Chapter 5

1.7K 205 37
                                        

Setelah percakapan dengan Hoshi dan jam pelajaran telah usai, Woozi berjalan keluar gedung sekolah dengan hati yang tak menentu.

Pandangan Woozi terarah ke lapangan, dan ia melihat Seungkwan duduk di bawah pohon, bersandar santai sambil mendengarkan musik. Tanpa ragu, Woozi menghampirinya.

"Kau tampak seperti habis bertemu dengan hantu." kata Seungkwan, menyambut Woozi dengan senyum miring.

Woozi menghela napas dan duduk di sebelahnya, "Bisa dibilang begitu. Ada satu orang yang terus-terusan menguntitku... kau tahu siapa." katanya.

Seungkwan menatap Woozi lalu tertawa kecil. "Kwon Soonyoung lagi? Apa yang dia lakukan kali ini?" katanya.

"Dia... dia bilang ingin mencoba memahami satu sama lain. Sungguh menyebalkan, bukan? Seolah-olah aku harus menuruti kata-katanya." kata Woozi kesal, melipat tangan di dada.

"Aku tahu dia membuatmu kesal. Tapi Woozi, bukankah ini mungkin sebuah kesempatan bagus? Siapa tahu ada sisi lain dari Hoshi yang belum pernah kau lihat." jawab Seungkwan dengan bijak.

"Gak ada yang perlu dilihat dari orang seperti dia." jawab Woozi ketus.

Seungkwan hanya tersenyum sambil menepuk bahu Woozi, "Mungkin karena kau keras kepala, Woozi. Tapi aku yakin suatu hari kamu akan melihatnya dari sisi yang berbeda. Tapi, bicara soal Hoshi, aku perlu istirahat dari segala drama ini. Aku merasa sedikit pusing dan lelah. Mungkin pre-heat-ku sebentar lagi akan datang." katanya.

Woozi menatap Seungkwan penuh perhatian, "Kau sudah siap menghadapi pre-heat? Apakah kau butuh bantuan?" katanya.

Seungkwan tersenyum lemah, "Aku punya Vernon, kan? Aku yakin dia akan menolongku. Dan kau juga punya Hoshi kalau ada apa-apa... mungkin." katanya.

Woozi mendengus tetapi tersenyum tipis, merasa lega ada Seungkwan di sisinya. Meski dia belum siap menerima Hoshi, dukungan Seungkwan membuatnya merasa sedikit lebih kuat menghadapi perasaan yang membingungkan ini.

Setelah mendengar kata-kata Seungkwan, Woozi terdiam, menatap langit yang mulai berwarna jingga. Rasa gelisah yang menyusup sejak pertemuan dengan Hoshi perlahan mencair ketika bersama Seungkwan.

"Aku gak tahu bagaimana harus menanggapinya, Seungkwan." ucap Woozi pelan.

"Kita bahkan gak pernah bicara dengan tenang. Tapi sekarang, dia malah bilang ingin mengenaliku." imbuhnya.

Seungkwan tertawa kecil, "Woozi, mungkin dia serius. Mungkin Hoshi itu yang sebenarnya itu bukan seperti yang kau pikirkan." katanya.

"Tapi, dia terlalu menuntutku. Bagaimana aku bisa percaya?" jawab Woozi, mencoba mempertahankan rasa jengkelnya.

"Kau nggak harus mempercayainya sekarang." ujar Seungkwan bijak, menatap sahabatnya dengan lembut.

"Tapi berilah sedikit ruang untuk melihatnya lebih dalam. Kau nggak harus setuju atau tunduk, tapi coba rasakan dulu. Mungkin ada sesuatu yang belum kau sadari." Seungkwan menambahkan.

Woozi terdiam lagi, namun ada sedikit rasa nyaman setelah mendengar nasihat Seungkwan. Ketika akhirnya Seungkwan berdiri dengan lelah, Woozi menawarkan bantuan.

"Kau yakin nggak butuh bantuan saat pre-heat nanti?" tanya Woozi, penuh perhatian.

Seungkwan tersenyum lembut. "Sudah kubilang aku punya Vernon. Lagipula, kau punya urusan sendiri yang lebih rumit, sahabatku. Tetaplah kuat. Jangan menyerah begitu saja pada perasaanmu, ya?" katanya.

Dengan itu, Seungkwan meninggalkan Woozi yang terdiam, merenungkan kata-kata bijak sahabatnya. Meski hubungan dengan Hoshi penuh konflik, ada kemungkinan kecil untuk harapan yang baru—dan Woozi mulai membuka sedikit ruang untuk mempertimbangkannya.

SEVENTEEN : Code Three | SoonHoon ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang