Bugh . .
Bugh . .
Bugh . .
"Bangsat!!! Jangan berani-berani lo nyentuh adek gue!!." Disana mereka saling menghajar satu sama lain, namun karena badan Rexa lebih besar dari pada Marcel, maka Marcel lah yang tersungkur, tak lupa tatapan tajam Rexa membuat siapa saja pasti akan lari, namun berbeda dengan Marcel disana ia malah tersenyum sinis sambil terkekeh dan berkata "Cukup menarik." Emosi Rexa memuncak, wajah Marcel dibuat bonyok lagi oleh Rexa yang mana kini mereka berdua menjadi tontonan pengunjung bar.
Saga, Nakula, dan juga Keyla memisahkan mereka berdua yang mana Marcel dibawah badannya Rexa, jika tidak segara dipisahkan bisa-bisa Marcel akan mati ditangan Rexa, tapi seakan tuli laki-laki yang mempunyai perawakan kekar itu tidak menggubrisnya sampai ada satu suara mampu menghentikan kegilaan Rexa.
"Sayang udahan yuk berantemnya kita pulang." Suara wanita itu lembut namun tegas, berambut panjang, memakai pakaian serba hitam dan sepatu bots sambil melipat tangannya didada. Rexa kaget bagaimana bisa jika wanitanya kini berada di Indonesia.
Rexa pun bangun lalu mengajaknya pergi dari bar tersebut.
"Anjing, temen lo kebiasaan kalau udah berantem gak mau beresin lagi." Umpat Saga kepada Nakula, namun Nakula hanya tersenyum mengangguk lalu menepuk-nepuk punggung Saga.
Diluar bar sepasang kekasih yang sudah lama tidak bersua saling mendekap satu sama lain.
"Kangen banget, kamu kenapa gak bilang mau ke indo hemmm." Ucap Rexa didalam ceruk leher wanitanya.
"Suprise aja si."
"Terus kamu tau aku disini dari siapa? Koper kamu mana?."
"Nakula, diapart kamu."
Namun kini Wina tersadar akan sesuatu . . . .
Bugh . .
Disana Rexa mendapat pukulan yang cukup keras di lengannya.
"Sayang sakit ih." Rengek Rexa.
"Lo ya dari dulu kebiasaan berantem mulu, bagus banget disini kerjaannya ngehajar anak orang mulu." Ucap Wina dengan penuh kesal.
Rexa hanya tertawa dan memeluk wanitanya lagi, ia sangat rindu aroma ini.
"Sayangku diem ya kamu lagi marah kan sama aku, udah peluk dulu kayak gini. Kangen banget tau."
Wina sangat lemah jika Ke clingy-an Rexa kumat, dia menyerah sungguh Rexa sangat lucu. Ia seperti mempunyai dua kepribadian.
Akhirnya Rexa pun membawa Wina ke mobilnya untuk menuju unit apartment miliknya. Sampai disana Rexa meminta Wina untuk mengobati dirinya.
"Sayang obatin." Rengek Rexa.
Wina pun mencari kotak obat yang ditempel didekat ruang tv, ia sangat hapal setiap sudut ruangan ini, bahkan ia juga sering menginap disini. Lihat saja sekarang bukannya menginap dihotel Wina malah pergi ke unitnya Rexa.
"Sini." Wina menarik tangan Rexa dan menyuruhnya untuk duduk dikursi ruang tv. Setalah itu ia mengobati luka Rexa cukup telaten.
"Sayang pelan-pelan sakit tau."
Wina hanya menjawab dengan wajah dan tatapan sinis, entah kenapa jika Rexa sedang bersama dirinya ia akan berlaku seperti balita lima tahun dan Wina serasa mengurus anak kecil, yah meskipun Wina lebih tua dari pada Rexa.
"Badan lo gede doang diobatin gini aja sakit, tadi berantem gak sakit."
Cup . .
Rexa malah mengucup bibir ranum milik Wina, disana Wina ingin sekali bersumpah serapah. Bukannya apa tapi brondong satu ini tidak aba-aba terlebih dahulu. Rexa tersenyum penuh kemenangan sambil menunjukan eye smilenya yang membuat Wina sedikit tidak waras.
KAMU SEDANG MEMBACA
AU-riga; || HAECHAN
RomansaDalam gelapnya kehidupan, kamu seperti Capella bintang yang paling terang yang berada di rasi Auriga selalu menjadi penerang disepanjang gelap yang tak berujung. Ya benar kamu adalah Capella ku.
