Almost

81 15 1
                                        

Diperjalanan Naya pulang pada malam hari, ia diselimuti rasa takut entah kenapa tidak seperti biasanya. Batre handphone nya habis dan sialnya lagi jalanan sudah mulai sepi tidak ada angkot bahkan kendaraan roda empat dan dua, yang biasanya berlalu lalang pun hanya bisa dihitung dan tidak sampai 10. Ia pun tidak mau bersugesti yang tidak-tidak, Naya bukan takut hantu tapi ia takut jika ada orang jahat yang mau menculik nya.

"Duh biasanya aku pulang sama Riga tapi kan dia lagi sibuk buat comeback nya, yaudalah mungkin ini cuman perasaan aku aja kali ya." Bergumam dalam hati.

Ia pun terus berjalan membuang semua rasa takut dan gelisah nya, 100 meter lagi Naya sudah berada dikawasan dekat kost-an miliknya namun ia seperti merasakan ada pergerakan yang mengikuti dirinya. Ia pun berhenti perlahan lalu menengok kebelakang "Gak ada orang." Setelah itu ia melanjutkan perjalanan namun lagi-lagi ia mendengar suara derap langkah kaki yang bukan dirinya. Tanpa aba-aba Naya pun berhenti berjalan, pada saat menengok langkah itu pun berhenti. Naya mempunyai firasat buruk bahwa ada seseorang yang sedang mengikutinya ia pun bergegas lari, bukan menuju kost-an nya tapi menuju warkop mang mamat untuk meminjam charger dan menghubungi Riga atau kakaknya untuk menjemput dirinya.

"Mang teh tarik satu ya."

"Eh neng Naya, oke siap neng. Pesanan nya ada lagi??."

"Emnm itu mang boleh pinjem chargers handphone gak??."

"Boleh atuh. Sebentar ya."

Setelah Mang Mamat masuk ke dalam untuk membuatkan teh tarik dan mengambil charger, pun Naya masih celangak-celinguk melihat disekitar apakah orang yang tadi sudah pergi atau masih bersembunyi dan menunggu Naya berjalan lagi.

"Itu siapa sih, aku takut ada yang mata-matain." Naya berbicara sendirian sambil cemas tak tertolong.

Mang Mamat pun memberikan chargers handphone kepada Naya, ia pun bergegas menyalakan handphone nya untuk menghubungi Auriga. Tak lama setelah itu terdengar suara motor yang Naya kenal itu adalah milik sang Auriga. Senyum nya mengembang dan bergegas menuju kesana, seketika senyum nya luntur sebab yang disana bukan Auriga, memang benar motor itu adalah milik Auriga tapi tidak dengan pengendaranya. Tidak kok, Naya tidak kecewa mungkin ekspetasinya saja yang berlebihan.

"Ini buat lo Nay. Dikira Auriga ya?." Menyerahkan satu buah paper big yang berisikan cemilan dan satu buah surat.

"Dari siapa?." Tanya Naya.

"Siapa lagi kalau bukan pangeran lo. Yauda gue balik ya soalnya masih mau latihan buat comeback. Gue cuman dikasih pesan kalau lo balik kerja malem dan lagi jaga sendirian naik gojek aja. Seharusnya dia yang kesini tapi tadi ada urusan jadi gue deh yang di utus." Ucap panjang lebar dari mulutnya Akmal yang membuat Naya mengangguk mengerti. Setelah itu Akmal pun berpamitan dan pergi untuk kembali latihan.

"Emang kalau latihan sampe malem banget ya?." Guman Naya sendirian.

Naya pun menyadarkan pikirannya untuk tidak memikirkan hal yang belum tentu terjadi,  ia pun berpamitan kepada mang Mamat tak lupa mengucapkan terimakasih dan pergi menuju kamar kost nya.

Ia jatuhkan tubuh nya di atas kasur, tidak di pungkuri rasa khawatir Naya terhadap Auriga semakin menggebu yang mana telepon dan chat nya tidak kian di balas oleh Auriga. Bahkan ia menanyakan kepada sang kaka tapi nihil tak ada jawaban. Sambil menoleh kepada paper bag dari sang kekasih.

AU-riga; || HAECHAN Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang