Angin malam berhembus menerpa wajah, menggoyangkan rambut-rambut pendek. Dinginnya malam menerobos pori-pori kulit. Mata berbinar karena cahaya rembulan yang bagaikan lampu panggung. Waktu terasa lambat berputar. Suasana seketika menjadi dramatis.
Kini dibalkon kamar, terlihat sesosok pemuda sedang temenung. Maniknya menerawang jauh ke cakrawala. Membiarkan pikiran meliar. Meluapkan semua perasaan dalam diam. Melupakan REALITA dan BEREKSPEKTASI tinggi.
Kau tahu...
Ada pepatah yang mengatakan realita tidak semanis ekspektasi. Pepatah itu bermakna bahwa tidak semua yang kita harapkan sesuai dengan kenyataan yang ada. Terkadang hanya untuk sebuah pujian dan penilaian orang lain terhadap diri kita. Membuat kita cenderung membesar-besarkan sesuatu, memaksakan sesuatu harus ada, dan mengadakan kemampuan dan kelebihan yang sebenarnya tidak ada pada diri kita.
"Cih, terkadang realita terlihat bodoh saat disandingkan dengan ekspektasi," kata pemuda itu.
Maniknya masih fokus ke cakrawala. Seakan disana ada pertunjukkan yang menarik atensinya. Pertunjukkan yang benar-benar menarik, sampai ia tak mau berpindah pandang.
Untuk saat ini ia tidak mau diganggu, tapi seseorang menepuk pundaknya dan menghancurkan bayangan imajinasinya.
Melirik melalui ekor mata, mendapati sesosok pemuda dingin. Berdiri disampingnya, dengan tangan yang memegang pembatas besi.
Hening. Tiada sembarang suara. Kedua pemuda itu hanya diam, sedangkan maniknya menatap datar para bintang.
Pemuda yang identik dengan warna merah, Halilintar, membuka suara. "Apa?"
Tidak ada balasan. Pemuda itu hanya dia. Membiarkan keheningan yang menjawab.
Hening kembali terpecahkan, oleh si pemuda biru yang bersuara. "Ekspektasi berlebihan akan menyakitimu lebih dalam," katanya.
"Lebih baik berekspektasi berlebihan, daripada merasakan rasa pahit dari realita," ujar Halilintar sedikit tidak terima.
Ice, pemuda biru itu tertawa keras. Membuatkan Halilintar tersentak dan menoleh ke arahnya.
"Pfttt HAHAHA... Halilintar, Halilintar. Bukan kenyataan yang pahit, tapi ekspektasi kita saja yang terlalu manis," jawab Ice, disela tawa yang masih menguar.
Ice menghentikan tawanya. Kembali menatap datar lawan bicara nya, yang saat ini juga menatapnya.
Menghelai nafas kasar. "Kenapa realita dengan ekspektasi berbeda?" tanya Halilintar. Menghadap kedepan lagi, maniknya kembali mengawang.
Terkekeh ringan. "Jangan heran jika ekspektasi tak seindah kenyataan. Karena ini dunia nyata, bukan dunia khayalan," jawab Ice.
"Jawaban mu tak sesuai pertanyaan ku!" protes Halilintar.
Memutar bola mata. Membalikan badan, dan ingin pergi. "Yayaya... Terserah! Yang ingin ku sampaikan hanya..."
Menghentikan langkah, menolehkan kepalanya. Melihat punggung kakaknya yang membelakangi.
"... Hidup ini cair, semesta ini bergerak, waktu terus berputar, dan realita dapat berubah!"
Setelah mengatakan itu, Ice langsung melenggang pergi. Membiarkan sang kakak memutar otak, hanya untuk mencari maksud dari omongannya. Maksudnya simpel saja, tak perlu berpikir keras, cukup pahami kata-katanya saja.
.
.
.
.
.
FLASHBACK!
KAMU SEDANG MEMBACA
VAMPIR BUCIN {BBB}
Vampiros{ON GOING} Peperangan antara Bangsa Vampir dengan Bangsa Serigala memang sudah biasa. Namun, bagaimana jika Bangsa Vampir berperang dengan sesama bangsanya sendiri? Kata orang semua vampir itu sama, namun nyatanya, setiap vampir berbeda, salah satu...
