Hari berikutnya, Woozi merasakan ketegangan di udara saat ia memasuki sekolah. Setiap langkah terasa berat, seolah-olah semua mata mengawasinya. Dia tidak bisa mengabaikan apa yang terjadi kemarin, terutama pertemuan yang membuatnya merasa terjepit antara harapan dan kewajiban.
Ketika bel masuk berbunyi, Woozi duduk di tempatnya, berusaha berkonsentrasi pada pelajaran. Namun, pikirannya terus melayang kepada Hoshi. Di mana pun ia berada, entah di kelas atau saat berinteraksi dengan teman-temannya, wajah alpha itu selalu mengganggu ketenangannya.
"Woozi, kau dengar aku? Apakah kau sudah merencanakan pelarianmu?" tanya Seungkwan, membuyarkan lamunannya.
Woozi tersentak, "Huh? Oh, maaf! Aku... aku hanya sedikit berpikir." katanya sambil berusaha tersenyum, meskipun rasa cemas masih menggelayuti hatinya.
"Aku tahu perjodohan itu mengganggu, tapi coba bicarakan dengan ayahmu. Mungkin ada cara untuk menghentikannya." kata Seungkwan.
"Kau tahu ayahku gak akan mendengarkanku. Dia sudah memutuskan. Dan Hoshi gak akan membiarkanku pergi begitu saja." jawab Woozi, suaranya penuh rasa putus asa.
Seungkwan mengangguk dan memahami perasaan sahabatnya, "Tapi kita gak bisa terus hidup dalam ketakutan. Kita harus melawan!" katanya
Woozi hanya bisa menghela napas, "Aku sudah terlalu lelah untuk berjuang." katanya dengan pasrah.
•••
Ketika pelajaran berakhir, Woozi memutuskan untuk pergi ke taman. Dia ingin berpikir lebih jernih, terhindar dari pandangan dan komentar orang-orang di sekelilingnya.
Namun saat Woozi melangkah ke luar kelas, dia tidak bisa menghindari tatapan tajam yang menunggu di sana. Di sudut taman, Hoshi berdiri disana. Ketika Woozi mendekat, Hoshi memandangnya dengan serius.
"Kita perlu bicara, Woozi. Ini gak bisa ditunda." kata Hoshi.
Woozi berusaha menahan kemarahannya, "Bicara? Tentang apa? Tentang bagaimana kau berencana mengendalikan hidupku?" celetuknya.
Hoshi terkejut dengan nada bicara Woozi, tetapi dia segera mengumpulkan diri.
"Dengarkan aku. Kita berdua gak punya pilihan. Kita harus memikirkan cara untuk menjalani ini." kata Hoshi.
"Jadi kau ingin kita berkompromi? Apakah itu cara untuk membuatku patuh?" Woozi menatap Hoshi dengan penuh kebencian.
"Kalau begitu, apa yang kau sarankan? Kita gak bisa mengubah keputusan ayah kita. Berharap semuanya akan baik-baik saja hanya dengan melawan gak akan membawa kita ke mana-mana." balas Hoshi, tidak mau kalah.
"Siapa yang bilang aku ingin berharap? Aku hanya ingin hidupku sendiri!" Woozi berteriak, menarik perhatian siswa lain di taman.
Hoshi menatapnya tajam, "Kau gak mengerti, kan? Ini bukan hanya tentang dirimu! Ini juga tentang aku dan semua yang terlibat!" serunya.
"Jadi, kau merasa dirimu juga lebih penting? Tolong, Hoshi. Jangan buat aku tertawa. Kau hanya alpha kejam yang ingin mendapatkan apapun yang kau mau!" Woozi menjawab dengan nada menghina.
"Setidaknya aku gak bersembunyi di balik kesedihan seperti anak kecil!Kau pikir dengan berteriak akan membuat ini semua hilang? Konyol!" Hoshi membalas, suaranya penuh amarah.
"Aku gak butuh mendengarkan omong kosongmu! Semua ini adalah kesalahanmu, dan kau tahu itu!" Woozi berusaha menahan air matanya.
"Jadi, teruskan! Teruslah berkelahi denganku! Tapi ingat, gak ada yang akan mendengarkan ratapanmu jika kau terus bersikap egois seperti ini!" Hoshi mengamuk, emosi memuncak.
Setelah beberapa detik hening, Woozi menahan napas, terkejut dengan kemarahan yang menggelegak di dalam dirinya.
"Jadi, ini caramu untuk memperbaiki semuanya? Menjadi monster yang lebih besar?" kata Woozi.
Hoshi terdiam dan tidak bisa menyangkal kata-kata Woozi, "Dengarkan aku, Woozi. Aku juga merasa terjebak. Jika kita gak mencoba, kita hanya akan semakin merasakan tekanan dari orang-orang di sekitar kita." katanya.
Setelah beberapa detik, Woozi mengangguk pelan.
"Baiklah, kita bisa mencoba mengenal satu sama lain. Tapi aku gak akan mengizinkanmu mengendalikan hidupku." kata Woozi.
"Kesepakatan... Kita bisa mulai dengan hal-hal kecil. Apa yang kau suka lakukan?" Hoshi menjawab, seolah-olah beban berat terangkat dari pundaknya.
Woozi terkejut oleh pertanyaan itu, "Apa? Kenapa kau ingin tahu tentang itu?" katanya.
"Karena kita akan menjalani hidup ini bersama. Dan aku ingin tahu siapa dirimu sebenarnya. Ayo, cobalah untuk terbuka denganku." Hoshi berkata sambil menatap Woozi dengan serius.
"Aku suka musik. Aku sering menghabiskan waktu di studio musik setelah sekolah." jawab Woozi, tidak tahu kenapa dia mulai berbicara.
"Musik? Itu menarik. Aku gak tahu kalau kau seorang musisi. Aku hanya tahu kau sebagai omega yang keras kepala." Hoshi menanggapi, tampak terkesan.
Woozi merasa marah mendengar Hoshi menganggapnya hanya berdasarkan penampilannya.
"Itu karena kau gak pernah berusaha mengenal aku lebih dalam!" kata Woozi.
"Baiklah, kita bisa mulai dari sini. Kapan kita bisa pergi ke studio musikmu?" Hoshi berkata, mencoba meredakan suasana.
"Kau benar-benar serius?" Woozi menatap Hoshi dengan skeptis.
"Kenapa? Kita bisa membicarakan banyak hal sambil mendengarkan musik. Aku berjanji gak akan mengganggumu." Hoshi menjawab, senyumnya terlihat tulus.
Woozi merasa ragu, tetapi ada sesuatu di dalam dirinya yang mulai menghangat.
"Baiklah. Tapi aku gak akan menjamin bahwa ini akan mudah." kata Woozi.
"Gak ada yang mudah dalam hidup ini, tetapi kita bisa mencobanya." Hoshi menjawab dengan penuh keyakinan.
Setelah pertemuan itu, Woozi merasa sedikit lega, meski hatinya masih penuh dengan keraguan. Dia tahu bahwa konflik antara mereka belum berakhir, tetapi ada secercah harapan untuk menjadikan situasi ini lebih baik.
•••
Ketika dia kembali ke kelas, Seungkwan menunggu dengan ekspresi cemas.
"Kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?" tanya Seungkwan saat Woozi duduk di bangkunya.
Woozi menarik napas dalam-dalam dan mencoba mencerna semua yang baru saja terjadi, "Kami... kami sudah berunding. Hoshi ingin mengenalku." katanya.
"Serius? Itu luar biasa! Apakah kau merasa lebih baik?" Seungkwan terlihat antusias, tetapi Woozi merasa campur aduk
"Aku gak yakin. Dia masih alpha yang kejam di pikiranku. Tapi mungkin ada harapan kecil untuk memahami satu sama lain." jawab Woozi, meski suara hatinya masih penuh ketidakpastian.
"Kau gak sendirian, Woozi. Kami semua ada untukmu. Kita bisa melalui ini bersama-sama." kata Seungkwan, memegang bahu Woozi.
Dengan semangat baru, Woozi kembali fokus pada pelajaran. Namun di sudut hatinya, Woozi tahu perjalanan ini baru saja dimulai dan banyak tantangan yang akan ia hadapi nanti.
To be continued...
Jangan lupa komen dan vote-nya
KAMU SEDANG MEMBACA
SEVENTEEN : Code Three | SoonHoon ✓
Fantasy"Aku ingin mencintaimu tanpa memperdulikan seluruh celah yang kau miliki." • Code 3 : Cold • ⚠️WARNING!⚠️ - BxB - Mature Content - 🔞🔞 Main Cast : - Kwon Soonyoung (Hoshi) - Lee Jihoon (Woozi) Additional Cast : - Boo Seungkwan - Vernon Chwe - Joshu...
