Chapter 8

1.6K 188 59
                                        

Hari itu seiring dengan sinar matahari pagi yang masuk ke jendela, Woozi merasakan sedikit harapan. Meskipun gejala heat masih menghantuinya, dia bertekad untuk melupakan semuanya sejenak.

Ketika Seungkwan mengetuk pintu apartemennya, Woozi merasa semangatnya terbangun kembali.

"Woozi! Ayo cepat, kita harus pergi ke rumah Joshua!" Seungkwan berteriak, suara energiknya memenuhi ruangan.

"Kenapa kita harus ke rumah Joshua? Kita bisa mengerjakan tugas di sini," jawab Woozi dengan malas, berusaha menghindari aktivitas yang membuatnya stres.

"Ah, tapi kita perlu suasana baru! Lagipula, Joshua punya Wi-Fi cepat dan makanan enak. Kau gak ingin melewatkannya, kan?" Seungkwan menggoda, wajahnya bersinar penuh semangat.

Dengan sedikit desakan dari Seungkwan, Woozi akhirnya setuju.

"Baiklah, tapi hanya untuk beberapa jam. Kita harus menyelesaikan tugas ini secepatnya." kata Woozi.

•••

Sesampainya di rumah Joshua, Woozi merasa suasana hangat dan nyaman menyambut mereka. Joshua yang sudah menunggu di pintu pun tersenyum lebar.

"Selamat datang! Ayo masuk! Aku sudah menyiapkan beberapa camilan." kata Joshua.

"Camilan? Aku suka!" Seungkwan berteriak, segera melangkah masuk dengan penuh semangat.

Woozi mengikuti sambil merasa sedikit lebih baik saat melihat kegembiraan sahabatnya. Setelah mereka duduk di ruang tamu, Joshua mengeluarkan laptopnya dan mulai mengatur semua bahan untuk tugas kelompok mereka.

"Oke, kita perlu membagi tugas. Woozi, bisa kau mencari informasi tentang topik kita?" kata Joshua.

"Ya, tentu." jawab Woozi, berusaha mengalihkan pikirannya dari gejala heat yang terus mengganggu.

Wonwoo mulai mencari materi di laptop Joshua, tetapi hatinya tidak bisa sepenuhnya fokus. Seungkwan dan Joshua berdiskusi tentang pembagian tugas, tetapi Woozi merasa seolah-olah mereka berbicara dalam bahasa yang tidak dia mengerti. Pikiran tentang Hoshi dan perasaan Woozi yang mengganggu membuatnya sulit berkonsentrasi.

"Hey, Woozi! Kau baik-baik saja?" Joshua bertanya, menyadari ekspresi wajah Woozi yang cemas.

"Ya, aku baik-baik saja. Hanya sedikit... lelah." Woozi menjawab, berusaha tersenyum meskipun hatinya terasa berat.

"Kalau gitu, ayo kita ambil jeda sejenak. Kita bisa istirahat dan ngemil. Lagipula, kita masih punya banyak waktu untuk menyelesaikan tugas ini." Seungkwan menyarankan, matanya berbinar.

Mereka bertiga mengambil camilan dan duduk di sofa. Woozi merasa lebih santai, tetapi gejala heat yang tidak menentu masih mengganggu. Dalam suasana santai itu, Seungkwan mulai bercerita tentang pengalamannya di sekolah.

"Jadi, kau tahu bahwa minggu lalu saat kita belajar kelompok, Hoshi sangat menyebalkan. Dia selalu memaksaku melakukan semua hal!" Seungkwan mengeluh, menumpahkan semua perasaannya.

"Hmm, aku gak bisa membayangkan bagaimana rasanya." Woozi menjawab, berusaha menyelami pembicaraan.

Meskipun Woozi ingin memberi tahu Seungkwan tentang apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan Hoshi, Woozi masih ragu.

"Dia memang kejam, tetapi dia juga baik pada saat yang sama. Aku rasa ada sisi lain dari Hoshi yang belum banyak orang ketahui." Joshua menambahkan, berusaha menjelaskan.

"Mungkin." Woozi menjawab pelan, tetapi dalam hatinya, dia masih meragukan hal itu.

Hoshi mungkin memiliki sisi lembut, tetapi dia tidak bisa melupakan betapa kerasnya Hoshi padanya.

SEVENTEEN : Code Three | SoonHoon ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang