Pagi itu, sinar matahari menyelinap melalui celah tirai, menerangi ruangan dengan lembut. Woozi terbangun dengan perasaan campur aduk.
Tubuhnya masih terasa hangat, diiringi dengan kenangan yang mengguncang dari malam sebelumnya. Hatinya berdebar-debar, mengingat saat-saat ketika Hoshi mendekapnya dengan penuh kasih sekaligus dominasi.
Dengan berat, Woozi mengangkat kepalanya dari bantal dan melihat ke samping. Hoshi masih tertidur, wajahnya tenang dan damai. Dahi Woozi berkerut, merasa bingung dengan perasaannya sendiri. Woozi tidak tahu apakah harus merasa bahagia atau tertekan. Hoshi adalah mate-nya, tetapi cara mereka bersatu tidak seperti yang dia bayangkan.
"Damn it, Woozi. Apa yang kau lakukan?" bisiknya pada diri sendiri.
Woozi melirik Hoshi lagi dan berusaha untuk membangkitkan keberanian dalam hatinya. Tadi malam, Hoshi menunjukkan sisi dirinya yang sangat berbeda, dan sekarang Woozi harus menghadapi kenyataan baru ini.
Woozi bangkit dari tempat tidur, berusaha tidak membangunkan Hoshi. Perlahan, dia melangkah menuju kamar mandi untuk mencuci muka.
Saat air dingin menyentuh kulitnya, rasanya menyegarkan, tetapi pikiran tentang Hoshi kembali mengganggu ketenangannya.
"Berani-beraninya dia menggigitku seperti itu." gumam Woozi sambil mengeringkan wajahnya.
Dia tidak bisa menyangkal bahwa ada perasaan mendalam yang membara dalam dirinya. Dia merindukan Hoshi, terlepas dari semua kekacauan dan dominasi yang terjadi.
Setelah beberapa saat, Woozi keluar dari kamar mandi dan mendapati Hoshi sudah terbangun. Alpha itu duduk di tepi tempat tidur, menatap Woozi dengan senyum menggoda yang membuat jantung Woozi berdegup kencang.
"Selamat pagi, apakah tidurmu nyenyak?" kata Hoshi.
"M-morning." jawab Woozi dengan nada canggung dan berusaha tidak menunjukkan betapa bergetarnya hatinya saat melihat Hoshi.
Hoshi berdiri dan mendekat, "Kau tahu, kau terlihat sangat cantik pagi ini." kata Hoshi, suaranya mengalun lembut meskipun senyumnya menyiratkan sesuatu yang nakal.
Woozi memerah dan tidak tahu bagaimana merespons, "G-gak perlu berlebihan, Hoshi." Woozi mencoba menjaga nada suaranya tetap tegas, tetapi jelas sekali bahwa dia terpengaruh.
"Gak berlebihan, aku hanya berkata yang sebenarnya." Hoshi mendekat, menundukkan kepala untuk mencium leher Woozi dengan lembut, menyisakan tanda yang belum sepenuhnya hilang.
"Sekarang kita memiliki waktu untuk saling mengenal lebih dalam." imbuhnya.
"Apa maksudmu?" tanya Woozi, sedikit takut dengan apa yang akan mendatanginya.
Hoshi mengangkat bahu dan senyumnya semakin lebar, "Kau tahu, menjadi mate itu bukan hanya tentang tubuh kita. Kita perlu membangun hubungan yang lebih kuat." katanya.
"Hubungan yang lebih kuat? Maksudmu apa? Apakah kita harus saling membagikan segalanya?" Woozi meragukan, merasa jantungnya berdebar lebih cepat.
"Ya, sesuatu seperti itu. Kita harus saling percaya. Aku ingin kau tahu bahwa aku gak akan pernah menyakiti dirimu tanpa alasan." Hoshi menatap Woozi dengan serius.
Woozi terdiam. Dia bisa merasakan ketulusan dalam suara Hoshi, tetapi kenangan akan perlakuan Hoshi yang kasar masih membayangi pikirannya.
"Tapi bagaimana dengan cara kau memperlakukanku sebelumnya? Seperti malam lalu..." kata Woozi.
Hoshi menarik napas dalam seolah mempertimbangkan kata-katanya, "Itu semua bagian dari proses, Woozi. Ada banyak hal yang harus kita atasi. Aku gak ingin kau merasa tertekan, tetapi aku ingin kau tahu bahwa ada kekuatan dalam hubungan ini." katanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEVENTEEN : Code Three | SoonHoon ✓
Fantasy"Aku ingin mencintaimu tanpa memperdulikan seluruh celah yang kau miliki." • Code 3 : Cold • ⚠️WARNING!⚠️ - BxB - Mature Content - 🔞🔞 Main Cast : - Kwon Soonyoung (Hoshi) - Lee Jihoon (Woozi) Additional Cast : - Boo Seungkwan - Vernon Chwe - Joshu...
