Aku terkejut dengan alarm hpku. Aku mengucek mataku dan melihat. Peringatan tgl 05 april. Aku menguap dan kembali tidur.
Aku merapikan rambut panjangku, ku pakai setelah one set hitamku dengan tanktop putih. Kuraih ransel dan topi putihku. Hari ini perkuliahan seperti biasa.
Hari ini aku berangkat sendiri. Azi sedang menginap bersama teman-teman lain. Aku yg ada kelas badminton tidak bisa bergabung dengan mereka hari itu. Jam 08.00, aku sedikit berlari memasuki kelas.
Seusai kelas aku menghampiri azi, andina, mesi dan pica yang asik mengobrol.
"Karaokean dong hari ini"
"Yoiii girllss!!!"
Aku menutup kedua telingaku. Kenapa para wanita ini sangat berisik. Aku pikir, aku yang aneh. Aku tida segirly dan seberisik wanita pada umumnya.
Mobil andina tidak cukup untuk kita ber 6 kali ini.
"Sorry girls, papa aku pakai mobil. Jadi aku cuma bawa yang kecil"
"Aku sama azi naik motor aja, susah juga tingfalin motor di kampus"
Mereka pun setuju. Aku jalan beriringan dengan azi. Sesampainya di parkiran. Aku memberi azi helm. Aku menahan azi naik motor. Aku memberi ranselku ke azi.
"Buka!"
Azi terheran, tanpa protes membuka ranselku.
"Happy birthday"
Aku tersenyum dan menyentuh pipi azi. Azi tersipu. Ia mengambil kotak yang ada di ranselku.
"Apa ini?"
"Yang kamu mau. Ini gaji pertama aku loh"
"Ih manis sekali, makasih lyoku"
Azi melingkarkan tangannya di leherku. Ia memasang wajah imutnya mulai mengisengiku.
"Stop it!"
Azi semakin menjadi, mencium kedua pipiku.
"Love you sahabatku"
Aku mengangguk dan menaiki motor.
Kami sedikit terlambat, teman-teman sudah masuk ke room karaoke. Aku dan azi menaiki tangga menuju lantai 2.
"HAPPY BIRTHDAY!!!!!" Sorakan mereka menejutkanku. Azi bersorak bahagia. Sorakan mereka ber t semakin riuh bak sedang pesta meriah. Aku ikut bernyanyi merayakan ulang tahun azi. Sesi nyanyi berlanjut ke foto-foto dan makan-makan.
Malam itu semua terlihat happy. Melepas semua lelah dah tekanan. Azi yang sedang berulang tahun sangat bahagia. Bernyanyi, berjoget dan tertawa lepas. Aku menikmati keceriaannya. Tanpa sadar aku tersenyum dan tertawa memperhatikan azi selama di room karaoke.
"Azi nyanyi dong!,lelah aku"
Pica memberi mic padaku. Mereka duduk beristirahat setelah 1 jam lebih teriak dan joget. Aku yang sedari tadi tenang pun mencoba mengisi kelelahan mereka dengan memilih lagu melody.
Aku bernyanyi, suaraku tidak buruk dan tidak pula profesional. Karena aku bisa bermain gitar, setidaknya aku bisa bernyanyi dengan baik. Aku menyanyikan lagu romantis. Teman-teman memperhatikanku. Namun mataku, iya. Mataku hanya menatap azi. Begitupun azi. Aku tidak tau ada kekuatan apa yg ada didiriku. Mataku tidak lepas darinya selama menyanyikan dua lagu romansa.
Aku kembali duduk. Menyerahkan mic pada pica. Aku duduk di samping azi. Aku meminum habis sisa minumku. Dua lagu saja sudah membuat kering tenggorokanku. Aku rasa bukan lagunya, tapi rasa nervousnya.
Aku menoleh pada azi yg makan kue tart ny. Tanganku bergerak menyentuh bibirnya yang berantakan dengan krim coklat dari kue itu. Azi tertegun dan sedikit menarik mundur badannya. Melihat keterkejutan azi, aku melepas tanganku dari bibirnya. Aku menatap azi sejenak lalu beralih mencari tisu.
Aku dan azi tidak ada berbicara di sisa waktu karaoke. Perjalanan pulang juga terasa akward. Azi yang biasa memelukku pun sama sekali tak berpegang apa pun padaku. Aku melirik azi dri kaca spionku. Aku tak bisa menafsirkan apapun dari ekspresinya.
"Kita mau pulang, atau mau makan dulu?"
"Terserah"
Jawaban cewek banget nih!. Aku memutuskan untuk makan dulu karna aku lapar. Aku berhenti di warung ayam penyet. Aku memesan makanan untuk berdua
"Aku gak laper deh lyo, kamu aja"
"Gak. Aku mau makam berdua sama kamu"
"...."
"Hari ini ulang tahun kamu. Aku mau habisin banyak waktu sama kamu sebelum harinya berganti"
Aku mengatur posisi piringku dan azi. Azi pun nurut dan ikut menikmati makanan bersamaku.
Usai makan aku berkeliling kota, hanya tidak ingin langsung pulang. Walau sudah jam 22.00. Aku sudah mengirim pesan ke ibu azi, izin pulang larut.
Aku melihat azi kedinginan. Aku terdiam sejenak. Aku menarik tangan azi untuk mendekat denganku. Ku lingkarkan kedua tangan azi di pinggangku. Azi tampak tak protes. Ia memeluk pinggangku dengan erat. Aku merasakan napas azi di leherku. Aku merinding. Aku mencoba fokus.
"Kamu ngantuk?, mau pulang sekarang?"
Azi tak langsung menjawab, ia menggeser posisi kepalanya menatapku dari samping. Jantungku berdegup.
"Lyo, aku boleh nginep dikos kamu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Butterfly & Angel
Teen FictionLyo baru saja sampai di jakarta. Ini pertama kalinya ia pergi dari rumah untuk melanjutkan pendidikannya. setelah 18 tahun hidup bersama keluarga, sudah saatnya lyo kekuar untuk mencari pengalaman hidup yang lebih lagi. Lyo tidak sabar menanti apa y...
