•REALITA•

434 52 0
                                        

Gelap berganti terang. Dingin berganti hangat. Dan rembulan berganti mentari. Malam yang indah berhiaskan bintang kejora meninggalkan langit. Pagi yang cerah berhiaskan awan putih menyambut dunia.

Hari Senin, pukul 06.30.

Waktunya anak sekolah menjalankan tugas. Datang ke sekolah mencari ilmu yang bermanfaat. Memperhatikan setiap pelajaran dengan hikmat. Dengan semangat membara mengerjakkan tugas yang diberikan oleh guru. Dan berakhir mendapatkan nilai yang memuaskan, serta ilmu yang menempel pada otak para murid.

Namun, kembali pada realita...

Realitanya banyak anak sekolah yang malas belajar. Malas mengerjakkan tugas. Dan malah bermain-main saja. Alhasil, ilmu yang mereka cari sedari pagi hingga sore, hanya bagaikan debu berterbangan.

Meski begitu, mereka dapat merubah kebiasaan mereka. Berubah menjadi lebih baik, meninggalkan kebiasaan buruk. Dan kelak kau juga yang akan menikmati hasilnya. Apapun akan menjadi mungkin jika kau berusaha. Kau tau, realita dapat diubah, namun ekspektasi hanya akan menjadi angan-angan saja.

Karena hari ini adalah hari Senin, semua murid mendapat kegiatan tambahan berupa berjemur ditengah lapangan dengan terik matahari yang menyinari. Kegiatan ini dinamakan Upacara Bendera.

Upacara Bendera merupakan rangkaian tindakan yang direncanakan dengan tatanan, aturan, tanda, atau simbol kebesaran tertentu. Kegiatan ini dilakukan pada pukul 07.30, untuk itu semua murid diwajibkan datang 10 menit sebelum upacara berlangsung.

Para murid yang terlambat datang akan dikenakan hukuman, sama seperti 6 murid ini. Cool Boy dan Duo TTM sekarang ini sedang dihukum. Disebabkan kerterlambatan mereka dan kepergok menyelinap masuk sekolah dengan melompati pagar belakang sekolah. Ada dua hukuman yang harus mereka kerjakan, yang pertama berdiri di tengah lapangan sembari hormat kepada sang merah putih. Yang kedua, membersihkan toilet satu sekolahan, itu dikerjakkan saat bunyi bel istirahat berlangsung.

Dimana Taufan dan Gempa?

Untuk Taufan, ia masih dalam masa pengobatan di rumah dengan bantuan dari kekuatan Boboiboy. Sedangkan Gempa, ia masih belum pulang sejak peristiwa penculikan itu. Namun, Gempa sudah mengabari semua saudaranya bahwa ia tidak apa-apa, dengan itu ia tidak membuat saudaranya semakin lama khawatir akan dirinya. Hanya memberitahu keluarga nya saja, tidak dengan putra-putra Raja Lavender.

"Ini semua gara-gara kalian!" kata vampir tomboy, Blaze.

"Lho, kok gara-gara kita? Jelas-jelas ini gara-gara lo!" balas Solar tak terima disalahkan.

Blaze berdiri dihadapan Solar. Maniknya menatap tajam. Si empu yang ditatap, balas menatap tak kalah tajam. "Denger ya! Kalau kalian gak telat jemput kita, kita gak bakal terlambat kek gini!" sentak Blaze.

Menodongkan jari. "Walau kita telat, kita gak bakal dihukum seberat ini. Tapi karna ide gila lu, hukuman kita jadi bertambah, PAHAM?!" gertak Solar.

Blaze menepis tangan Solar kasar. Tidak terima dengan penuturan Solar, Blaze langsung membalasnya dengan kata-kata sarkas. Itu berhasil membuat Solar geram, dan membalas omongan Blaze tak kalah sarkas. Perdebatan mulut antara Solar dan Blaze dimulai. Tidak ada yang mengalah, mereka saling menyalahkan. Saling meninggikan ego masing-masing. Sampai satu suara menghentikan perdebatan mereka.

"Gak usah debat! Kita sama-sama salah, akui itu!" kata si manik sayu sesingkat mungkin.

"Betul kata Ice! Jangan saling menyalahkan, karena kita sama-sama bersalah. Mending saling memaafkan daripada debat gak jelas kayak gitu, gak ada faedahnya," ujar pemuda visor menghentikan perdebatan Solar dan Blaze.

Seperti kata Ice dan Fang, mereka semua memang bersalah. Cool Boy yang terlambat menjemput Duo TTM. Dan karna ide bodoh Blaze yang menyarankan melompat masuk pagar belakang sekolah.

Blaze yang tidak setuju dengan perkataan Fang, langsung melayangkan protes. "Apa, minta maaf? Dih, gak sudi! Orang dia yang salah, kenapa gue harus minta maaf?"

"Harusnya dia yang minta maaf sama kita. Iya gak, Thorn?" lanjut Blaze, meminta persetujuan sang adik. Thorn selaku adiknya tidak menjawab dan hanya diam saja.

Solar yang sedari tadi tidak setuju dengan penuturan Blaze pun melayangkan protes kembali.

"WOY, INI JUGA SALAH LU! SADAR DIRI BEGO!" solar menaikan suaranya 1 oktaf. Membuat semuanya terkejut, terutama Blaze, dan terkecuali satu pemuda yang sedari tadi diam.

Bukanya takut dengan bentakan Solar, Blaze semakin menatangnya. Membalas bentakan dan melontarlan kata sarkas. Lagi-lagi adu mulut antara Solar dan Blaze kembali terdengar.

KRINGGGGG

Sampai tak ada yang menyadari bel istirahat berbunyi. Satu pemuda yang menyadari itu, langsung saja pergi dari sana. Meninggalkan saudara dan teman-tamannya, dan tidak mengindahkan perdebatan yang menurutnya konyol.
.

.

.

.

.
Halilintar POV!

Kemarin aku berharap bisa bertemu dia sekarang, namun ternyata ekspektasi ku tak sesuai realita. Diangan ku, ia ada, aku mengukapkan, dan ia menerima. Menjalani hidup yang penuh lika-liku dan suka duka bersama. Namun realitanya, dia tidak berada disini, dan aku gagal mengungkapkan itu.

Aku terlalu berangan, berhalu, berkhayal, dan berekspektasi terlalu manis, sampai melupakan realita nyata. Realita ku bagaikan kopi tanpa gula. Dan Ekspektasi ku bagaikan coklat dan gula, manis sampai aku tak merasakan pahitnya.

'Bukan kenyataan yang pahit, tapi, ekspektasi kita saja yang terlalu manis.'

Yayaya...kau benar Ice, kau benar! Aku akui aku salah. Ku akui kau menang dalam perdebatan kemarin. Cih...sudah, jangan muncul dipikiranku lagi! Aku sudah mengakui kekalahan ku, sialan.

Hufftt...

Ternyata benar apa yang dibilang Ice, terlalu berekspeksi itu menyakitkan. Sekarang aku sadar, bahwa hidup bukan masalah untuk diselesaikan, tetapi realita untuk dihadapi.

'Hidup ini cair, semesta ini bergerak, realitas berubah.'

Kita tidak bisa mengharapkan ekspektasi, tapi kita bisa merubah realita. Itu yang ku tangkap dari kata-kata Ice hari itu.

"Huftt...menyusahkan!"

Sangat menyusahkan, hanya untuk menangkap maksud dari omonganya saja aku harus memutar otak. Cih..

Hm...yodahlah gapapa, hal-hal baik pasti akan ada konsekuensinya, tapi hal-hal baik gak akan mengecewakan for the long run. Sedangkan hal-hal yang gak baik, seperti berekspektasi pada manusia mungkin menyamankan hati dalam jangka pendek, tapi menghancurkan dalam jangka panjang.

Huh...

Baru saja aku berpisah dengannya, tapi mengapa rasanya sudah terlalu lama aku menunggu? Apa aku merindukannya? Ah, mana mungkin aku merindukan vampir cerewet itu.

Tidak, tidak, tidak...aku tidak merindukanya, tapi aku em... Sudahlah, lupakan saja!

"Hah... Cepatlah kembali, Muson..."



































































"....aku rindu!"

Halilintar POV end!

Bersambung...

Hai, sudah berapa lama aku hiatus?

Sorry, I got writer's block :"(

Aku ingin membuat cerita ini lebih menarik, BUT I CAN'T π~π

Hm, I will try again OwO

BUBAY...

VAMPIR BUCIN {BBB} Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang