(11) Kisah Chika

8 3 0
                                    

"Chika, tungguin gue!" Arumi melangkah lebar-lebar, berusaha mengejar Chika di tengah ramainya koridor pada jam istirahat. Berkali-kali juga ia meminta maaf ketika tak sengaja membentur siswa lain yang berjalan berlawanan arah dengannya. Sedangkan Chika dengan mudah menyelinap melewati keramaian tersebut dengan tubuh mungilnya. Untungnya Chika memakai pakaian berwarna kontras, jadi meskipun Arumi ketinggalan jauh, ia tetap bisa melihatnya.

Akhirnya setelah bebas dari hiruk pikuk siswa yang kelaparan, Arumi pun berhasil menangkap Chika. Segera ia meraih tangan gadis itu agar tak bisa pergi menghindarinya lagi.

"Bisa gak sih lo berhenti dulu?" pintanya dengan napas terengah-engah. Tangannya yang lain terangkat untuk mengusap keringat yang membasahi dahi.

Chika berbalik sepenuhnya sebelum menarik tangannya dari genggaman Arumi. Senyum lebar yang biasa menghiasi bibirnya kini sama sekali tak terlihat. Gadis itu memandang datar, sama sekali tak ada emosi di matanya.

Arumi menegakkan tubuh, balik menatapnya lurus. "Chika, kalau gue ada salah lo ngomong dong, jangan diem mulu terus jauhin gue gini," ujarnya mengingat sejak kedatangannya tadi pagi Chika sama sekali tak mau bicara padanya dan menghindarinya.

Alis Chika terangkat sebelah. "Gue gak pernah bilang lo punya salah." Ia tidak berbohong. Arumi memang tidak melakukan kesalahan apapun padanya, yang ada ialah yang bersalah pada gadis itu.

"Terus lo kenapa jauhin gue gini?"

Menemukan raut bingung di wajah Arumi, Chika lantas menghela napas. "Harusnya lo seneng, Arum," ucapnya dengan nada tenang.

Alis Arumi bertaut bingung, kemudian tanpa sadar meninggikan nada suaranya. "Seneng gimana? Disaat satu-satunya temen yang gue punya malah jauhin gue, lo bilang gue harusnya seneng?" Ia berdengkus keras sembari memandangnya tak percaya. Arumi sungguh tidak menyangka kalau Chika akan beranggapan seperti itu.

Sejak awal Chika sudah menebak akan respons Arumi, karena itu ia bisa menjawabnya dengan tenang sekarang. Ia menunduk sekilas sembari menarik napas, lantas kembali mendongak. "Karena dengan begini temen-temen yang lain bakal mulai deketin lo."

Arumi bungkam. Ia kehabisan kata-kata.

"Lo udah tahu kan kalau penyebab semuanya jauhin lo itu karena gue?" lanjutnya lagi dengan nada yang sama.

Arumi mengerjap perlahan lalu mengangguk samar. "Iya, gue tahu, tapi gue gak peduli," Ia mengambil langkah mendekat. "Karena yang gue mau cuma lo dan gue gak butuh yang lain. Cukup lo," sambungnya diakhiri penekanan.

Chika melongo sesaat sebelum kembali mengernyit. Ia merunduk sembari mengusap wajahnya frustrasi. "Lo gak ngerti, Arum!" sergahnya.

"Gimana gue mau ngerti? Lo aja gak terus terang sama gue," jawab Arumi cepat membuat Chika yang kehabisan kata kali ini.

Chika yang kini berjongkok di hadapannya memberi Arumi kesempatan untuk melihat situasi. Ia baru menyadari kalau mereka masih berdiri di tengah koridor, membuat beberapa pasang mata terus menatap mereka sejak tadi. Refleks Arumi menghampiri Chika kemudian tanpa persetujuannya menarik gadis itu pergi.

Chika yang diseret begitu saja tentu berniat untuk berontak. Namun, pegangan Arumi di pergelangan tangannya terlampau erat membuatnya kesusahan. Oleh karena itu, ia pun pasrah mengikuti Arumi entah kemana.

Ketika mereka mulai menaiki tangga, Chika kira mereka hendak kembali ke kelas. Namun, tebakannya itu salah karena Arumi tidak berhenti di lantai wilayah kelasnya dan malah melanjutkan menaiki tangga.

"Arum, lo mau bawa gue kemana sih?" tanyanya meski selanjutnya Arumi sama sekali tidak merespons. Tak lama kemudian, Chika mulai mendapat pencerahan tatkala mereka sampai di lantai tiga dan Arumi membawanya berbelok masuk ke tangga darurat menuju rooftop.

Be(Twins) [Slow Update]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang