MHIFOW|24

354 36 1
                                        

5 tahun berlalu. Kini, Reinea sudah masuk Sekolah Dasar. Reno dan Revano sudah masuk PAUD. Dan, Reilyi juga sebentar lagi akan masuk PAUD.

"Sayang..." Panggil Nana, saat ia merasakan nyeri dibagian perutnya.

"A-akhhh." Nana meringis kesakitan. Lalu ambruk ke lantai.

"Kamu kenapa Naa?!" Tanya Jergas dengan raut panik bukan main.

"Perut aku sakit...aww." Nana merintih kesakitan rasanya perutnya seperti di tusuk benda tajam.

"Yaudah, yaudah kita ke rumah sakit!" Dengan cepat, Jergas melayangkan badan Nana ke udara.

☆☆☆

Setelah, memeriksa kondisi Nana. Dokter, itu mengambil selembar kertas. Dan hasil ronsen, mengamatinya dengan intens.

"Jadi, istri saya kenapa dok?" Tanya Jergas khawatir.

"Begini pak. Istri bapak, mengidap penyakit kanker rahim. Setelah, melahirkan anak ke empat. Terjadi, sesuatu yang membuat rahim istri bapak mengidap kanker." Jelas si dokter dengan serius.

Bak, ada yang menyayat hatinya. Tiba-tiba, air mata Nana meluncur begitu saja membasahi pipinya. "Kanker, saya sudah masuk stadium berapa dok?" Tanya nya dengan nada bergetar.

"Ini sudah masuk stadium dua bu. Jika, tidak terjadi pengangkatan rahim. Nyawa ibu yang akan menjadi taruhannya." Ujar si dokter.

"Bisa, lakukan malam ini juga dok?" Tanya Jergas menggebu-gebu.

"Bisa pak, silahkan urus administrasi nya dulu."

"Baik."

☆☆☆

"Aku gamau operasi..." Lirih Nana masih setia menggenggam tangan Irenna.

"Demi anak anak kamu Naa..."

"Mii...aku takut aku ga bisa bertahan." Lirihnya lalu menjatuhkan air matanya.

"Sstt, ga boleh ngomong gitu. Reinea masih SD, si kembar baru PAUD, Reilyi masih kecil. Kamu tega liat mereka tumbuh tanpa kasih sayang kamu?" Tanya Irenna. Nana menggeleng. "Yaudah, kamu percaya sama Tuhan. Tuhan ga mungkin liat anak-anak kamu gapunya ibu." Ujarnya. Nana mengangguk lalu menghapus air matanya.

"Mih, Jergas udah selesai." Ujar Jergas. Sedari tadi dia menahan untuk tidak menangis. Ia tak mau lemah di hadapan ke empat anaknya. "Sayang...di luar dulu yah. Mommy mau di periksa tuh." Ucapnya, lalu menunjukkan dokter yang tersenyum ramah dan Nana yang tersenyum lemah.

"Mommy, cepet yaa. Eilyi mau main lagi sama mommy sama kakak." Ucap Reilyi berjinjit agar dapat di tengok oleh Nana.

"Iya sayang. Mommy usahain yah. Kalo mommy keluar tapi lagi bobo, terus ditutup kain. Kuatin grandma, grandpa sama daddy ya." Ujar Nana menahan tangisnya.

"Naa..." Nada lesu Jergas, dengan tatapan memelas.

"Emangna kenapa momm?" Tanya Reilyi kembali.

"Mommy, mau ketemu Tuhan kalo lagi bobo." Ujarnya.

"Reilyi boleh ikut nda?" Tanya nya polos. "Eilyi disini aja. Temenin daddy. Biar daddy ngga nangis yahh."

"Naa, aku mohon." Ucap Jergas.

"Yaudah, Eilyi keluar dulu ya sama grandma." Pintanya mengelus surai hitam legam Elyi

"Oke mommy." Senyumnya.

"Yuk, kita main." Ucap Irenna lalu menggendong Eilyi keluar bersama Jergas.

"Baik. Sudah siap bu?" Tanya si dokter. "Siap dok." Jawab Nana.

☆☆☆

Setelah selesai, pengangkatan rahim. Sekarang, tinggal menjahit perut Nana kembali.

Tiba-tiba, suster di sebelah, dokter tersebut panik. "Dok, dok...melemah dok.". Paniknya. "Baik." Dokter tersebut mempercepat jahitannya.

Titt...tiiit...tiiit...
"Dokter! Tidak berdetak." Panik nya.

"Siapkan alat."

BUGG!
Badan Nana terangkat naik lalu kembali terhempas kebawah.

BUGG!
Badan Nana kembali terhempas.

BUGG!
Sekali hentakan kembali membuat badan Nana terhempas. Tiba-tiba alat tadi kembali berbunyi.

Tiiit...tiitt...titt
Dokter meletakkan alat tersebut. Lalu melipat tangannya kebawah.

Setelah, itu. Si dokter keluar dengan wajah. Menunduk.

"Gimana dok?" Tanya Jergas lalu berdiri dari duduknya.

"Maaf, pak istri bapak tidak bisa kami selamatkan. Kami, sudah berusaha semaximal mungkin." Ucap si dokter.

Jergas mematung tak percaya. Ia langsung tertawa kecil. "Dokter gausah bohong...istri saya pasti udah sadar kan." Elak Jergas.

"Saya tidak boh-"

"Dokter! Pasien kembali berdetak!" Teriak suster dari dalam ruangan yang gelap.

"Baik. Sebentar pak." Ucap dokter itu, lalu kembali masuk menutup pintu.

Dokter tersebut, langsung kembali menjahit perut Nana. Setelah selesai, lampu operasi dimatikan lalu lampu ruangan kembali dinyalakan.

"Syukur, Tuhan masih memberi kesempatan." Ucap si dokter berbicara dengan keluarga Nana.

"Saya boleh masuk dok?" Tanya Jergas.

"Silahkan, tapi bergantian ya bu pak." Ucap dokter tersebut dengan ramah.

☆☆☆

Setelah, kepulangan Nana, dari rumah sakit. Ia dijaga ketat oleh anggota keluarganya. Bahkan anaknya pun ikut berpartisipasi.

"Udah, udah. Kamu di tempat tidur aja. Gausah turun. Biar aku yang lap." Omel Jergas.

"Aku bosen, isshh di ranjang mulu." Dumel nya.

"Yaudah, ke taman sama mami." Ucapnya santai sembari terus mengelap air yang tumpah didekat kasur.

"Bosen." Nana mencolek colek lengan Jergas.

"Tunggu seminggu lagi Xylzie Roxxyanne Pratama." Cerocos Jergas.

"Humm, yaudah deh." Nana kembali ke posisi semula lalu mengambil ponselnya.

☆☆☆









































Satuu chapttt lagiii, terus kita ketemu di season twooooo😻.

Vote juseyo💭, see you next chapter😸💗

My Husband Is Full Of Wealth | Jerose | ContinuedCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang