'hem... Giliran gue! Kenalin gue Adilan, pangeran vampir bagian Barat, Kerajaan Landian. Putra bungsu Raja Veroland," ujar Dilan, memperkenalkan diri lagi tapi kali ini lebih rinci.
"Tambahan, Dilan ini sahabat kita dari kecil. Makanya kita bisa langsung akrab sama dia," kata Thorn menambahkan.
"HAH??!"
Memang ketiga putra Lavender menantikan sesosok Dilan yang memperkenalkan jati dirinya. Namun, setelah mengetahui-nya ketiga saudara itu nampak terkejut dan sedikit rasa tidak enak hati. Tak disangka ternyata sesosok di depan mereka adalah seorang pangeran dan vampir sebangsanya.
"K-kau seorang vampir?" tanya Fang memastikan lagi. Ia tampak sangat terkejut.
Dilan mengangguk saja.
"Dan juga seorang pangeran?" pertanyaan Ice juga dibalas dengan anggukan oleh Dilan.
"A-ah...maaf atas ketidaksopanan kami tadi, Pangeran Adilan," kali ini Solar menurunkan egonya untuk meminta maaf terlebih dahulu, karena ia sadar bahkan dirinya memang bersalah bersikap tidak sopan kepada seorang pangeran.
Semua Keluarga Lavender memang mengutamakan kesopanan. Ketiga Pangeran Lavender sudah diajarkan tata krama untuk bersikap sopan satun sejak kecil.
"Hahaha... Tidak apa-apa, Pangeran Solar. Tidak perlu terlalu formal, aku mengerti!" kata Dilan, memecah kecanggungan.
"Apa kau sebelum ini sudah mengenal kami lebih dulu? Seberapa tahu kau tentang kami?" tanya Fang beruntun dan sedikit merasa janggal.
"Tentu saja, Pangeran Fang. Siapa yang tidak tahu keempat Putra Raja Lavender. Pangeran vampir yang memegang kekuatan terkuat, hanya saja aku tidak terlalu mengingat nama kalian," Dilan menjelaskan seberapa banyak yang ia tahu tentang ketiga pangeran itu, mungkin sekaligus memuji.
"Hm... Kau cukup tahu tentang kami ternyata," ujar Ice, cuek. Lalu meminum minumannya.
"Hahaha... Tidak juga, Pangeran Ice. Aku hanya mengenal kalian dari buku sejarah vampir saja."
Ice hanya mengangguk saja.
"Buku sejarah vampir? Kau memilikinya, Lan?" tanya Blaze yang salah fokus dengan omongan Dilan tadi.
Dilan mengangguk. "Ya, aku mendapatkannya dari eyang."
"Wahhh... Apa kau bisa meminjamiku?"
"Tentu saja, Putri. Aku akan mengantarnya ke rumah mu nanti," Blaze balas mengangguk. "Oh, ya! Aku belum mengetahui rumah mu."
"Pulang sekolah nanti ikutlah dengan kami," jawab Blaze seadanya.
"Asik... Dilan ikut kita pulang nanti! Jadi bisa main sepuasnya," Thorn terus memeluk Dilan.
Dilan tertawa karena tingkah lucu Thorn. "Hahaha... Kau sangat menggemaskan, Putri Thorn!" mengusap lembut kepala Thorn.
"Tentu saja! Aku memang selalu menggemaskan," Thorn terlalu percaya diri sampai membuat Blaze muak sendiri melihatnya.
"Kau seharusnya tak mengatakan itu kepadanya, Lan! Lihat, dia jadi kePDan!" komentar Blaze, berwajah muak.
Thorn berdecih kesal, "Hey, Blaze! Kau iri dengan keimutan ku, kah? Kenapa? Karena kau tidak imut, ya? Kasihan punya muka pas-pasan!" sarkas Thorn dengan nada yang dibuat-buat sedih di akhir kalimat.
KAMU SEDANG MEMBACA
VAMPIR BUCIN {BBB}
Vampir{ON GOING} Peperangan antara Bangsa Vampir dengan Bangsa Serigala memang sudah biasa. Namun, bagaimana jika Bangsa Vampir berperang dengan sesama bangsanya sendiri? Kata orang semua vampir itu sama, namun nyatanya, setiap vampir berbeda, salah satu...
