Chapter 3

2.1K 212 59
                                        

Di studio musik, Woozi duduk di depan piano, jari-jarinya dengan lincah menekan tuts, mencoba mencari pelarian dari kekacauan yang terjadi dalam hidupnya.

Namun, ketenangannya hanya bertahan sesaat sebelum pintu studio terbuka lebar, dan Hoshi berdiri di sana.

"Kenapa kau selalu ada di mana-mana?" desis Woozi, tidak menyembunyikan kekesalannya.

Hoshi melangkah masuk dengan santai seakan tidak terpengaruh, "Kita sepakat untuk mencoba mengenal satu sama lain, kan?" katanya.

"Aku gak pernah bilang mau melakukan itu sekarang. Aku butuh waktu sendirian." jawab Woozi dingin, matanya tidak beralih dari piano.

"Kau memang butuh waktu sendirian atau kau hanya mencoba untuk menghindariku?" balas Hoshi, kali ini nada suaranya sedikit menantang.

"Selalu seperti itu, kan? Menghindar dari masalah dan berharap semuanya hilang dengan sendirinya." imbuhnya.

Woozi tertawa kecil meski jelas nada tawanya penuh dengan ejekan, "Menghindar? Oh, maaf. Aku gak punya keahlian mengendalikan orang lain seperti yang kau punya, Hoshi." katanya.

Hoshi mengangkat alis dan jelas tersinggung, "Jangan sok tahu, Woozi. Aku gak sedang mencoba mengendalikanmu. Aku hanya ingin kita menemukan jalan tengah." katanya.

Woozi mendengus, "Jalan tengah? Maksudmu aku yang harus berkompromi dan menerima semua ini tanpa protes?" katanya.

"Bukan begitu, tapi bisa kita bicarakan tanpa bersikap seperti anak kecil, kan?" Hoshi menatap Woozi dengan pandangan menantang.

Woozi tersenyum sinis, "Anak kecil? Kau benar-benar gak tahu apa-apa tentang aku, ya? Kalau kau sudah tahu, seharusnya kau gak akan muncul di sini dan menggangguku." katanya.

Hoshi mendekat dan memandangi Woozi dengan tatapan penuh intensitas, "Oh, aku tahu lebih banyak dari yang kau kira. Kau hanya gak mau menerima kenyataan." katanya.

"Kenapa? Karena aku gak mau hidupku dikendalikan alpha yang sok tahu? Maaf, tapi aku punya harga diri, dan aku gak akan tunduk hanya karena kau menginginkannya." jawab Woozi dengan tegas.

Hoshi mendesah dan mulai kehilangan kesabaran, "Woozi, aku bukan musuhmu. Kenapa kau selalu bersikap defensif?" katanya.

"Karena kau menyebalkan dan selalu berusaha mengatur hidupku, Hoshi!" Woozi membalas dengan nada keras.

"Kau pikir karena kita dijodohkan, kau bisa datang dan mengganggu hidupku kapan saja?" imbuhnya.

"Kalau bukan karena aku peduli, aku sudah gak akan repot-repot mendatangimu! Tapi kamu selalu menutup diri dan menyalahkanku seolah semua ini salahku." Hoshi menatap Woozi dengan tatapan tajam.

Woozi menggertakkan giginya, "Salahmu? Ya, mungkin memang salahmu! Kau masuk ke kehidupanku tanpa permisi, memaksaku menerima kenyataan yang gak pernah aku minta!"

"Dan kau pikir aku yang minta dijodohkan dengan omega keras kepala sepertimu? Ini bukan soal siapa yang lebih menderita, Lee Jihoon! Tapi kalau kita gak mencoba bekerja sama, semuanya akan semakin buruk." Hoshi menekan suaranya agar tetap tenang, meski jelas ada amarah yang mendidih di balik matanya.

Woozi menatap Hoshi dengan penuh kebencian, tetapi di balik tatapan itu ada kelelahan yang tak bisa disembunyikan.

"Aku gak butuh kau peduli padaku, Hoshi. Aku hanya ingin hidupku kembali." kata Woozi.

Hoshi merespon dengan nada tajam, "Kalau memang begitu, kenapa kamu gak pergi saja dan biarkan semuanya berantakan?" katanya.

Woozi terdiam sejenak lalu berkata dengan pelan namun tegas, "Karena aku menghargai diriku sendiri, dan aku gak akan menyerah begitu saja hanya karena kau bilang begitu. Kau mungkin alpha, tapi aku bukan boneka yang bisa kau mainkan." katanya.

SEVENTEEN : Code Three | SoonHoon ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang