Hari itu tiba. Woozi berdiri di depan apartemen yang akan menjadi rumah barunya bersama Hoshi. Rasanya aneh, perasaan campur aduk menyelimuti hatinya. Dia menghela napas, berusaha menenangkan diri sebelum memasuki tempat yang membuatnya merasa terperangkap.
"Jadi, ini dia. Selamat datang di rumah kita." Hoshi berkata, membuka pintu apartemen dengan senyum.
Woozi mengerutkan kening, "Rumah kita? Ini terasa lebih seperti penjara." katanya.
"Jangan terlalu dramatis. Mari kita buat ini nyaman. Aku sudah membeli beberapa barang." Hoshi balas, tetapi senyumnya sedikit memudar.
Saat mereka melangkah masuk, Woozi segera memperhatikan bahwa apartemen itu teratur dan rapi, tetapi ada suasana dingin yang terasa. Dinding-dindingnya dicat putih dan furnitur sederhana.
"Di mana kamarku?" tanya Woozi, berharap dia bisa mendapatkan ruang pribadi.
"Di sebelah sini. Kita akan berbagi kamar mandi, tapi kamarmu terpisah." Hoshi menjawab, menunjukkan arah.
"Baguslah." gumam Woozi, merasa sedikit lega.
Saat Woozi memasuki kamarnya, dia menemukan tempat yang cukup nyaman, meski tidak ada sentuhan pribadi. Sebuah tempat tidur, meja belajar, dan lemari sudah disediakan.
"Jadi, apa rencanamu untuk malam ini? Kita bisa memasak atau memesan makanan." Hoshi bertanya, berdiri di ambang pintu kamar Woozi.
"Memasak? Kau tahu aku gak pandai memasak." Woozi menjawab skeptis.
"Aku bisa mengajarimu. Atau kita bisa pergi keluar. Ini juga kesempatan untuk menjelajahi lingkungan baru." jawab Hoshi, sepertinya serius.
Woozi terdiam, tidak ingin menanggapi dengan cepat. Dia ingin menolak, tetapi entah kenapa, ada bagian dari dirinya yang penasaran.
"Baiklah, kita bisa pergi keluar." akhirnya Woozi setuju, mencoba mengesampingkan rasa cemas.
•••
Mereka berdua meninggalkan apartemen dan menjelajahi lingkungan sekitar. Hoshi menunjukkan beberapa tempat menarik, termasuk restoran dan kafe.
Mereka duduk di sebuah kafe kecil dengan nuansa hangat. Di sana, percakapan mulai mengalir, meskipun masih ada ketegangan yang tidak bisa dihindari.
"Jadi, bagaimana perasaanmu tentang tinggal di sini?" Hoshi bertanya, mencoba membuat Woozi berbicara.
"Aku gak tahu. Ini aneh. Kita berdua gak saling mengenal dengan baik, dan tiba-tiba kita harus tinggal bersama." jawab Woozi jujur, mengawasi wajah Hoshi.
Hoshi mengangguk dan memahami, "Aku mengerti. Aku juga merasa sama. Tapi kita perlu berusaha. Kita gak bisa mengubah keadaan, jadi mari kita coba untuk saling mendukung." katanya.
Woozi menghela napas dan merasa sedikit tertekan, "Tapi aku gak ingin menjadi beban bagimu." katanya.
"Begitu juga sebaliknya. Kita berdua harus belajar untuk beradaptasi. Dan siapa tahu, mungkin kita bisa menemukan sesuatu yang baik di antara kita." kata Hoshi, tatapannya serius.
•••
Setelah makan malam, mereka kembali ke apartemen. Ketika Hoshi mengunci pintu, Woozi merasa jantungnya berdebar. Ini adalah malam pertama mereka sebagai pasangan yang dijodohkan, dan ada ketegangan yang tidak bisa diabaikan.
"Jadi, apa yang kita lakukan sekarang?" tanya Woozi, berusaha mengalihkan perhatian dari ketidaknyamanan yang dirasakannya.
"Kita bisa menonton film. Atau jika kamu mau, kita bisa bicara lebih banyak tentang apa yang terjadi di antara kita." jawab Hoshi, meraih remote TV.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEVENTEEN : Code Three | SoonHoon ✓
Fantasi"Aku ingin mencintaimu tanpa memperdulikan seluruh celah yang kau miliki." • Code 3 : Cold • ⚠️WARNING!⚠️ - BxB - Mature Content - 🔞🔞 Main Cast : - Kwon Soonyoung (Hoshi) - Lee Jihoon (Woozi) Additional Cast : - Boo Seungkwan - Vernon Chwe - Joshu...
