Naraka melangkah menuju ruang bawah tanah markas, di mana sudah terdapat ketiga sahabatnya di sana. Ia harus membereskan hama pengganggu terlebih dahulu, sebelum melakukan misinya.
"Mereka di dalam," ucap Elios yang membukakan pintu untuk Naraka.
Di sana sudah terdapat Bryan dan Jovan yang tengah duduk menatap 6 orang yang terikat. Para pelaku yang menyakiti Linka.
"Lepasin kita, heh!" teriak Lauren.
"Kalian bakal kena marah Naraka karena udah ganggu gue," desis Lauren.
Mereka belum menyadari jika Naraka juga di dalam karena mata mereka tertutup kain merah.
"Emang, Naraka bakal ngapain sahabatnya?" balas Jovan remeh.
"Meski lo sahabatnya Naraka, dia gak pandang bulu buat nyakitin lo karena udah ganggu ceweknya," balasnya percaya diri.
Sementara kelima orang lainnya hanya diam meratapi nasib mereka yang entah akan bagaimana setelah ini. Bisa keluar dalam keadaan utuh saja adalah sebuah anugerah.
"Yakin, lo ceweknya?" balas Bryan yang mulai kesal dengan kepercayaan diri cewek di depannya itu.
"Iyalah, kalo gak percaya, tanya aja sama Naraka."
Naraka berjalan menuju lemari yang berisi berbagai macam senjata, dari mulai senjata tajam hingga senjata api. Ia mengambil sebuah pisau, ingin sekali dirinya merobek mulut sialan Lauren.
"Gue gak nyangka selera lo serendah ini, Naraka," dengkus Bryan, menatap Naraka yang tengah memilih senjata mana yang cocok dipakai.
Lauren menjadi pucat pasi, tak menyangka Naraka sedang satu ruang dengan mereka. Sudah pasti ia sedang menggali kuburannya sendiri, ditambah tindakan lancangnya mengusik Linka. Penyesalan memang selalu datang di akhir, kini ia hanya bisa pasrah.
"Gue juga baru tahu selera gue rendahan gini. Apa kemarin gue kena guna-guna sampai gak tahu mana berlian dan sampah masyarakat?"
"Lepasin gue, Naraka. Kita cuma ngelakuin apa yang Lauren suruh, kita gak salah apa-apa, yang salah Lauren di sini," ucap Keira mencoba menyelamatkan diri.
"Gue juga mohon maaf, lepasin gue. Gue cuma disuruh Lauren buat bully Linka," timpal Ruby.
"Maafin gue, Naraka. Gue juga cuma disuruh Lauren," ucap cowok yang pertama.
"Gue mohon lepasin gue, gue belum nyentuh Linka sama sekali, gue juga cuma disuruh Lauren," ucap cowok yang kedua. Sementara pemuda yang terkena bogeman Naraka hanya diam, percuma saja memohon pada dewa kematian.
"Diam! Ke mana aja otak kalian tadi, hah?!" bentak Naraka, sementara ketiga sahabatnya ikut membenarkan. Terlalu lancang mengusik milik Naraka adalah sebuah ketololan.
Suasana menjadi hening, hanya terdengar suara langkah Naraka yang menggema menjadi musik pengalun setiap tarikan napas terakhir mereka.
Kain yang menutup mata Lauren terbuka, netranya bertemu dengan mata segelap malam milik Naraka. Gemuruh jantungnya membuat keringat dingin berlomba keluar, sang iblis telah bangkit ke permukaan saat ini.
"Lepasin gue, Naraka. Gue mohon, gue bakal ngelakuin apa pun yang lo suruh."
Satu tamparan melayang di wajah gadis itu.
"Harusnya lo berpikir sebelum bertindak, bodoh!" Naraka mengibaskan tangannya.
Bibir Lauren sobek karena saking kerasnya tamparan Naraka. Matanya memerah merasakan perih di pipinya.
"Buka penutup mata mereka semua!"
Dengan sigap Jovan, Bryan, dan Elios membuka penutup mata mereka. Wajah mereka pucat pasi, melihat Naraka marah. Mata Naraka berkilat tajam, seolah siap memangsa tikus pengganggu di depannya. Suara dua belah pisau yang saling bergesekan mulai terdengar, membuat wajah-wajah yang tadinya penuh kepongahan itu mengerut ketakutan.
"Mau ke rumah sakit atau langsung ke rumah duka?"
"Maafin kita, Naraka."
"Kita masih mau hidup."
"Jangan bunuh kita, Naraka."
Naraka hanya mendesis, suara sahutan permintaan maaf membuatnya muak. Berbondong-bondong memohon maaf, tetapi sayangnya nasi sudah menjadi bubur. Tidak ada kesempatan yang akan diberikannya.
"Terlambat! Terlambat berjam-jam yang lalu."
"Bawa dia ke depan gue," tunjuknya pada pemuda yang mendapat bogemannya tadi pagi.
Tamat sudah nasib mereka. Naraka sudah memulai pembalasannya.
***
Linka mengeliat mengerjapkan mata melihat disebelahnya teryata sudah kosong. Ia bangkit duduk menatap kedepan sebelum pergi ke luar mengambil makan. Perutnya terasa lapar saat ini jam di kamar sudah menunjukkan pukul 3 sore cukup lama ternyata tidurnya tadi.
Selimut tersibak, kakinya menyentuh lantai yang dingin. Berdiri dengan kaki yang gemetar, efek belum makan dari tadi pagi. Tangannya memegang dinding, hingga pintu terbuka menampilkan punggung Naraka. Pemuda itu berbalik membawa nampan berisi makanan untuk Linka.
"Siapa yang nyuruh lo berdiri, gue udah bilang istirahat," kesal Naraka.
"Aku lapar,," balas Linka.
Naraka meletakkan nampan makanan pada nakas, kemudian menghampiri Linka mengangkatnya dengan mudah karna terlalu lama jika hanya membantu Linka berjalan. Meletakkan dengan perlahan di ranjang. Naraka berdiri disebelah Linka mengambil piring makanan tadi lalu memberikanya.
"Makasih," ucap Linka.
"Hmm."
Naraka berjalan menuju mejanya mengambil laptopnya yang tertinggal tadi, Linka makan dalam hening sesekali melihat Naraka yang sedang mengitak atik laptopnya.
Baru beberapa suap Linka sudah merasa kenyang, padahal tadi perutnya terasa sangat lapar. Akhirnya ia meletakkan piring di nakas. Kembali berbaring memunggungi Naraka.
Laptop ditutup, Naraka telah selesai dengan urusannya ia berbalik menatap Linka yang tengah tertidur, melihat makanan yang hanya tersentuh sedikit. Ia berjalan mendekat mengambil piring tadi membawanya ke bawah.
Menuju dapur yang masih terdapat banyak maid yang sibuk memasak.
"Besok jangan memasak itu lagi," ucap Naraka meletakkan piring milik Linka tadi.
"Apa ada yang salah Tuan Muda." Pekerja dapur sudah ketar ketir, apa terjadi masalah dengan masakannya.
"Linka gak terlalu suka dengan makanan itu." Naraka berbalik kembali keatas.
Linka masih dalam posisi yang sama, Naraka mendekat duduk disebelah Linka.
"Besok gak usah berangkat dulu, gue bakal pergi buat beberapa hari. Lo boleh keluar tapi dalam pengawasan bodyguard. Ponsel lo udah gue buang dan gue ganti. Gue taruh di nakas. Gue pergi dulu," pamit Naraka. Ia tau Linka masih terjaga dan hanya pura-pura tidur.
Naraka keluar ia kembali menuju markas, misinya akan segera diselesaikan dalam waktu cepat. Ia tak ingin membuang waktu. Didepan rumah dengan sigap bodyguardnya membukakan pintu mobilnya.
"Jaga Linka, berikan apa yang dia butuhkan. Laporkan setiap kegiatan yang dilakukan," titah Naraka.
"Baik, Tuan Muda."
Naraka menutup pintu mobil, melajukan mobilnya meninggalkan kediaman mansionnya. Naraka meraih ponselnya saat panggilan masuk. Menempelkannya pada telinga tanpa melihat siapa yang menelpon.
"Gue lagi di jalan menuju markas."
KAMU SEDANG MEMBACA
Naraka's (Revisi)
ContoBagaimana jika Linka cewe lemah bertemu dengan Naraka manusia yang berhati iblis? 21+ mature content Jangan report cerita orang Minggir jika tak suka Plagiat minggir Start : 5 march 2022 End : 29 agustus 2022 #1 in oneshoot 29/5/2022 #1 in bad 2/6/2...
