BAB 41
Linka telah menyelesaikan makannya, entah itu ada obat ataupun tidak tapi ia percaya makanan tersebut aman. Ia mencoba mendekati jendela berharap bisa keluar dari sana, namun sial saat menyibak tirai ternyata jendela tersebut terdapat jeruji yang mengamankannya. Ia baru sadar jika kamar ini berada dilantai atas. Terlihat jarak antara halaman bertanah sangat jauh.
Kakinya melangkah menuju pintu dan ternyata kamar mandi juga sama tanpa lubang untuk kabur. Ia mendesah kembali duduk di ranjang sambil memikirkan ide apa yang akan ia lakukan untuk kabur.
Sebuah ide kini bersarang pada otak Linka, ia menggigit bibirnya, jika hal ini tak berhasil maka hilang sudah kesempatan terakhirnya. Pertama-tama, Linka masuk ke kamar mandi lalu membasahi mukanya agar terlihat berkeringat. Kemudian ia menuju pintu utama, tangannya menggedor berulang kali, tak lupa ekspresi kesakitan dan ringisan suara ia ucapkan.
"William tolongg, akh!"
"William, perutku sakit!" teriak Linka. Lalu. Ia mendengar suara langkah, tak berselang lama, terbukalah pintu tersebut. William, cowok itu ikut berjongkok menatap Linka yang tengah meringis sambil memegang perutnya.
"Linka, lo kenapa?"
"William, please, perut aku sakit." Linka memegang baju William, meremasnya dan menatap dengan wajah yang penuh kesakitan.
"Kita ke rumah sakit. Lo gak boleh kenapa-napa untuk saat ini, sebelum Naraka dateng buat lihat lo yang gue siksa," ucap William, lalu mengangkat Linka.
Jantung wanita tersebut berdetak kencang merasakan adrenalinnya yang terpacu. Ia meremas lengan William dan terus berakting meringis.
"Sst, sakit, Will," desis Linka.
Mereka memasuki mobil lalu pergi, Linka masih saja berpura-pura meringis hingga ia mendengar suara tawa menggelegar pemuda di sebelahnya.
"Lo pikir gue percaya dengan akting murahan lo, Linka?"
William menatap Linka dengan tajam membuatnya meneguk ludah kasar. Ia ketahuan saat ini, rencana yang akan kabur saat tiba di rumah sakit pupus sudah.
"Kita menuju ke tempat eksekusi," perintah William pada supir yang dibalas anggukan.
"William lepasin aku!" teriak Linka.
"Diam, Linka!" bentak William
Wanita tersebut bungkam, ia menatap keluar jendela, mereka semakin jauh ke arah hutan, entah bagian wilayah mana William akan mengeksekusinya. Mobil berhenti di sebuah bangunan tua, bahkan kesan horor di sekitanya sudah terlihat. William menyeret Linka tanpa perasaan menuju dalam gedung.
"Akh!" teriak William mengibaskan tangannya yang digigit oleh Linka. Wanita tersebut segera berlari menjauhi Willian.
"Kejar wanita sialan itu," perintah William.
Linka terus berlari meski agak susah, ia berharap ada mobil untuknya menumpang, di belakang sana terlihat para orang William yang mengejarnya. Jantungnya berpacu, napasnya bahkan sudah tersengal. Kehamilan ini memang membuatnya mudah lelah. Hingga Linka kehilangan keseimbangsnnya dan sialnya entah kapan ia sudah kembali tertangkap oleh orang suruhan William. Ia sudah tak bisa melawan, energinya terkuras habis hanya berlari tak jauh. Mereka kembali menyeret Linka, ia merasakan kakinya yang terluka karena gesekan permukaan kasar.
"Lepaskan aku, tolong, aku mohon," pinta Linka pada kedua orang yang memegang tangannya.
"Diam. Setelah Tuan William membunuhmu baru kami akan melepas mayatmu," ancamnya yang sukses membuat Linka bungkam.
Ia berjalan dengan diseret, kakinya sudah mati rasa. Di depan gedung, William menyeringai penuh kemenangan melihat Linka yang diseret. Saat mereka sudah di membawa Linka ke depannya, William mengusap pipi Linka dengan penuh tekanan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Naraka's (Revisi)
Short StoryBagaimana jika Linka cewe lemah bertemu dengan Naraka manusia yang berhati iblis? 21+ mature content Jangan report cerita orang Minggir jika tak suka Plagiat minggir Start : 5 march 2022 End : 29 agustus 2022 #1 in oneshoot 29/5/2022 #1 in bad 2/6/2...
