•PRANK•

397 36 1
                                        

BRAK

Dobrakan keras terdengar nyaring di penjuru ruangan. Keempat vampir boys baru saja kembali setelah mengantarkan dua putri kerajaan ke rumah mereka. Wajah mereka nampak lesuh ketika memasuki mansion. Langkah mereka terseok-seok. Tubuh mereka lemas karena kelelahan. Tak pernah terpikir jika hari ini adalah hari paling melelahkan untuk mereka semua.

Dikarenakan tubuh mereka yang terlalu lelah dan tak bertenaga, akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat sebentar di ruang tamu dengan tubuh yang masih dibaluti seragam sekolah yang telah ternodai oleh keringat mereka. Keringat yang tak henti-hentinya turun menetes membasahi kain sutra putih itu.

"Hah...capeknya," keluhnya lelah. Ia merebahkan dirinya di atas sofa ruang tamu, dan langsung tertidur begitu saja.

"Gue mau meditasi sebentar. Lu pada jangan ganggu! Awas aja kalau ganggu, habis lu semua!" ancamnya setengah sadar.

Ketiga vampir boys hanya diam saja, tak ada yang berniat untuk mengomentari saudara mereka yang satu itu. Mereka sudah telalu lelah ditambah juga malas, karena juga percuma mau mereka nyerocos panjang lebar omongan mereka gak akan pernah didengar dan malah diabaikan saja seperti angin lalu.

Beberapa menit kemudian, ketiga vampir yang masih terjaga ikut terserang rasa kantuk dan tertidur begitu saja. Menyusul salah satu saudara mereka yang telah berlabuh ke alam mimpi lebih dulu.

Mereka sudah bagaikan ikan teri yang dijemur di pinggir pantai saat teriknya panas matahari. Bisa kalian bayangkan bagaimana posisi mereka tidur?
.

.

.

.

.
Gempa tiba-tiba saja memeluk Blaze. Membuat Blaze tersentak, badannya terasa kaku tidak bergerak. Ingin melepaskan, namun rasanya juga tidak. Ia juga merindukan kakaknya ini.

"K-kak Ge-gempa?"

Blaze memanggil nama kakaknya, saat dirasa pelukan kakaknya ini semakin erat. Ditambah tubuh kakaknya yang bergetar.

"Kak Gempa gapapa kan?" tanya Blaze panik karena tubuh kakaknya semakin bergetar. Blaze semakin panik saat pendengarannya samar-samar mendengar suara isakan, dan itu berasal dari...

Kakaknya.

"Maafin kakak, Blaze. Maaf telah menuduhmu. Maaf telah tidak adil padamu. Dan maaf telah menjadi kakak yang buruk untuk mu...hiks"

Blaze tertegun mendengar penuturan sang kakak. Entah sejak kapan tubuh Blaze terasa panas, tangannya mengepal erat, wajahnya memerah menahan sesuatu bergejolak di ulu hatinya.

BRUK

"Kak Gempa!" kaget Thorn.

Blaze melepas paksa pelukan dirinya dengan sang kakak. Menyebabkan Gempa jatuh terduduk, karena dorongan Blaze yang mungkin terlalu kasar. Gempa mengangkat kepalanya, terkejut melihat Blaze yang menatap marah ke arah dirinya.

"APA MAKSUD KAKAK?"

Bentakan dan wajah Blaze yang memerah karena menahan amarah yang bergejolak dalam tubuhnya, membuat Gempa terkejut. Ia tidak mengerti dengan adiknya ini. Ia hanya mengucapkan permintaan maaf, tapi mengapa adiknya ini terlihat begitu marah kepada dirinya?

Gempa menundukkan kepalanya. Entah mengapa ia merasa tatapan Blaze berbeda dari biasanya dan juga sedikit menakutkan. Ia mencengkram kuat ujung bajunya, lalu menghirup nafas panjang, dan mulai membuka suara lagi.

"Maaf Blaze. Kakak cuma mau menyelesaikan masalah kita hari itu. Maaf, kakak gak bermaksud memarahi mu. Kakak cuma-"

HUG.

Omongan Gempa terpotong, saat sesuatu hangat melilit tubuhnya.

"Kenapa kakak minta maaf? Bukan kah wajar seorang kakak memarahi adiknya? Kalau dipikir-pikir, aku juga salah. Lagian aku seneng kalau Kak Gempa marahin aku, itu artinya Kak Gempa peduli dengan Blaze..."

Blaze berhenti berbicara sejenak, ia menarik nafas dalam-dalam sebelum melangkah mundur beberapa langkah.

Gempa yang melihat gelagat Blaze dibuat bingung. 'Ni bocah kenapa lagi?' batin Gempa bertanya.

"Lagian yang kemarin itu hanya..." Blaze kembali berbicara setelah beberapa detik terdiam, menyadarkan Gempa dari kebingungan. Namun, bukannya kebingungan itu hilang, malah semakin menjadi.

"Hanya?" tanya Gempa semakin penasaran, karena Blaze tak langsung melanjutkan omongannya dan malah digantung.

'Huftt...gantungin aja terosss,' batin adik mereka kesal. Ternyata sedari tadi Thorn diam-diam mendengarkan pembicaraan mereka.

Blaze tersenyum miring. "HANYA PRANK!" teriak Blaze langsung melarikan diri dari Gempa yang masih belum sadar.

"Hah? Prank?" Gempa masih terbengong, mencerna semua yang terjadi. "APA?! ITU CUMA PRANK?HISH...BLAZEEEEEEEE!?" menggelegarlah teriakan Gempa di seluruh ruangan.

Langsung saja Gempa mengejar Blaze yang sudah melarikan diri. Berakhir lah keduanya berlarian di ruang keluarga, meninggalkan sang adik yang hanya diam membisu menyasikan keduanya saling kejar-mengejar.

'Nasib punya sodara sengklek,' batinya meratapi. Ia tersenyum miris melihat sekitarnya yang sudah berantakan bak kapal pecah, karena ulah kedua saudaranya.

Merasa tak dianggap, Thorn lantas berbalik badan hendak pergi ke kamarnya. Berniat untuk mengistirahatkan badannya yang sudah merasa lelah.

Namun, belum sempat Thorn menaiki tangga, ia sudah dikejutkan oleh seseorang yang tengah berdiri di tangga. Thorn memelototkan mata nya saat menatap sesosok yang sangat ia kenal.

"K-kau..."

Orang itu tersenyum lembut menatap Thorn. "Hai..."

"Ada apa ini?"





















Bersambung...

"Hanya enam pria," kata mama.

•Apanya yang hanya enam pria?

•Keputusan apa yang harus ia ambil?

•apa yang telah terjadi padamu?

•Bagaimana cara menghadapinya?

Banyak pertanyaan yang bersembayang di otaknya. Ia tidak ingin membebani semuanya. Ia ingin mengakhiri semuanya, SENDIRIAN!?

Ingin tahu apa yang sedang terjadi?

Staytune nanti siang!

📌Jangan lupa VOTE n COMENT!

📌Jangan lupa VOTE n COMENT!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
VAMPIR BUCIN {BBB} Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang