15

15 1 0
                                    


Ardhani duduk di kursi samping ranjang kekasihnya, dia terus memandangi wajah letih Vishaka.

Dia tersenyum saat kedua kelopak mata itu terbuka secara perlahan-lahan menampilkan mata coklat tua yang indah.

Dia membantu Vishaka untuk duduk lalu memberikan air dan menyuapi makanan nya secara perlahan.

"Ada apa dengan wajah mu itu, Ardhani" Vishaka mengelus pipinya dan hanya di balas gelengan pelan saja.

"Apa yang ingin kau katakan, ceritakan lah padaku"

"Aku ingin kau menceritakan tentang saudara Tiebout" Vishaka yang mendengar itu tersenyum lembut dan mulai menceritakannya.

Vishaka menceritakan secara detail dan bagaimana dia melihat kedua saudara itu.

Ardhani memeluk Vishaka pelan, dia ingin Vishaka membagikan rasa sakit nya kepada dirinya.

Tatapan mereka saling bertaut dan Ardhani mencium kening Vishaka lembut.

Lalu tak berapa lama kemudian hujan turun dengan lebat dan Ardhani tertawa dengan lantang, "Bahkan langit sangat iri pada ku sampai dia menurunkan hujan untuk mengalihkan perhatian mu".

Vishaka hanya tertawa pelan dia meminta Ardhani untuk membantu nya jalan ke arah jendela.

"Tubuh ku terlalu rapuh untuk melawan saudari saudari itu, tapi jiwa ku sangat menggebu-gebu untuk melawan mereka" Vishaka memotong kalimat nya dan membenarkan duduk nya.

"Dari keluarga ibu kandungku mereka membawa sesuatu yang mungkin bisa membantu ku melawan saudara Tiebout itu, tapi raga ku terlalu lemah dan mudah sakit namun jiwa ku akan selalu melawan mereka, aku akan membebaskan keluarga ku dari ini, tolong bantu aku, Ardhani" kali ini Vishaka berbicara serius, dia menatap Ardhani dengan penuh teliti.

Tentu Ardhani mau, ini juga sumpah dari keluarga mereka untuk selalu membantu keluarga Pramadana.

Dia menerima dengan ikhlas dan akan membantu nya, "Aku baru di beri tau satu hal, kamu tau rumah peninggalan Belanda yang tak jauh dari sini".

Ardhani mengangguk, "Kamu ambil satu benda di sana lalu hancurkan, kamu pasti tau menghancurkannya bagaimana".

"Setelah aku menghancurkannya aku harus apa?" Tanya Ardhani.

"Setelah kau menghancurkannya aku akan sangat senang, tapi ingat kamu harus keluar dari raga mu untuk mengambil benda itu kau harus berhati-hati itu adalah hal yang berbahaya, Ardhani" penjelasan Vishaka membuat Ardhani tak terima.

"Memangnya itu benda apa?"

"Itu adalah benda yang mengikat ku, benda itu memancarkan cahaya merah yang pekat dengan batang duri menjalar yang mengelilingi nya, ingat kau harus hati-hati"

"Batang duri menjalar yang seperti di lehermu?"

"Iya, aku menahan agar tak tertarik oleh dia yang membuat benda itu ada, benda itu perumpamaan adalah sukma ku yang di tahan oleh nya dan batang duri menjalar itu adalah dia yang menahan ku".

"Jadi saat aku mengambil benda itu dan menghancurkannya, kau akan pergi dari ku?"

"Hahaha mana aku tau, tapi ingat Ardhani segala sesuatu tak ada yang abadi, aku juga pasti akan pergi suatu saat nanti jika tak ada kutukan ini, semuanya akan pergi dan di gantikan oleh yang baru"

Ardhani hanya menunduk, pikirannya kacau tapi dia harus melakukan nya agar menyelamatkan keluarga ini.

Come With Me (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang