BAB 22
Minggu sore, adalah waktu yang menyenangkan untuk bermalas-malasan. Kini, Naraka memeluk Linka dalam posisi duduk bersandar. Tangannya mengusap kepala Linka yang bersandar di dadanya. Linka menyukai Naraka yang manis, tetapi sesuatu yang berlebihan juga tak baik, kan. Ia hanya takut saat semua terlalu manis dan bahagia, kemudian ia dijatuhkan kembali ke dasar jurang yang gelap penuh dengan rasa sakit dan kesedihan. Kepalanya menggeleng, mengenyahkan pemikiran buruk itu.
"Kenapa? Jangan geleng-geleng terus, nanti pusing." Naraka menghentikan gelengan kepala Linka.
"Gak pa-pa."
"Bohong, kamu kenapa? Bilang aja, gunanya aku jadi pasangan kamu, ya, juga untuk tempat berbagi keluh kesah, Sayang," paksa Naraka dengan suara yang mulai serius. Ia tak suka jika Linka memendam semuanya sendiri, lalu berbuat nekat. Hei, jantungnya masih rawan melihat sikap Linka yang nekat. Bisa-bisa Naraka mati muda melihat Linka pergi darinya.
"Takut." Linka tak berani menatap Naraka dan hanya menunduk. Jemari Naraka meraih dagu Linka, agar cewek itu mendongak dan menatap wajahnya.
"Takut apa? Ada yang jahat sama kamu? Bilang aja, biar aku hajar dia atau kalo gak, biar aku kirim dia ke neraka."
Linka menggeleng. "Takut kamu yang terlalu manis, takut hari ini terlalu bahagia terus besok kamu jadi jahat lagi atau gak hari besok, akan jadi tangisan buat aku."
Akhirnya ia paham, ini yang disebut sindrom ibu hamil, keadaan emosi Linka akan berubah dan naik turun sesukanya. Terkadang tertawa, marah, bisa juga sedih. Namun, Naraka lebih memilih Linka yang marah atau merajuk daripada yang sedih seperti ini.
"Lihat aku." Tangannya menangkup pipi Linka agar wanita itu menatapnya lebih dalam.
"Lihat, sekarang aku gimana?"
"Kamu ...," ucap Linka dengan pikiran yang masih bercabang.
"Aku baik dan manis, kan? Nah, aku akan terus begini, bukan janji, tapi ini tugas aku yang berusaha buat kamu gak sedih dan terluka. Kalo hari esok buruk, ingat satu hal, aku akan buat seribu kebahagiaan biar kamu gak sedih lagi." Ia bukan tipe pembual, dengan tangannya sendiri ia akan memastikan Linka aman dan nyaman.
"Kamu percaya, kan, sama aku?"
Linka melihat kesungguhan cowok itu. "Aku percaya."
Kali ini dan hanya satu kesempatan ini, ia membiarkan dirinya mempercayai Naraka. Jika satu kesalahan saja terjadi, Linka yang berdiri di ujung jurang akan langsung terjatuh ke dasar.
Naraka memeluk Linka, mencium dahi cewek tersebut lama. Ketakutan Linka yang akan menghantui dirinya sendiri. Tak salah memang, hidup dan menjadi pasangannya harus siap berada di situasi apa pun. Namun, ia tak akan membiarkan siapa pun menggores atau melukai miliknya.
Suara getaran ponsel milik Naraka mengalihkan perhatian kedua insan yang bermesraan tersebut. Cowok itu mendesis kesal, siapa yang berani mengganggunya saat ini? Dengan sebal ia menggeser tombol hijau tersebut tanpa melihat siapa peneleponnya.
Naraka memasang ekspresi menyeramkan setelah menerima panggilan itu. Rahangnya tampak mengetat dengan mata yang menyala penuh amarah, membuat Linka gemetar takut. Naraka yang sadar, langsung mengusap punggung Linka. Menjauhkan ponselnya sejenak.
"Maaf, aku terbawa emosi." Naraka mengecup bibir Linka sekilas. Kembali pada si penelepon Naraka mendengar semua yang disampaikan. "Oke, gue segera ke sana sekarang," putusnya, lalu mematikan sambungan telepon itu.
"Aku harus keluar sebentar, kamu jangan ke mana-mana. Nanti biar pelayan yang antar makanan buat kamu."
"Mau ke mana?" tanya Linka dengan wajah lesu.
"Markas, ada sedikit masalah. Kamu gak pa-pa, kan, aku tinggal dulu?" tanya Naraka memastikan, walaupun tanpa persetujuan ia akan tetap pergi.
"Jangan malem-malem pulangnya."
"Aku janji akan cepat pulang. Kalo ada apa-apa hubungi aku, oke." Naraka membenarkan selimut calon istrinya itu. "Aku pergi dulu."
"Hati-hati."
***
Naraka tiba di markas dalam keadaan yang ramai. Situasi tampak kacau, ada beberapa anak buahnya yang terluka. Kapan mereka bisa tenang sehari tanpa adanya gangguan dari luar? Ada saja insiden yang mengganggu kelompok mereka.
"Bawa ke rumah sakit, jangan sampai ada korban," titah Naraka yang langsung dilaksanakan oleh mereka.
Naraka menaiki tangga menuju ruangan berisi inti Poseidon. Di sana telah terdapat Jovan, Elios, dan Bryan—cowok itu masih membuat Naraka emosi, tetapi ia tak boleh mencampuradukkan masalah pribadi dengan kelompok. Bryan adalah salah satu sahabatnya yang paling kompeten. Sejauh apa pun pria itu melangkah, pemilik sejati Linka hanya dirinya, Naraka.
"Laporan."
"Beberapa anggota yang sedang menuju markas diserang oleh beberapa pemuda yang diduga adalah anggota Black Devil. Menurut CCTV yang gue retas tadi," ucap Bryan.
"Apa alasan geng cupu itu serang kita lagi kali ini?" kesal Jovan.
"Tumben anak-anak kalah?"
"Lo tahu mereka bawa senjata tajam dan luka gores mereka dapat tanpa persiapan apa pun," balas Elios.
Naraka mengangguk-anggukan kepalanya, mencoba mencari tahu apa lagi mau Alran kali ini. Kemarin sudah jelas cowok itu kalah balapan dengan Naraka.
"Apa rencana lo kali ini?" tanya Bryan saat melihat seringai Naraka kembali muncul.
"Mari kita main-main dengan Alran sebentar, sebelum kita hancurkan geng cupu itu," kekeh Naraka. Mereka bertiga ikut tertawa, lagipula mereka juga telah bosan bermain dengan nyamuk yang harunya dipukul sejak awal. Membiarkan nyamuk tetap hidup hanya akan membuat gatal karna terus menghisap darah dari kulit kita.
***
Linka baru menyelesaikan makan malamnya dan Naraka belum juga kembali, cowok itu sudah berjanji akan pulang cepat tapi apa faktanya. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan tapi Naraka tak kunjung pulang.
Ia mondar mandir di ruang tamu menunggu Naraka, sebenarnya ia tak tau alasan menunggu Naraka pulang. Mungkin ini karna bawaan baby yang ingin dekat dengan papanya.
Ingin menelfon Naraka tapi pemuda itu bilang telfon kalo ada apa-apa, sedangkan dia saat ini tidak kenapa-kenapa. Lelah berjalan mondar-mandir Linka memilih duduk di sofa menyalakan televisi.
"Nona Linka mau dibuatkan sesuatu?" Tanya salah satu maid.
"Enggak usah. Kamu bisa istirahat, aja," balasnya.
"Baik, saya undur diri."
Linka memencet terus remotnya mengganti acara tv yang membosankan. Ia menguap beberapa kali merasakan kantuk namun ia masih ingin menunggu Naraka.
"Lama hoammm... Banget, sih!" kesalnya.
Akhirnya ia tumbang terkalahkan oleh kantuknya. Televisi yang sekarang gantian menonton Linka.
Naraka memasuki rumah tepat pukul satu dini hari, ia melihat televisi yang masih menyala. Tumben para maid lupa mematikan tv, biasanya mereka selalu teliti. Naraka mendekati sofa hendak mematikan tv tersebut.
Melihat Linka yang ternyata terlelap di sofa, apa perempuan itu menunggunya jika benar Naraka merasa bersalah membiarkan Linka tidur dengan posisi tak nyaman dan dingin. Pemuda itu menggendong Linka membawanya ke kamar mereka. Meletakkan Linka dengan perlahan menarik selimut hingga ke dada.
"Night sweet heart," bisik Naraka mengusap kepala Linka.
***
Bersambung
KAMU SEDANG MEMBACA
Naraka's (Revisi)
Short StoryBagaimana jika Linka cewe lemah bertemu dengan Naraka manusia yang berhati iblis? 21+ mature content Jangan report cerita orang Minggir jika tak suka Plagiat minggir Start : 5 march 2022 End : 29 agustus 2022 #1 in oneshoot 29/5/2022 #1 in bad 2/6/2...
