Chapter 18

1.3K 151 35
                                        

Hoshi merasakan keanehan di dalam dirinya saat Woozi tak kunjung kembali ke rumah. Dia mulai mencari tahu keberadaan Woozi dengan lebih serius.

Dalam pencariannya, Hoshi bertanya kepada Seungkwan dan Joshua apakah mereka tahu ke mana Woozi pergi terakhir kali.

"Dia bilang mau pulang ke apartemen untuk mengerjakan sesuatu." jawab Seungkwan, tampak khawatir.

Hoshi mengerutkan kening, "Rumahku? Dia bahkan gak kunjung kembali sampai sekarang." katanya.

Hoshi meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Woozi, tetapi ponselnya tidak aktif. Hoshi merasakan gelombang kecemasan, lalu teringat pada tempat-tempat yang sering dikunjungi Woozi.

Mendapat ide, Hoshi segera menuju ke kafe dekat sekolah mereka. Saat sampai di sana, dia melihat seorang pelayan yang mengenal Woozi.

"Dia baru-baru ini datang ke sini bersama Seungkwan. Tapi dia gak terlihat baik-baik saja, seperti sedang cemas." kata pelayan itu.

Informasi itu memicu insting pelindung Hoshi. Dia mulai menyusun rencana dan mencari tahu lebih lanjut, meneliti apakah ada yang melihat Taeri di sekitar.

Dengan semangat baru dan insting alpha-nya yang tajam, Hoshi memutuskan untuk mencari tahu lebih dalam, tidak peduli seberapa jauh dia harus pergi.

Hoshi akan mengandalkan penciuman jejak aroma feromon yang ada di sekitarnya, terutama aroma Woozi dan Taeri.

"Dia harus baik-baik saja. Aku akan segera menemukanmu, Woozi." bisik Hoshi pada dirinya sendiri, bertekad untuk menyelamatkan kekasihnya dari cengkeraman Taeri.

Hoshi melangkah cepat menuju mobilnya, jantungnya berdebar kencang. Dengan tangan yang sedikit bergetar, dia membuka pintu mobil dan duduk di kursi pengemudi.

Aroma feromon Woozi masih membekas di pikirannya, mengingatkan dia betapa pentingnya untuk segera menemukan kekasihnya. Dia menghidupkan mesin mobil, suara deru mesin seakan menyuarakan kemarahan dan kegelisahannya.

Hoshi mengarahkan mobilnya ke jalan yang sepi, mempercepat laju di jalanan gelap. Pikiran penuh ketakutan akan apa yang mungkin sedang terjadi pada Woozi menghantuinya.

Sambil berkendara, Hoshi memikirkan langkah-langkahnya. Dia harus fokus dan berusaha mencari tahu lokasi persembunyian Taeri dengan mengikuti petunjuk yang didapatnya dari teman-temannya.

Dalam perjalanan, Hoshi terus berusaha menenangkan diri, tetapi bayangan Woozi yang terkurung dan teraniaya terus menghantui. Setiap lampu jalan yang melintas terasa seperti tanda waktu yang terus berdetak.

Hoshi memperhatikan setiap detil sekelilingnya, berusaha mengingat informasi yang diperolehnya tentang tempat persembunyian. Dia menelusuri jalanan menuju daerah industri yang sunyi dan terisolasi, tempat di mana keberanian dan insting alpha-nya akan diuji.

•••

Di ruang bawah tanah yang gelap dan lembab, Woozi terikat di kursi kayu, ketakutan dan bingung. Taeri berdiri di depannya, wajahnya penuh dengan niat jahat.

"Kau pikir Hoshi akan mencarimu? Dia terlalu sibuk dengan egonya sendiri. Aku dengar bahwa dia sempat bertingkah egois dan menyiksamu tempo hari." ejek Taeri.

Woozi berusaha untuk tidak menunjukkan rasa takutnya, "Dia pasti akan mencariku, Taeri. Kau gak tahu Hoshi yang sebenarnya seperti apa." katanya.

Dengan langkah mendekat, Taeri menjepit dagu Woozi, menatapnya dengan tajam.

"Kau harus belajar bahwa hidup ini gak selalu berjalan sesuai keinginanmu. Terutama untuk seorang omega sialan dan keras kepala sepertimu." kata Woozi.

SEVENTEEN : Code Three | SoonHoon ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang