•KEMBALI•

394 38 0
                                        

KRINGGGGGG

Bel pulang sekolah berbunyi. Menandakan semua murid diizinkan untuk pulang. Semua murid dengan semangat berhamburan keluar perkarangan sekolah dengan perasaan lega. Sejak pagi terkurung di gedung sekolah, membuatkan kepala mereka menguap panas. Ditambah dengan pelajaran yang susahnya tidak terduga.

Cool Boy dan Duo TTM langsung saja melesat pergi meninggalkan pekarangan sekolah. Mungkin difaktorkan kelelahan, sehabis menyelesaikan hukuman dan memikirkan soal fisika yang banyak dan sulitnya tidak main-main.
.

.

.

Sesampainya di rumah, Blaze langsung...

BRAK

Menendang pintu rumah tanpa rasa bersalah. Ia langsung melesat ke ruang tamu dan melempar dirinya ke sofa. Thorn yang sedari tadi mengikuti kakak nya pun merebahkan diri di sofa depan kakaknya.

Nafas memburu, keringat bercucuran, dan kepala menguap. Itu kondisi yang bisa kita lihat dari kedua vampir ini.

"Sialan, tu guru bisa-bisanya ngasih soal pelajaran yang gak ngotak!" umpat Blaze.

Ia masih kesal dengan guru matematika yang mengajarnya tadi. Secara mendadak dan tanpa belas kasihan, guru itu mengumumkan bahwa hari ini akan diadakan ulangan harian. Tentu para murid terkejut dengan penuturan guru meraka, jujur saja mereka belum mempersiapkan mental untuk mengerjakkan soal-soal itu yang bagaikan moster yang siap menerkam mereka.

Sama hal nya dengan keenam vampir ini, bagaimana mereka bisa berpikir jika tenaga mereka habis hanya untuk menyelesaikan hukuman mereka. Perlu kalian ingat, bahwa berpikir juga membutuhkan tenaga, coba bayangkan jika kalian sedang kelelahan pasti kalian juga tidak dapat berpikir, bukan?

"Memang benar-benar guru sialan!" umpat Thorn mengutuk guru itu.

PROK PROK PROK

"Wah...hebat, hebat. Sekarang Thorn udah bisa mengumpat, ya?"

Bunyi tepukan tangan dan suara seseorang mengambil antensi Blaze dan Thorn. Mereka berdua mencari asal suara itu, yang ternyata berasal dari arah tangga. Melihat seseorang yang turun dari tangga membuat mereka membelalakkan mata. Perasaan rindu dan gembira menguar di hati mereka. Namun, ada juga sedikit perasaan takut, pasalnya orang itu turun dengan aura yang tak bisa dijelaskan.

Dari arah tangga turun seorang gadis berpakaian serba coklat. Menuruni satu persatu anak tangga. Raut wajahnya melukiskan senyum hangat, manis, dan tatapan yang sulit diartikan. Aura yang mengudara terasa begitu merasuk ke dalam tubuh. Manusuk dada kiri yang dimana terletak organ manusia/vampir yang begitu penting untuk kehidupan mereka, JANTUNG.

Berdiri tegak dengan pandangan lurus ke depan. Tangan terlipat di depan dada. Alis melengkung ke bawah. Raut wajah yang tidak dapat diartikan.

"Ka-kak G-gempa?" panggil Blaze terbata-bata.

Gempa, kakak sulung dari Blaze dan Thorn yang sempat diculik dan menghilang, sekarang sudah kembali. Berdiri dengan angkuhnya disertai tatapan yang tiada artinya.

Entah Blaze harus merasa senang ataupun takut. Senang karena kakak tertuanya telah kembali, dan takut dengan tatapan aneh yang kakaknya tunjukan. Terlebih lagi tadi adiknya sempat mengumpat, pasti yang akan disalahkan dia, karena dituduh telah mengajari hal yang tidak baik kepada adiknya.

'Hassss...pasti gue kena semprot lagi, ni!' batin Blaze pasrah.

Berbeda dengan adiknya, Thorn. Sekarang gadis itu sedang memandang kakak yang paling ia sayang dengan mata bulat yang berbinar.

HUG

Sesuatu hangat menerpa tubuh Gempa. Pelukan penuh kerinduan dari sang adik dapat dirasakan oleh Gempa. Dengan kesadaran dirinya, Gempa membalas pelukan Thorn.

"Thorn rindu Kak Gempa," kata Thorn lirih.

"Kakak juga rindu Thorn," ucap Gempa lembut.

Melepas pelukan keduanya. "Kak Gempa gapapa? Gak ada yang luka juga'kan?" Thorn memutar-mutar badan Gempa, mengecek tubuh milik sang kakak dan berharap tidak ada yang terluka.

Gempa menghentikan tingkah adiknya. Menatap mata adiknya dalam. "Kakak gapapa, Thorn!" tersenyum lembut agar sang adik percaya padanya bahwa ia memang baik-baik saja.

Thorn langsung memeluk Gempa lagi. "Syukurlah kalau Kak Gempa gapapa."

"Iya! Adik juga gapapa kan?" Thorn nampak mengangguk dalam dekapan Gempa.

Gempa menghelai nafas lega. Lega bahwa adiknya tidak kenapa-napa. Ia mengeratkan pelukan kepada Thorn, mengusap-usap rambut si adik.

Blaze hanya dia tak berkutik. Membiarkan kedua kakak beradik itu meluapkan rindu masing-masing. Dengan itu ia bisa memanfaatkan untuk lari menghindari kakaknya yang masih mengeluarkan aura-aura dark. Ia berjalan mengendap-endap pergi dari sana. tapi sayang, dewi fartuna kali ini tidak memihak kepada Blaze.

"Mau kemana Blaze?"

Gempa perlahan melepas pelukan, yang membuat si empunya bingung.

"E-eh...Ka-kak Gempa! B-blaze ke kamar du-dulu ya, mau ganti baju. Khekhekhe," gugup Blaze diakhiri kekehan hambar.

Ia berjalan ke arah tangga dengan sedikit tergesa-gesa. Namun baru ingin ia menaiki tangga, langkahnya harus terhenti.

"Siapa yang mengizinkanmu pergi?"

Suara Gempa menghentikan langkah Blaze. Blaze menghadap ke belakang dengan ragu-ragu. Menggaruk-garuk belakang tengkuknya.

"Em... Ada apa, kak?" tanya Blaze dengan sedikit keraguan.

"Kakak mau tanya, dan kamu jawab jujur!" Gempa berucap dengan nada mengintimidasi. "Apa kamu yang mengajarkan Thorn mengumpat, hem?" sekarang beralih dengan pandangan Gempa yang juga mengintimidasi.

Blaze menghembuskan nafas lelah, mengusap wajahnya kasa. 'Sudah ku dugong,' batin Blaze.

"Bukan!" jawab Blaze singkat.

"Bohong! Gak mungkin Thorn bisa mengumpat kalau gak kamu ajarin," tuduh Gempa.

"Hish...bukan aku yang ngajarin, Kak Gempa!" geram Blaze. "Kalau gak percaya, tanya aja sama orangnya sendiri. Noh...orangnya masih hidup," tunjuk Blaze dengan dagunya.

'Kenapa selalu gue sih yang dituduh,' batin Blaze menggerutu.

Gempa beralih ke pada adik bungsunya yang sekarang sedang cengar-cengir.

"Ini bukan salah Kak Blaze. Tadi Thorn gak sengaja kelepasan ngomong," jawab Thorn setelah menatap Gempa yang meminta penjelasan.

Gempa terkejut sampai mulutnya menganga lebar. Menggeleng kecil kepalanya, masih tidak menyangka adiknya ini mengumpat secara alami.

'Huhuhu...adikku sudah besar ternyata,' batin Gempa dramantis.

Menghelai nafas kasar. "Huftt...jangan diulangi lagi!" ingat Gempa.

Thorn mengangguk semangat. "Oke, kak! Maaf ya!"

Gempa mengangguk, lalu tersenyum lembut. "Iya!" mengusap lembut surai adiknya.

"Dan kau Blaze..." Gempa beralih ke arah adik ketiganya.

Blaze menatap beralih menatap Gempa, sebelumnya ia menatap kuku tangannya sembari memainkan kukunya.

"Apa? Ingin menuduh ku la-"

HUG

"Maaf..."




























Bersambung...

Apasih gk jelas_-

Don't forget to leave a trace!

VAMPIR BUCIN {BBB} Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang