MHIFOW|20

358 40 4
                                        

Belum 1 menit merasakan ketenangan. Seina sudah kembali masuk. Membuat semua pasang mata menatap dirinya yang sudah uring uringan dan sempoyongan.

Menyadari kedatangan Seina. Nana langsung berbalik. Mata yang tadinya penuh kelembutan disetiap tatapannya. Kini berubah menjadi mata serigala yang begitu tajam ingin menerkam.

"Masih belum cukup kata-kata saya?" Tanya Nana

* Hening * Seina hanya berdiri menunduk sembari terus menjatuhkan bulir bulir airmata.

"Silahkan keluar. Saya masih dengan cara baik-baik. Jadi, silahkan keluar sebelum saya menggunakan cara kasar." Lanjut Nana.

BRUKK!
Suara hempasan seseorang yang terkapar lemah dilantai. Membuat Nana, menatapnya. Seina tiba-tiba memeluk kaki indah itu. Memohon mohon seakan anak remaja yang diusir dari rumahnya.

"Saya minta maaf bu...hiks..."

"Saya minta maaf sebesar besarnya...hiksss..." Sambung Seina

"Saya tau saya salah...hiks...saya seperti tadi, k-karna saya sudah memiliki perasaan dengan pak Jergas sebelum ibu menikah sama dia." Sambung Seina terbata-bata.

"Saya tau, saya sudah seperti jalang, yang ada di tempat penyenang diluar sana." Sambungnya lagi

"Saya ngaku...saya memang perebut suami orang...t-tapi saya gini karna saya tidak pernah merasakan yang namanya disayangi dan di didik." Sambungnya membuat Nana membeku.

"Sejak saya baru lahir, bunda saya udah meninggal. Setelah itu, ayah saya ngebuang saya didepan panti. Bahkan, sampai sekarang saya saja belum pernah ngeliat makam bunda saya." Jelasnya tersendu sendu.

Nana yang tadi hanya diam, melepaskan tangan yang melingkar sempurna dikakinya itu dengan lembut. Mengusap lembut punggungnya yang terus bergetar.

"Saya minta maaf bu. Saya, benar-benar minta maaf." Sambungnya memegang tangan Nana lalu bersujud didepannya.

"Udah udah. Saya maafin kamu." Jawab Nana, mengangkat bahu Seina agar sejajar dengannya.

"Makasih banyak bu." Syukurnya mencium kedua tangan Nana.

"Setelah ini. Saya akan, pergi sejauh mungkin dari ibu." Jawabnya. Lalu dipeluk oleh Nana.

"Gausah, kamu disini aja. Apa hak saya usir kamu dari rumah kamu." Ibah Nana

"Cukup kamu, jangan mengulangi hal ini lagi." Sambungnya dengan senyum yang kembali melembut. Bukan lagi senyum remeh.

"Saya, berterima kasih banget sama Tuhan. Dipertemukan, dengan seorang perempuan yang baik hati, memiliki belas kasihan, tidak sombong dan lemah lembut seperti ibu." Jawabnya berkaca-kaca.

"Saya tidak mau menyombongkan diri, karna saya tau yang datang hanya titipan Tuhan dan pada akhirnya akan hilang juga." Balas Nana tersenyum tipis.

Seina yang sedari tadi berfokus pada Nana, beralih menatap Jergas. Bergeser tanpa berdiri. Meminta maaf atas apa yang telah ia lakukan padanya.

"Saya maafin kamu. Tapi, tolong jangan sampai kejadian tadi terulang kembali." Jawab Jergas.

"Bapak memang orang yang baik. Masih, bisa memaafkan saya yang sudah membuat bapak harus seperti tadi." Jawabnya lirih.

Setelah, adegan sendu yang terjadi. Seina berdiri menghapus air matanya. Lalu berpamitan kepada keluarga pemilik perusahaan besar tersebut.

"Saya pamit. Terimakasih atas, kesempatan yang telah diberikan untuk saya selama ini. Mohon maaf juga yang sebesar besarnya, untuk Pak Jovanda, Bu Irenna, Pak Mahendra dan Bu Basagita." Pamitnya melirik semuanya bergiliran, lalu menunduk.

My Husband Is Full Of Wealth | Jerose | ContinuedCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang