Setelah hukuman yang keras itu, Woozi merasakan campuran antara marah dan bingung. Dia keluar dari gudang dengan punggung yang terasa nyeri, dan rasa sakit fisik itu seolah mencerminkan kerusakan emosional yang lebih dalam.
Hoshi memberinya pelajaran yang menyakitkan, tapi di sudut hatinya, Woozi tahu ada kebenaran dalam tindakan Hoshi—bahwa dia memang sering bertindak ceroboh di luar sekolah.
Di sekolah, suasana terasa tidak nyaman. Woozi berusaha menghindari Hoshi, merasa malu dan marah, tetapi pada saat yang sama, rasa ingin tahunya akan Hoshi semakin bertambah. Ketika jam istirahat tiba, Woozi duduk sendirian di bangku, merasa terasingkan di tengah keramaian.
Seungkwan yang melihat sahabatnya segera menghampirinya, "Woozi! Kenapa kau tampak seperti orang yang baru saja dikutuk?" tanya Seungkwan, cemas.
"Aku... gak ingin membicarakannya." jawab Woozi, mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Tapi kau gak terlihat baik-baik saja. Apa Hoshi lagi-lagi melakukan hal konyol?" Seungkwan bersikeras, menatap Woozi dengan perhatian.
"Mungkin... Tapi dia juga benar. Aku bertindak ceroboh, dan aku harus belajar dari itu." Woozi menjawab, suaranya rendah.
Seungkwan terdiam sejenak dan mencoba memahaminya, "Kau merasa sakit hati, ya? Tapi kau tahu, kadang-kadang orang yang peduli pada kita malah membuat keputusan yang sulit." katanya.
"Dia gak seharusnya menghukumku seperti itu. Dia bahkan bukan ayahku!" Woozi berkata, merasa marah kembali.
"Tapi dia ingin melindungimu, Woozi. Dia gak ingin kau disakiti oleh orang lain." kata Seungkwan lembut.
Woozi menghela napas dengan kesal, "Dengan cara yang menyakitkan? Aku rasa itu bukan cara yang benar untuk melindungi seseorang."
Seungkwan meraih tangan Woozi dan memberi dukungan, "Dengarkan aku, sahabatku. Cobalah untuk membuka hatimu sedikit. Jika Hoshi menganggap kau berharga, mungkin kau juga harus memberinya kesempatan." katanya.
•••
Ketika bel berbunyi dan mereka kembali ke kelas, Woozi tidak bisa menahan pikirannya tentang Hoshi. Meski marah dan bingung, ada bagian dari dirinya yang merasa terhubung dengan alpha itu, meskipun dia tidak ingin mengakuinya.
Sepanjang hari, Woozi berusaha untuk mengabaikan Hoshi. Namun, saat dia keluar dari kelas, dia tidak bisa menghindarinya. Hoshi berdiri di luar, menunggu dengan wajah serius.
"Woozi. Kita perlu bicara." panggil Hoshi, suaranya tenang namun tegas. "Kita perlu bicara.
"Untuk apa lagi?" Woozi menjawab, berusaha terdengar cuek meski hatinya berdebar.
"Aku ingin minta maaf atas cara aku memperlakukanmu kemarin. Aku tahu itu bukan cara yang tepat untuk membantumu. Tapi aku ingin kau tahu bahwa aku sangat peduli padamu lebih dari yang bisa kau bayangkan." kata Hoshi.
Woozi terdiam, mengingat kembali saat Hoshi menyelamatkannya.
"Kau gak bisa terus menerus melindungiku seperti itu, Hoshi. Aku gak ingin bergantung padamu." kata Woozi.
"Saat ini, kau mungkin merasa itu. Tetapi kita perlu saling mengandalkan. Kau gak sendirian. Aku ingin kita bisa berkomunikasi dengan lebih baik. Gak ada lagi kekerasan." jawab Hoshi, menatap Woozi dengan intens.
Kedua mata mereka bertemu, dan Woozi merasakan kehangatan di dalam dadanya. Meski masih marah, ada sesuatu yang menggerakkan hatinya.
"Baiklah. Mungkin kita bisa mencoba lagi. Tapi aku gak ingin menerima hukuman seperti itu lagi." kata Woozi.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEVENTEEN : Code Three | SoonHoon ✓
Fantasia"Aku ingin mencintaimu tanpa memperdulikan seluruh celah yang kau miliki." • Code 3 : Cold • ⚠️WARNING!⚠️ - BxB - Mature Content - 🔞🔞 Main Cast : - Kwon Soonyoung (Hoshi) - Lee Jihoon (Woozi) Additional Cast : - Boo Seungkwan - Vernon Chwe - Joshu...
