40

75.5K 3.7K 232
                                        

BAB40

"Lo sembunyiin di mana istri gue?" tuduh Naraka dengan tiba-tiba, Alran pemuda yang sedang bermain PS seorang diri, hanya menatap tak paham pada cowok tersebut. Anggotanya tengah berada di belakang rumah, tepatnya berenang di siang buta. Sementara sang ketua adalah salah satu klan vampir yang takut pada matahari, lebih tepatnya takut kusam.

Alran meletakkan stiknya dan mematikan layar datar tersebut. Ia berdiri, menatap tak paham pada Naraka, "Kali ini bukan ulah gue. Lo tahu gue, Naraka. Gue gak main kotor dengan bawa orang spesial lo, gue lebih suka nyulut lo dan baku hantam sama lo langsung," balasnya dengan tenang.

Naraka menangkup wajahnya, ia duduk di sofa sebelah Alran. Cowok itu tahu, bukan Alran kali ini yang berulah, tetapi ia tak bisa berpikir sama sekali tentang siapa dalang di balik hilangnya istrinya.

"Gue buta, Al. Gue gak tahu siapa yang bawa istri gue kali ini," balas Naraka.

"Yakin lo? Siapa tahu dia bohong," timpal Jovan yang masih memicing curiga.

"Lo jangan bohong, dah, kita udah biasa lihat lo yang suka cari masalah sama Naraka," timpal Elios.

"Yakin bukan lo yang bawa Linka?" Bryan ikut bersuara.

"Woho, tenang, Dude. Jangan asal hakim sendiri, gue juga gak bakal buat masalah sama istri sepupu gue yang manis dan cantik itu, bisa dibakar sama Om Kelvan kalo mantunya kenapa-kenapa. Apalagi sama Tante Diana, bisa kena gantung depan rumah gue nanti." Alran bergidik membayangkan dirinya digiling oleh Kelvan dan Diana, tantenya yang lembut tersebut. Apalagi jika Grizella, sahabat laknatnya ikut marah jika ia mencelakai Linka.

"Sepupu?!" teriak mereka bebarengan.

"Iya, lo gak lihat muka kita sebelas dua belas gini?" ejek Alran merangkul Naraka yang tengah pening.

"Minggir, dah. Mending sekarang lo bantuin gue nemuin Linka," ucap Naraka menyingkirkan lengan Alran.

"Oke, bentar ikut gue ke ruang rahasia," ajak Alran berdiri memasuki salah satu ruang yang penuh dengan layar pipih besar dengan berbagai fungsi dan keyboard.

"Welcome to the hell, guys." Alran merentangkan tangan seolah memamerkan semua alat hacker-nya. Elios dan Bryan sampai ternganga, mereka hanya bermodal sebuah komputer, sedangkan Alran hampir paket komplit dan idaman bagi setiap manusia yang haus akan dunia hacker.

"Gilaa!" kagum Elios, jarinya menyentuh layar besar yang bergantung.

"Cepetan, gak usah pamer lo," kesal Naraka mengeplak sepupunya yang tengah pamer harta.

Alran mulai melacak dari mulai CCTV depan jalan rumah Naraka. Layar tersebut mulai muncul, sebuah rekaman Linka yang tengah berjalan gontai tarpampang. Naraka menyentuh layar tersebut, ah hatinya terasa nyeri melihat gambar istrinya yang tengah kalut.

Hingga Linka duduk di halte setelah bertelepon, sesekali tangannya mengusap air mata yang berjatuhan.

"Parah, kalo Om Kelvan tahu mantunya ilang, lo bisa digiling," celetuk Alran. Bisa ia bayangkan akan berbentuk apa sepupunya itu ditangan Kelvan.

"Diem, mending lo buruan kerja."

"Cih, dibantu bukannya terima kasih." Tak urung, Alran terus memutar hingga sebuah mobil hitam berhenti di depan Linka. Ia memperbesar nomor plat yang sialnya tengah kosong.

"Tuh, tuh, lihat!" teriak Jovan heboh dengan pemuda yang menawari Linka untuk masuk ke mobil.

"Lo kerasa gak asing sama cowok itu gak, sih?" Celetuk Elios.

"William," ucap Naraka.

"William Reksagana." Bebarengan dengan Bryan.

"Wait, siapa doi?" tanya Elios yang kelewatan tak tahu.

Naraka's (Revisi)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang