Chapter 14

1.4K 156 29
                                        

Woozi menatap bayangannya di cermin, mengingat malam penuh kekacauan yang menyisakan bekas di hatinya. Hanya beberapa hari setelah hukuman itu, rasa sakit di tubuhnya mulai mereda, tetapi bekas di jiwanya masih terasa menyengat.

Woozi merasakan getaran setiap kali ingatannya kembali ke peristiwa tersebut—Hoshi yang mengeluarkan sisi gelapnya, dan Woozi yang tak berdaya di bawah cengkeraman kekuasaan alpha itu. Ditambah Woozi tidak bisa pergi ke sekolah beberapa hari karena Hoshi memegang kunci kamarnya.

•••

Hari-hari kembali ke sekolah terasa lebih berat dari yang dia bayangkan. Ketika Woozi melangkah memasuki gerbang sekolah, dia merasakan tatapan-tatapan mengintimidasi dari siswa lain.

Berita tentang dirinya dan Hoshi telah menyebar seperti api, membuatnya merasa terasing di antara teman-temannya.

"Woozi!" panggil Seungkwan saat melihatnya.

Woozi tersenyum lemah sambil berusaha menyembunyikan rasa sakitnya, "Hei, Seungkwan. Apa kabar?" jawab Woozi, suaranya hampir bergetar.

"Kenapa kau kelihatan seperti baru keluar dari rumah sakit? Apa Hoshi memperlakukanmu seperti itu lagi hingga membuatmu gak sekolah belakangan ini?" Seungkwan bertanya, keprihatinan terpancar dari wajahnya.

Woozi mengalihkan pandang dan tidak ingin membahasnya, "Dia... dia hanya sedikit kasar belakangan ini." Woozi menjawab, mencoba terdengar santai meskipun hatinya bergetar.

"Sedikit? Woozi, aku tahu kau berusaha kuat. Tapi kau gak bisa menderita sendirian. Kita bisa membicarakan solusi tentang ini, kau tahu?" tawar Seungkwan, menatap Woozi dengan perhatian.

"Gak perlu, Seungkwan. Aku baik-baik saja. Yang terpenting adalah aku bisa melewati ini." Woozi berkata, tetapi kata-katanya terasa hampa, bahkan bagi dirinya sendiri.

Saat mereka berjalan ke kelas, Woozi merasa lelah meskipun baru beberapa langkah. Pikiran tentang Hoshi kembali menghantuinya. Dia ingin sekali memahami mengapa alpha itu berperilaku seperti itu, tetapi rasa takut dan kebingungan menghalanginya.

Di kelas saat pelajaran berlangsung, Woozi tidak bisa fokus. Semua yang dia dengar hanyalah suara Hoshi, suaranya yang menggetarkan jiwa.

Dalam benaknya, terbayang wajah Hoshi saat mengeluarkan sisi gelapnya, dan Woozi merasa seakan ada jarum kecil yang menusuk hatinya setiap kali ia mengingatnya.

Ketika bel berbunyi, menandakan waktu istirahat, Woozi merasakan dorongan untuk segera pergi dari situasi yang membuatnya tidak nyaman. Dia bergegas ke toilet, berharap bisa sendirian dan membebaskan diri dari pikiran yang mengganggu.

"Woozi!" suara familiar membuatnya tersentak.

Hoshi muncul di depan pintu toilet, tatapannya tajam seperti biasa.

"Kau pergi ke mana saja? Aku mencarimu dari tadi." kata Hoshi.


"Aku... hanya ingin sendirian." jawab Woozi, suaranya bergetar saat melihat Hoshi.

"Sendirian? Kenapa kau merasa perlu untuk menghindar dariku?" Hoshi mendekat, membuat Woozi mundur tanpa sadar.

"Hoshi, aku gak ingin berdebat denganmu sekarang." Woozi berkata, berusaha tetap tenang meskipun jantungnya berdegup kencang.

"Kau gak bisa menghindar dariku selamanya, Woozi. Kita perlu menyelesaikan apa yang terjadi." kata Hoshi, suaranya rendah namun penuh tekanan.

"Apa lagi yang perlu kita selesaikan? Kau sudah menghukumku, kan? Apa lagi yang kamu mau?" Woozi menjawab, nada suaranya mulai meningkat.

SEVENTEEN : Code Three | SoonHoon ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang