48

63.2K 3.4K 556
                                        

BAB 48

Linka baru saja mengantar Naraka keluar di depan rumah. Senyum yang semula mengembang saat mengantar cowok tersebut langsung hilang. Ia menatap sekeliling kamarnya, meneliti setiap sudut yang akan ia tinggalkan. Jika ditanya mengapa, Linka sudah hampir seminggu ini mendapat bisikan yang menyeramkan dan setiap kali matanya menatap cermin. Adegan di mana potret dirinya berdarah dan tercabik terus berputar menertawakannya.

Ia mencoba bertahan, tetapi puncaknya tadi pagi setelah ia bangun tidur. Obat-obatan yang ia dapat tak menghalau rasa sakitnya, kecuali obat tidur. Linka berjalan menuju laci meja riasnya, menggenggam satu botol racun sianida yang ia beli secara ilegal beberapa hari lalu. Matanya menatap botol dalam genggaman dengan tekat.

Tadi pagi adalah masakan terakhirnya, masakan spesial darinya untuk Naraka. Ia sengaja bertingkah baik-baik saja agar cowok itu tak berpikir hal buruk. Namun, ia tak bisa bohong, jika dirinya tak tahan lagi. Matanya menyorot pada kaca di depannya. Kembali bayangan serta suara untuk menyuruhnya bunuh diri.

Linka, kamu berdosa. Kamu bersalah atas kematian Hiero.

Kebodohanmu adalah penyebab bayi tak berdosa itu mati.

Ayo, minum racun pada botol itu hingga habis. Maka ketenangan akan kamu dapatkan.

Bayangan dirinya tertawa dengan kencang, memenuhi kepala Linka. Lalu kembali adegan berdarah menjadi tontonannya hari ini. Bisikan-bisikan itu terus menggema, memenuhi kepalanya.

"Enggak, aku gak salah!" teriak Linka.

Linka sampai menutup telinganya agar suara jeritan itu hilang, tetapi hal itu sia-sia.

"Maafin Mama, Hiero."

Mati Linka, untuk penebusan dosamu. Kamu harus bunuh diri.

Kesedihan Naraka adalah kesalahanmu.

Kamu telah membuat bayi yang tak berdosa mati sia-sia.

Harusnya kamu saja yang mati bukan Hiero.

Ayo, minum racun itu dan susullah Hiero, perintah bayangan tersebut.

Linka dengan gemetar mulai membuka tutup botol tersebut. Menenggak cairan beracun. Ia merasakan cairan mengalir panas di lehernya, tangannya segera menyambar air dalam gelas kemudian menenggaknya menetralisir rasa pahit di mulutnya, mendorongnya agar tak memuntahkannya.

"Mama akan menyusulmu, Sayang." Racun sudah tertelan sempurna menuju lambung Linka.

"Maafin aku, Naraka. Aku akan menyusul Hiero dan merawatnya di sana."

Jantungnya mulai berdenyut tak nyaman, organ tubuhnya terasa terbakar, mungkin efek racun mulai bekerja. Linka memegang dadanya yang terasa dihantam ribuan ton beban berat. Napasnya mulai terengah, ia bahkan memukul dadanya guna mengurangi rasa sesak, bahkan ia terus menggeram kesakitan dalam setiap helaan napasnya bahkan berulang kali tubuhnya mengejang, merespons racun yang menggerogotinya.

Linka mulai merasa pandangannya menggelap, napasnya mulai putus-putus, tubuhnya terasa seperti menelan bara api dan jantungnya terus berdenyut melamban. Matanya sukses terpejam, jantungnya juga sudah berhenti berpacu. Linka wanita lemah itu mengakhiri hidupnya dengan cara yang menyedihkan. Jika kalian tanya bagaimana perasaan seorang ibu yang kehilangan anaknya, maka ia akan mengatakan sangat sakit melebihi kematiannya sendiri.

***

Naraka mematung setelah berhasil mendobrak pintu kamarnya. Ia melihat Linka yang terbaring dengan beberapa obat tidur yang tercecer. Cowok itu tak bisa bergerak, dalam sekali lihat ia bisa menyimpulkan apa yang terjadi.

Naraka's (Revisi)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang