BAB39
"Nona, ada paket atas nama Anda," ucap pelayan.
"Dari siapa?"
"Tidak tahu, Nona. Tadi kurir yang antar dan tanpa nama pengirim." Linka mengambil kotak tersebut, lalu mengucapkan terima kasih.
Linka membawa kotak tersebut menuju ruang tamu. Ia memandang berulang kali, seingatnya ia sedang tak membeli barang online apa pun. Karena rasa penasaran yang tinggi, dengan degup jantung yang berpacu Linka mulai meraih simpul pita tersebut.
Tangannya mulai mengangkat tutup kotak tersebut, kotak masih tertutup koran, potongan koran ia singkirkan. Ia mengambil foto tersebut, matanya memicing memastikan. Dirinya tak mungkin salah melihat potret tersebut.
Sesak? Bahkan matanya sudah memanas sekarang. Ada beberapa lagi foto yang bertebaran di dalam kotak. Ia memunguti semua menjejer foto tersebut di meja.
"Naraka." Ingatannya jadi terlempar saat Naraka pulang pagi dengan wangi parfum manis yang menempel di bajunya.
Naraka yang tengah tidur dipeluk wanita lain, Linka tak sanggup lagi melihat ini semua. Naraka yang dicium oleh wanita lain. Bahkan tangannya sudah gemetar sekarang, ia buru-buru bangkit mengambil ponsel dan tas berisi kartu kreditnya. Ia mengambil kardigan, kalu keluar dari rumah.
"Nona mau ke mana?" tanya pengawal yang berjaga di depan.
Linka menarik napas, mencoba menata supaya tenang dan lolos. "Aku mau keluar sama sahabatku, mereka udah di depan."
"Oh, baik, Nona. Hati-hati di jalan," ucapnya dengan percaya.
Ia mengangguk, segera melangkah dengan cepat dan tenang. Setelah lepas dari gerbang besar rumah tersebut barulah Linka bernapas lega. Kakinya melangkah tak tentu arah, ia mencoba mendial nomor Olivia berharap sahabatnya tersebut akan mengangkat panggilannya. Tidak mungkin ia pulang ke rumah lamanya, Naraka pasti akan menerobos masuk seperti dulu.
Bunyi ketiga suara panggilan akhirnya terjawab.
"Halo Linka, ada apa?"
"Oliv, aku bisa main ke rumah kamu? Kamu lagi di sekolah?"
"Boleh, kebetulan gue lagi gak masuk, baru pulang dari luar kota tadi pagi, mau gue jemput?"
"Ah, gak perlu, aku dateng sendiri."
"Hati-hati di jalan, Cintaku," balas Olivia.
Setelah itu, Linka buru-buru mengakhiri panggilannya. Ia berjalan menuju halte, air matanya sudah meluruh sejak tadi. Perutnya kembali terasa keram, saat ia akan memesan ojek online membuat ia urung melakukan itu.
"Tarik napas, embuskan. Kita kuat, ya, Sayang." Linka mengusap perutnya sayang. Mencoba menetralisir rasa yang menusuk, bayinya seolah paham dengan perasaannya sekarang. Rasanya menjadi berkurang setelah beberapa menit. Ia baru akan memesan hingga suara seseorang mengalihkan perhatiannya.
"Linka, lo mau ke mana?" tanya sosok itu.
"Ke rumah Olivia," balasnya dengan tenang.
"Mau gue anter? Kebetulan rumah gue satu blok sama Olivia," tawar sosok itu kembali.
"Gak usah, nanti ngerepotin."
"Udah, gak pa-pa, yuk masuk." Cowok itu meraih lengan Linka untuk memasuki mobilnya yang terparkir tak jauh dari tempat Linka.
Linka duduk dengan tenang tanpa menimbulkan rasa curiga apa pun. Cowok itu menyodorkan minum pada Linka yang diterima dengan tenang.
"Minum dulu, gue tahu lo lagi gak baik-baik aja," ucapnya. Kemudian melajukan mobil saat Linka meminum air itu dengan tanang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Naraka's (Revisi)
Short StoryBagaimana jika Linka cewe lemah bertemu dengan Naraka manusia yang berhati iblis? 21+ mature content Jangan report cerita orang Minggir jika tak suka Plagiat minggir Start : 5 march 2022 End : 29 agustus 2022 #1 in oneshoot 29/5/2022 #1 in bad 2/6/2...
