Setelah kejadian kemarin, Woozi mencoba mengabaikan emosi yang masih mengganjal dalam dirinya. Namun, di dalam hatinya, ada ketidaknyamanan yang sulit ia hilangkan.
Mengapa harus Hoshi, pikir Woozi dengan jengkel. Mengapa dia terus-terusan muncul dan mempengaruhi pikirannya?
Saat Woozi tiba di sekolah keesokan harinya, ia langsung menuju ruang musik, tempat ia biasa menenangkan diri. Namun, begitu membuka pintu, ia terkejut mendapati Hoshi sudah ada di sana.
"Apa kau bekerja sebagai penguntitku sekarang?" Woozi bertanya, nada suaranya penuh ketidaksukaan.
Hoshi menatapnya, kali ini tanpa ekspresi penuh amarah seperti sebelumnya.
"Aku cuma ingin berbicara denganmu." kata Hoshi.
"Berbicara? Karena kemarin rasanya pembicaraan kita gak begitu menyenangkan, ya." ejek Woozi, memutar matanya.
Hoshi menghela napas, "Aku gak mau seperti kemarin. Maaf, kalau aku terlalu kasar. Tapi kau gak memberiku pilihan."
"Gak ada alasan untuk itu. Kau hanya mencari alasan untuk bertindak seenaknya." balas Woozi cepat.
Hoshi menatap Woozi dengan sorot mata serius, "Aku gak terbiasa menghadapi orang sepertimu. Biasanya... orang lain lebih mudah berkompromi." katanya.
"Kalau begitu, aku bukan 'orang lain' yang biasa kamu temui. Aku gak akan tunduk hanya karena kau ingin begitu." jawab Woozi, tangannya bersilang di dada.
"Bukan itu maksudku. Aku juga gak suka dipaksa seperti ini. Tapi aku juga gak mau kehilanganmu." Hoshi menggelengkan kepala, tampak bingung.
Woozi tertegun mendengar kata-kata Hoshi, "Kehilangan? Kau bahkan gak benar-benar mengenalku dengan baik." katanya.
"Aku tahu. Tapi aku ingin mengenalmu. Bukankah kita bisa mencoba? Mungkin kita bisa menjadi teman, setidaknya?" jawab Hoshi dengan nada lebih lembut, tatapannya melembut saat melihat Woozi.
Woozi terdiam, konflik batin tergambar di wajahnya. Sebagian dirinya ingin menolak, tetapi di sisi lain, tatapan tulus Hoshi kali ini membuat hatinya sedikit melunak.
"Hmm... Baiklah. Aku akan mencoba... tapi jangan berharap aku berubah seketika." ucap Woozi akhirnya, nada suaranya pelan.
Senyum tipis muncul di wajah Hoshi, "Itu lebih dari cukup bagiku." katanya.
Mereka saling bertatapan dalam keheningan, menyadari bahwa meski jalan di depan mereka penuh tantangan, ini adalah awal dari hubungan yang mungkin tak terduga.
•••
Siang itu, Woozi merasa tak tertahankan. Setiap sudut sekolah terasa sempit sejak Hoshi mulai terus-menerus mengawasinya, membuatnya tidak nyaman. Pikiran untuk kabur dari situasi ini pun muncul di benaknya. Dia tahu gerbang belakang yang biasanya sepi dan cukup tinggi untuk dijadikan jalan keluar.
Woozi berjalan cepat menuju gerbang belakang sekolah, menengok ke kanan dan kiri untuk memastikan tak ada yang memperhatikannya. Dia menggantung tas di bahu, berusaha meredam degup jantung yang berdebar kencang.
"Aku bisa melakukannya...," gumam Woozi pelan sambil menatap gerbang yang tampak kokoh namun memungkinkan untuk dipanjat.
Dengan hati-hati, Woozi memanjat batang besi gerbang, mengerahkan semua tenaganya. Ia hampir mencapai puncak ketika suara familiar tiba-tiba terdengar.
"Mau kabur, Lee Jihoon?"
Woozi terkejut, hampir tergelincir turun dari gerbang. Dia menoleh dan mendapati Hoshi berdiri di bawahnya dengan tatapan tajam.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEVENTEEN : Code Three | SoonHoon ✓
Fantasy"Aku ingin mencintaimu tanpa memperdulikan seluruh celah yang kau miliki." • Code 3 : Cold • ⚠️WARNING!⚠️ - BxB - Mature Content - 🔞🔞 Main Cast : - Kwon Soonyoung (Hoshi) - Lee Jihoon (Woozi) Additional Cast : - Boo Seungkwan - Vernon Chwe - Joshu...
