There's nothing wrong with trying again

1.4K 242 54
                                        

Jian bangun tidur seperti biasa, mandi dan bersiap-siap untuk ke sekolah. Aji juga sudah bangun, memasak sarapan untuk keduanya, "Bibi pulang nanti sore." Ucapnya, kala melihat Jian sudah duduk bersiap menyantap makanan.

Jian menoleh pada Aji yang sedang menggoreng telur dadar, "Hp kamu gak aktif katanya." Lanjut Aji seakan paham apa yang akan Jian tanyakan, "Galau sih galau, tapi jangan matiin hp juga kali, susah dihubungin."

"Bawel." Ketus Jian.

Aji menaruh piring penuh nasi goreng dan telur dadar di meja, siap mengisi tenaganya untuk hari ini, "Jadi gimana, sama Harraz?"

Jian meletakkan gelas dimeja, memutarnya sesaat sembari menyusun kata yang ada dikepala, "Saya gak inget apapun." Jawab Jian dengan wajah murung.

"Kemaren dia kesini, tapi kamu gak mau ketemu."

Menekuk bibirnya kebawah, Jian seolah berfikir, apakah harus ia memperbaiki semuanya? Jelas sekali ia tak memiliki masalah apapun dengan Harraz, kenapa tiba-tiba malah dirinya yang tak mau bertemu lelaki itu?

"Saya ngerasa gak bikin salah." Ucap Jian, yang malah membuat Aji menatapnya bingung, "Harraz juga gak bikin salah, kenapa saya gak mau ketemu Harraz?"

Meletakkan sendoknya, Aji merasa Jian menjadi aneh sejak kemarin, "Kamu aneh, Ji." Ungkapnya.

"Saya harus ketemu Harraz."

.
.

Jian merasa ini berbeda, Wella dan Jendra tak membahas tentang Harraz didepannya, tapi samar-samar Jian mendengar mereka merutuki Harraz ketika istirahat, itupun tidak didepan Jian, mereka bersikap seolah tak terjadi apa-apa dan banyak mengajak Jian berbicara sesuatu yang seru.

Wella bahkan memutar film dengan proyektor milik sekolah waktu jam kosong, Jendra juga membelikan Jian berbagai makanan dari kantin, dan David sesekali mengajak Jian memecahkan soal biologi, kenapa mereka menjadi seperti ini?

Ketika jam pulang tiba, Wella dan Jendra langsung saja menggandeng Jian dan segera membawanya ke parkiran sekolah, katanya hendak diantarkan pulang. Namun Jian menolak, ia harus bertemu Harraz, maka jadilah Jian berbohong pada dua temannya kalau Aji akan datang menjemput, awalnya Wella tak percaya dan hendak menelfon Aji untuk bertanya, tapi Jian benar-benar meyakinkan keduanya kalau Aji akan datang.

Saat dua temannya percaya, dan telah pulang terlebih dahulu, Jian naik lagi ke lantai dua, tepatnya kelas Harraz, mencari lelaki itu ke seluruh pelosok kelas, dan ruangan yang sekiranya sering ia kunjungi, namun tak juga menemukan Harraz, apa ia sudah pulang?

Jian mengerang, pusing kembali datang, mencoba untuk menstabilkan pandangannya, Jian beralih ke belakang sekolah, entahlah tapi instingnya membawa lelaki ini kesana.

Berjalan pelan, dari tempatnya sekarang bisa Jian lihat ada seseorang disana, sedang duduk dan kalau tak salah liat mungkin sedang merokok? Jian juga tak yakin.

"Harraz?"

Lelaki yang duduk menoleh kaget, benar Harraz ada disana dengan satu rokok yang bertengger dijemari, pertama kalinya Jian melihat Harraz dalam keadaan seperti ini, bisa dikatakan kacau dengan kantung mata yang menghitam dan rambut yang acak-acakan, "Jian?" Harraz bahkan membulatkan matanya tak percaya.

Harraz membuang rokoknya, lalu mendekat pada Jian yang masih diam mematung, Jian ingin bertemu Harraz, tapi saat dihadapkan dengan lelaki itu rasanya aneh, ada rasa sakit dihatinya dan sesak yang lebih mendominasi.

Dreams Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang