25

178K 7.3K 236
                                        

BAB 25

Serentetan acara telah selesai. Semua tamu juga sudah pulang ke rumah masing-masing. Sementara pasangan kita memilih untuk menginap di hotel sekaligus honeymoon. Tidak ada malam pertama setelah menikah, karena Naraka yang melihat Linka sangat kelelahan setelah serangkaian acara tadi. Ia membiarkan wanitanya tidur dan beristirahat dengan nyaman.

Fuck you, malam pertama yang penting Naraka bisa setiap malam bersama Linka itu lebih dari cukup.

Hotel dengan pemandangan yang mengarah pada pantai, Naraka memang sengaja memilih tempat ini karna nyaman dan bagus. Ia ingin terus memberi kebahagiaan pada Linka, menghujaninya dengan kasih dan harta, wkwk.

Hari sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi, Naraka sudah terjaga sejak tadi. Sementara Linka masih nyaman tenggelam dalam pelukan Naraka. Netra cowok itu tak henti menatap istrinya yang terlelap nyaman. Tangan Naraka terulur mengusap kepala Linka. Senyum tipis Naraka tersungging melihat Linka yang nyaman padanya.

Cinta memang datang tanpa permisi. Meski di antara mereka belum ada yang menyatakan cinta, tetapi tak mengapa, kata hanya sebuah pemanis yang terpenting adalah bukti dan tindakan nyata akan rasa itu. Jika terlempar ke masa lalu, apakah Naraka akan mengulang kelakuan bejatnya untuk mendapatkan Linka? Mungkin iya, mungkin juga tidak.

Mata Linka mengerjap, pandangan mereka saling terkunci. Benar kata orang, pemandangan termanis adalah pasangan ketika bangun tidur. Naraka adalah pemuda versi tak pernah jelek meski baru bangun. Linka memuji ketampanan Naraka dalam hati. Mungkin jika otak Naraka kosong, setidaknya ketampanannya akan menutupi kekosongan itu.

"Udah puas lihatnya? Aku gak bakal hilang. Ganteng, ya, suaminya? Sampai ilernya keluar, tuh," kekeh Naraka, Tangan Linka dengan cepat mengusap sudut bibirnya dan ternyata Naraka membohonginya. Sementara si pelaku sudah memegangi perutnya, tertawa melihat ekspresi Linka yang mudah ditipu.

"Ih, bohong kamu, ya." Linka memukul Naraka menggunakan kedua tangannya. Bisa-bisanya ia mudah dibohongi, tetapi kenyataannya, dirinya memang bodoh sekali.

"Ampun, Sayang. Iya, gak lagi-lagi bohong, deh," ucap cowok itu meski pukulan Linka tak berasa.

"Rasain, salah siapa bohong terus. Bikin kesel doang kamu, mah."

"Siapa suruh mudah dibohongi?" ejek Naraka, terlihat puas berhasil mengerjai istrinya.

"Apa kamu mau aku pukul lagi?" Linka sudah akan mengangkat tangan, tetapi Naraka segera menahan.

"Iya, iya, enggak. Bumil sensi banget. Sayang, lihat mamamu dia lagi KDRT sama Papa, kamu harus marahi Mama biar gak galak-galak sama Papa," ucap Naraka seraya mengelus perut Linka.

"Minggir, ah. Aku mau mandi." Linka segera menyingkirkan tangan Naraka dari perutnya, kemudian berjalan cepat menuju kamar mandi meninggalkan Naraka yang semakin tersenyum lebar.

"Lucu banget kalo lagi malu."

***

Seusai sarapan, Linka dan Naraka pergi ke pantai. Linka tampak girang bermain dengan pasir dan juga ombak-ombak kecil yang menyapa kakinya.

"Pantainya bagus banget!" teriak Linka kegirangan.

Tangannya sesekali mencipratkan air pantai tersebut. Tanpa sadar Linka terus berjalan mendekat ke dalam air, tetapi lengannya tertahan oleh Naraka.

"Jangan deket-deket air," cegah Naraka.

Linka hanya tersenyum polos. "Lupa, habis airnya bagus banget. Aku jadi gak sadar kalo semakin ke dalam."

"Iya, tahu. Tapi, bahaya kalo kamu sampai keseret arus," nasihat Naraka. Ia baru tahu sisi Linka yang seceria ini. Namun, Linka malah melempar cengirannya yang membuat cowok itu terpaku saking terpesonanya.

Naraka mengerjap saat merasa ada cipratan air yang mengenai wajahnya. Tautan tangan mereka terlepas saat Linka berlari mundur. Lidah Linka terjulur mengejek Naraka.

Cowok itu merasa gemas dan berusaha mengejar sang istri

"Awas kamu, ya. Aku bales nanti," ucap Naraka. Mereka terus bermain kejar-kejaran, Naraka mencelupkan tangannya yang tertangkup ke dalam air. Kemudian mencipratkan Linka hingga baju yang cewek itu kenakan basah.

"Banyak banget, ih. Jadi basah, kan." Mereka akhirnya bermain ciprat-cipratan hingga baju keduanya basah.

"Udah, ah. Capek," ucap Linka memegang lututnya.

"Ayo ke sana, kita istirahat dulu, kamu keliatan lelah banget," tunjuk Naraka ke arah pohon yang berada di pantai. Tangannya mengusap peluh di dahi Linka yang menetes.

Linka berjalan di sebelah Naraka sambil memegang ujung baju suaminya itu. Matanya mengerjap beberapa kali memokuskan pandangannya.

"Linka, ada yang sakit?" panggil Naraka setelah berhasil meraih pinggang Linka, menahan badan istrinya yang hampir terjatuh.

"Gak pa-pa, cuma sedikit pusing," balas Linka memegang lengan Naraka.

"Kamu kelelahan pasti, akhir-akhir ini kamu sering kelelahan. Apa mau periksa ke dokter?"

"Gak usah, nanti istirahat juga sembuh," balasnya. Ia memang tak terlalu suka dengan rumah sakit, selama perawatan masih bisa dilakukan di rumah, ia tak akan sudi menginjakkan kaki di sana.

Naraka memilih mengangkat badan Linka dalam gendongannya. Mencegah kemungkinan wanita tersebut jatuh atau tak sadarkan diri.

Linka mengalungkan tangannya. Lagi pula, ia juga lemas jika harus berjalan lebih. Mereka yang awalnya akan beristirahat di tepi pantai sambil menikmati minum dan melihat sunset, akhirnya kembali ke hotel. Kesehatan Linka lebih utama bagi Naraka.

Naraka membaringkan Linka di atas ranjang dengan pelan. Menarik selimut hingga ke atas perut. Cowok itu duduk di tepi ranjang, lalu mengusap kepala sang istri.

"Lain kali jangan sampai kecapekan, kalo sekiranya udah mulai capek, langsung istirahat. Kalo kamu sampai kenapa-kenapa, aku juga khawatir. Inget kesehatan kamu sama bayi kita adalah keuatamaan aku saat ini." Naraka kembali menasihati istrinya itu.

"Maafin aku, ya. Jadi bikin kamu khawatir," balas Linka merasa bersalah.

"Aku gak perlu permintaan maaf kamu, Linka. Yang aku perlukan, kamu tetap jaga diri, jangan bikin khawatir kek gini. Kamu harus terus baik-baik aja di samping aku, kamu udah jadi tanggung jawab aku sekarang."

"Iya, gak lagi kayak gini, jangan marah terus, ya."

Naraka menarik napas, kemudian mengembuskannya. Menarik Linka dalam pelukannya, meletakkan dagunya di atas kepala Linka.

"Aku gak marah, cuma khawatir sama kamu."

Linka membalas pelukan Naraka, hangat. Cowok yang menjadi suaminya memiliki pelukan yang hangat dan menenangkan. Hingga bunyi perut Linka membuyarkan momen romantis mereka. Naraka terkekeh, sementara Linka sudah memerah malu.

"Laper, hmm." Naraka melepas pelukannya dan menemukan Linka yang malu.

"Udah tahu pake nanya, ih. Aku jadi tambah malu, kan," balasnya kesal, Naraka akhir-akhir ini suka sekali menggodanya.

"Aku beliin makan dulu," ucap Naraka berdiri keluar untuk mencari makanan untuk Linka.

Linka mengusap perutnya. "Daddy kamu makin Sayang sama kita. Mommy jadi bahagia semoga bahagia terus buat kita ke depannya, ya, Sayang."

***

Bersambung

Jangan lupa klik follow, vote dan komen. Serta tambah cerita ini ke reading list kalian.

Happy reading.

Follow ig : minniemalies

tiktok : minniewine

wattpad : minniewine

karyakarsa : minniewine

Naraka's (Revisi)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang