Setelah melarikan diri dari tempat persembunyian Taeri, Hoshi dan Woozi melaju kembali ke apartemen mereka. Di dalam mobil, Hoshi melirik ke arah Woozi, merasakan kekhawatiran yang menggelayuti hatinya.
"Maaf aku terlambat. Kau baik-baik saja?" tanya Hoshi, suaranya lembut namun penuh tekanan.
Woozi mengangguk, meski wajahnya pucat dan tubuhnya terasa lemah.
"Aku hanya... sedikit lelah." jawab Woozi berusaha terlihat tenang, namun rasa sakit dari luka-lukanya tidak bisa disembunyikan.
Sesampainya di apartemen, Hoshi segera membawa Woozi masuk dan mengarahkannya ke kamar Hoshi.
"Kau harus diobati." kata Hoshi, nada suaranya menunjukkan ketegangan.
Woozi duduk di tepi ranjang, sementara Hoshi mencari kotak pertolongan pertama.
"Aku bisa pergi ke rumah sakit atau klinik dekat sini sendirian, aku gak ingin membuatmu khawatir." kata Woozi, berusaha untuk memberikan senyuman yang meyakinkan.
"Tapi aku gak bisa mengabaikan luka-lukamu." balas Hoshi, mengambil perban dan antiseptik.
Hoshi pun mendekat dan drngan hati-hati meneliti luka-luka yang menghiasi tubuh Woozi.
"Ini semua salahku... jika saja aku lebih cepat." kata Hoshi.
Woozi menggelengkan kepala, "Enggak, Hoshi. Ini bukan salahmu. Ini salahku karena selalu memilih pulang sendirian. Kita bahkan gak bisa memprediksi apa yang akan terjadi." katanya.
Hoshi menatapnya dalam-dalam, lalu mulai membersihkan luka-luka itu dengan lembut.
"Ini akan terasa sedikit perih." kata Hoshi, mengompres luka dengan kapas berisi antiseptik ke tubuh Woozi seperti kepala, tangan, dan kakinya.
Woozi menahan napas, merasakan rasa sakit yang tajam ketika antiseptik menyentuh kulitnya yang terluka.
"Hahhh... Sssshhh... Aku akan baik-baik saja." Woozi mendesah pelan, menutup matanya sejenak sambil berusaha memberi semangat.
"Jangan bilang begitu. Kau harus sembuh dari luka-luka ini. Aku gak akan membiarkan hal ini terjadi lagi." kata Hoshi, tatapannya tidak lepas dari Woozi.
Dengan lembut, Hoshi membalut luka-luka tersebut, hati-hatinya memastikan tidak ada yang terlewat. Setiap sentuhan membuat Woozi merasa lebih nyaman, meski rasa sakitnya masih ada. Woozi memandang Hoshi, melihat ketekunan dan kepedulian di wajahnya.
"Terima kasih, Hoshi. Untuk semua ini." ucap Woozi, suaranya bergetar.
Hoshi menatapnya, dan untuk sejenak, semua yang terjadi di luar sana terasa tidak ada.
"Aku akan selalu ada untukmu, Woozi. Apapun yang terjadi, aku akan melindungimu." kata Hoshi dengan tegas sambil menyelesaikan perban di luka terakhir Woozi.
Woozi tersenyum tipis dan merasakan kehangatan dari kata-kata Hoshi, "Aku tahu. Dan itu berarti segalanya bagiku." katanya.
Setelah selesai, Hoshi duduk di samping Woozi, menghela napas dalam-dalam.
"Sekarang, istirahatlah. Aku akan menjagamu disini." kata Hoshi.
Woozi mengangguk, merasa lebih tenang dengan kehadiran Hoshi di sampingnya. Dalam hati, dia tahu bahwa apapun yang akan datang, mereka akan menghadapinya bersama.
Setelah mengobati luka-lukanya, Hoshi merasakan beban yang berat di hatinya. Dia tahu bahwa selama ini, perilakunya terhadap Woozi tidak bisa dimaafkan. Dengan napas yang berat, dia berdiri dan menatap Woozi yang masih duduk di ranjang.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEVENTEEN : Code Three | SoonHoon ✓
Fantasy"Aku ingin mencintaimu tanpa memperdulikan seluruh celah yang kau miliki." • Code 3 : Cold • ⚠️WARNING!⚠️ - BxB - Mature Content - 🔞🔞 Main Cast : - Kwon Soonyoung (Hoshi) - Lee Jihoon (Woozi) Additional Cast : - Boo Seungkwan - Vernon Chwe - Joshu...
