Aku terbangun dengan penglihatan yang samar-samar. Aku sadar sekarang aku tengah berada di bawah pengaruh obat bius, aku juga ingat saat sudah sampai di rumah sakit Dokter memutuskan untuk mengoperasi ku karena air ketubanku kering.
Aku masih ingat suara khawatir Alan yang terdengar berkali-kali di telingaku, entah apa yang dia bicarakan dengan Dokter. Aku tidak begitu fokus, rasa sakit di perutku benar-benar membuatku tidak memperdulikan keadaan sekitar.
Aku juga ingat, setelah beberapa menit aku di bawa ke ruang operasi, aku masih melihat Alan di sana. Dia ada di dalam ruang operasi bersamaku. Setelah itu, aku lupa apa yang terjadi selanjutnya.
Dan sekarang, aku terbangun dalam keadaan mata yang sulit terbuka. Tapi aku masih mendengar suara yang berada di sekitarku. Aku yakin, saat ini aku sudah dipindahkan ke ruang inap. Sayup-sayup ku dengar bunyi langkah kaki yang sepertinya sedikit berlari. Biar aku tebak, itu pasti keluargaku, kan?
"Alan, gimana Kiraz?" Benar, itu suara Mama.
"Kiraz baik-baik aja. Bayinya udah lahir, sekarang masih di bersihkan Dokter."
Aku mendengar suara tangisan, itu masih suara Mama. Mereka terlambat datang karena menyiapkan beberapa perlengkapan yang aku perlukan selama di rawat, aku belum sempat menyusun semuanya. Itulah akibat aku yang sering menunda nunda pekerjaan.
"Kiraz di mana, Lan?" Mas Aaron juga ada di sini.
"Di dalam, Mas. Masih belum sadar, habis operasi."
"Hah? Kiraz di operasi?"
"Iya, Ma. Air ketubannya habis waktu kita sampai sini, jadi Dokter memutuskan untuk operasi. Maafin Alan, Ma. Nggak sempat minta ijin Mama buat nemenin Kiraz di ruang operasi tadi."
"Nggak apa-apa, Mama malah bersyukur kamu ada di samping Kiraz. Makasih, Alan."
Seketika rasa haru menyelimutiku, aku ingin menangis bersama mereka. Tapi, aku juga masih belum ada kekuatan untuk membuka mata. Sampai akhirnya, aku merasa tertidur lagi.
•••
Mataku perlahan terbuka, aku merasa tubuhku sangat lelah. Mungkin karena aku terlalu lama tertidur—karena pengaruh obat bius. Suara beberapa orang di dalam ruangan perlahan mulai aku dengar lagi, dan aku juga mulai melihat cahaya lampu berada di atas pandanganku.
"Ma—" aku berusaha mengeluarkan suara, entah itu terdengar atau tidak.
Mama mendekat, ternyata suaraku yang kecil di dengar. "Sayang? Kiraz? Kamu udah sadar."
Aku mengangguk, rasanya tenagaku masih belum benar-benar pulih.
"Minum." Aku benar-benar merasa kehausan, aku jadi berpikir, sudah berapa lama aku tertidur?
"Iya, Sayang. Mas, ambilkan air." Mama memerintahkan Mas Aaron untuk mengambilkan air untukku.
Sekarang di hadapanku ada Mama, Papa, Mas Aaron, para sepupu, Pragia, dan juga Alan. Mereka melingkar di sisi-sisi ranjangku.
"Ini." Mas Aaron menyodorkan sendok yang berisi air putih padaku, "Minumnya dikit-dikit, karena kamu baru sadar dari bius." Aku ingin protes tapi tidak berdaya. Aku sangat haus, bagaimana bisa aku hanya di perbolehkan minum air sedikit?
"Ada yang sakit?" Sekala mulai mengkhawatirkanku sepertinya. Aku menggeleng dan tersenyum.
"Boleh minum, Ki. Tapi dikit dikit dulu." Beralih
Alan yang membantuku untuk minum, mendengar kalimat itu membuatku ingin menangis.
Mama mendekat ke arahku, sembari membawa bayi mungil yang sembilan bulan ke belakang berada di dalam perutku. Akhirnya dia hadir ke dunia. Separuh jiwaku telah lahir. "Ki, ini anak kamu," mata Mama berkaca-kaca. "Perempuan."
KAMU SEDANG MEMBACA
She Was My First Love
RomantiekBagaimana rasanya di umur 25 tahun teman-teman mu sudah menikah sedangkan kau masih sendiri? Bagaimana rasanya di umur 25 tahun patah hati mu sesakit saat pertama kali mengenal cinta di umur 17 tahun? Bagaimana rasanya di umur 25 tahun di desak meni...
