Disebuah kamar terdapat seorang perempuan yang tengah terlelap. Naraka masih duduk disebelah Linka yang tertidur karna kelelahan menangis, sisa aliran air mata masih terlihat di pipi.
Ia mengusap kembali perut Linka yang masih terlihat datar. Menghapus sisa genangan air mata di sudut matanya. Semua sudah terjadi, penyesalan hanya akan membuat orang kesulitan bergerak. Yang terpenting adalah tanggung jawabnya untuk tetap melindungi Linka dan anaknya nanti.
Sekarang yang ia butuhkan adalah menyegarkan diri mencuci muka bisa mengembalikan kewarasannya. Naraka membuka pintu kamar mandi, di lantai berceceran 3 buah alat test pack ia memunguti semua melihat hasil yang menandakan Linka memiliki malaikat kecil di tubuhnya saat ini. Hatinya berdesir melihat alat tersebut, ia akan lebih mengawasi Linka karna kondisinya belum stabil dan belum menerima kehadiran malaikat kecilnya.
"Naraka what are you doing now?" Mencuci muka beberapa kali, menatap pantulan dirinya. Linka lebih menderita, perempuan itu korban kebejatannya.
Setelah selesai ia segera keluar menuruni tangga menyetop salah satu maid, "Nanti antar makanan ke kamar, jangan pedas atau asam. Tolong awasi dia, lapor pada saya jika Linka berbuat nekat," titah Naraka.
"Baik, Tuan Muda."
Cowok itu berdiri di depan gedung perusahaan milik keluarganya. Ia sudah siap menghadapi amukan papa dan mamanya. Kakinya melangkah memasuki gedung pencakar langit itu. Ia mengangguk sopan ketika disapa pegawai papanya, hampir semua tahu jika ia pewaris tunggal perusahaan sang papa.
"Papa ada?" tanya Naraka pada sekretaris papanya.
"Tuan Zirion sedang berada di dalam ruangan, Tuan Muda," balasnya lalu tersenyum sopan.
"Terima kasih."
Naraka mengetuk beberapa kali, setelah mendapat sahutan dari dalam, ia segera masuk. Di ruangan tersebut, terdapat seorang pria yang wajahnya masih tetap tampan meski sudah berusia 45 tahun. Kelvan Zirion Sadr, ayah Naraka.
"Ada masalah apa lagi kali ini?" tanya Kelvan menatap sengit anaknya.
Bagaimana tidak, Naraka hanya akan menghampirinya jika ada masalah, lalu melupakannya jika sudah bahagia. Anaknya itu seperti kacang lupa kulit. Untung masih ada istrinya atau Mama Naraka yang setiap menemaninya. Anak satu itu memang tak tau di untung jika bukan karnanya Naraka tak akan ada di dunia ini, benar atau benar?
"Naraka mau menikah. Naraka cuma mau bilang, gak minta restu dari Papa," ucapnya dengan nada yang kelewat santai. Tak ada rasa takut jika Papanya terkena serangan jantung mendadak.
"Dasar anak durhaka kamu! Jangan bilang kamu nyekap anak orang, terus kamu hamili dan sekarang baru tanggung jawab!" kesal Kelvan, sudah ia bilang Naraka itu kacang lupa kulit. Mana ada mau nikah cuma bilang dan tak meminta restu.
"Papa mata-matain Naraka?!" Naraka menatap nyalang sang papa jika benar pria itu memata-matainya.
"Jadi benar?" rahang Kelvan terjatuh. Ia mengusap wajahnya kasar dengan tebakannya tadi, padahal ia hanya menebak, ternyata tebakannya adalah fakta.
"Benar. Bagaimana Papa tahu?"
"Sini Son, peluk Papa." Kelvan melambaikan tangan, menyuruh anaknya itu mendekat. Tak lupa merentangkan lengannya, berharap Naraka akan menyambut tindakan tersebut.
"Males, Pa. Udah, kan? Naraka mau pulang, takut calon mantu Papa sama calon cucu Papa kenapa-kenapa." Cowok itu kemudian berlalu tanpa menunggu persetujuan Kelvan.
Kelvan hanya bisa berdecak. Anaknya itu memang kelewat bandelnya. Sama seperti dirinya kala muda, bahkan kelakuannya pun sama.
"Like father like son," ucap Kelvan putus asa. Bagaimana Naraka bisa meniru persis tindakannya saat muda dulu. Benar tebakan kalian, Kelvan dan Mama Naraka dulu juga seperti itu, ia mengikat istrinya dengan insiden yang sama dengan Naraka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Naraka's (Revisi)
Historia CortaBagaimana jika Linka cewe lemah bertemu dengan Naraka manusia yang berhati iblis? 21+ mature content Jangan report cerita orang Minggir jika tak suka Plagiat minggir Start : 5 march 2022 End : 29 agustus 2022 #1 in oneshoot 29/5/2022 #1 in bad 2/6/2...
