Linka memaksakan diri berangkat sekolah, mengacuhkan saran Naraka agar dirinya tak bersekolah. Dirinya sudah cukup banyak membolos, ia tak mau tertinggal pelajaran yang hanya akan menghambat masa depannya nanti. Mereka menuruti Linka setelah perdebatan panjang tadi pagi. Mengingat hal itu membuatnya jengah, apa maksud Naraka sebenarnya? Meski cowok itu beberapa kali terlihat baik dan bahkan membelikannya ponsel baru, tetapi itu tak membuat Linka percaya dengan mudah.
Naraka bisa saja berubah kembali menjadi monster yang menyeramkan, menyiksanya, dan menyetubuhinya sesuka hati. Begitu malang nasibnya bukan, hidupnya hanya sendiri dan malah menjadi mainan Naraka. Cowok yang kemarin menolongnya saat dalam bahaya, tetapi bahaya itu juga sejatinya datang karena Naraka.
Linka berjalan memasuki sekolah, bisik-bisik terdengar di telinganya, tetapi ia acuhkan. Kakinya segera melangkah cepat menuju kelas yang sudah terisi oleh beberapa orang. Linka duduk di kursinya, menelungkupkan tangan dan menyembunyikan wajahnya, berharap jam belajar segera datang.
Olivia dan Grizella baru saja masuk ke kelas dan menemukan Linka yang sudah berada di kursinya. Keduanya segera menghampiri Linka. Olivia duduk di bangku kosong depan bangku Linka, sementara Grizella duduk di kursi kosong sebelah cewek itu.
"Linka, lo gak pa-pa?" tanya Grizella yang mendengar kejadian di toilet dari Bryan.
Linka mendongak menemukan wajah khawatir kedua sahabatnya. Senyum paksa Linka berikan, ia tak mungkin memberi beban pada keduanya.
"Semuanya baik-baik aja."
"Maafin gue Linka, harusnya kemarin nemenin dan jagain lo di toilet," ucap Olivia penuh sesal.
"Itu bukan salah kamu. Aku yang ceroboh kemarin dan gak bisa jaga diri sendiri."
"Harusnya kita bisa jagain lo," timpal Grizella.
Linka hanya menggeleng mereka tak salah. Semua ini bukan salah sahabatnya, ia tak suka melihat mereka merasa bersalah karena perbuatan yang bukan mereka lakukan.
"Tapi, syukur lo gak pa-pa, jantung gue sempet berhenti berdetak denger kejadian kemarin," ucap Grizella lagi.
***
Linka dan kedua sahabatnya sudah di kantin. Grizella sedang memesan makanan, sementara Linka dan Olivia memilih meja paling ujung, sengaja memilih meja itu karena malas menjadi pusat perhatian.
"Lo masih tinggal di tempat Naraka?"
"Masih, aku pengin pulang, tapi Naraka gak bisa dibantah. Dia selalu ada cara biar aku gak bisa pergi dari rumahnya," keluh Linka.
Meski rumahnya tak semewah dan sebagus rumah Naraka, tetapi Linka tetap merindukan rumahnya. Satu-satunya kenangan dari orang tuanya, Linka bersyukur mereka tak meninggalkan Linka hanya dengan rumah, tetapi dengan beberapa asuransi pendidikan dan tabungan masa depan yang cukup menghidupinya hingga lulus kuliah.
Keluarga orang tuanya? Entahlah, bahkan Linka belum pernah bertemu dengan mereka sejak kecil. Namun, kini orang tuanya pergi meninggalkannya di dunia mengerikan ini.
"Denger-denger Naraka bunuh siswa dari sekolah lagi," bisik salah satu siswi yang tak menyadari jika hal itu terdengar hingga ke telinga Linka.
Linka menajamkan pendengarannya. Apakah informasi itu benar? Ketakutannya akan semakin besar jika hal itu nyata. Bersinggungan dengan manusia gila dan tinggal satu atap dengan cowok berdarah dingin tersebut membuat bulu kuduknya berdiri.
"Iya, gue denger dari salah satu anak Poseidon. Gila, bukannya Naraka udah jarang bunuh anak sekolah kita, ya? Kenapa ini tiba-tiba buat ulah lagi."
"Katanya, sih, ada yang ngusik mainannya dan Naraka gak suka miliknya diusik."
KAMU SEDANG MEMBACA
Naraka's (Revisi)
KurzgeschichtenBagaimana jika Linka cewe lemah bertemu dengan Naraka manusia yang berhati iblis? 21+ mature content Jangan report cerita orang Minggir jika tak suka Plagiat minggir Start : 5 march 2022 End : 29 agustus 2022 #1 in oneshoot 29/5/2022 #1 in bad 2/6/2...
