(21) Konfrontasi

4 0 0
                                    

Terdapat penggunaan bahasa kasar dalam bab ini, dimohon kebijakannya.

~~~

Jemari Arumi menekan ikon balon pesan membuat deretan komentar muncul di layar. Satu per satu ia baca dengan seksama. Jika biasanya postingan tentang dirinya penuh dengan komentar buruk, kali ini malah banyak yang membelanya. Jikalau ada yang tidak setuju akan postingan tersebut, komentarnya langsung ditentang oleh yang lainnya. Selain komentar yang membelanya, banyak juga komentar dari teman-teman Gio ataupun David yang risi karena tidak dapat mendekati keduanya sebab takut kepada penggemarnya—padahal terkadang mereka butuh untuk urusan sekolah.

Postingan tersebut benar-benar menjadi buah bibir yang menggemparkan forum anonim itu. Meski sudah sejak semalam postingan itu muncul, tetapi selama Arumi membaca kolom komentar pun, masih banyak lagi komentar baru yang berdatangan. Banyak di antara mereka yang ikut berkeluh kesah, ada juga yang berterima kasih kepada sang pengirim sebab sudah mewakilkan isi hati mereka. 

"Gimana?" Mata Chika mengerling cerah bagai kembang api, tampaknya begitu antusias karena setelah sekian lama Arumi akhirnya tertarik juga.

Arumi menoleh lalu mengembalikan ponsel di tangan. "Apanya yang gimana?" ucapnya sembari melengggang pergi.

"Ya ... perasaan lo gitu? Setelah sekian lama akhirnya ada yang belain?" Chika mengekor dengan tenang.

Arumi memainkan bibirnya. "Well, gak seburuk itu," jawabnya cuek.

Chika mengangkat sebelah alisnya. "Oh ...." Diam-diam menarik sudut bibirnya, ia tertawa dalam hati. Melihat langkah Arumi yang lebih ringan dari sebelumnya, sepertinya suasana hati gadis itu sedang baik. Sejak awal Chika sudah menebaknya, meski Arumi selalu bilang tidak peduli dengan semua cemoohan yang ada, di sudut hati terkecilnya ia pasti merasa terluka.

"Kenapa gue gak kepikiran bikin postingan kaya gitu ya?" Chika mengaitkan lengannya pada Arumi sambil mengerucutkan bibir. "Metode gue salah ...."

Sebenarnya selama 'Hi, gem!' gempar soal Arumi, Chika selalu memposting foto-foto Gio yang sebelumnya tidak pernah ia unggah ataupun jual. Semuanya adalah kumpulan foto terbaik yang pernah ia ambil dan merupakan koleksinya sendiri. Ia bahkan mulai mengambil foto David dan mempostingnya juga. Ia kira dengan begitu maka postingan-postingan buruk soal Arumi akan berkurang. Meski hasilnya cukup bagus, tetapi tetap tidak dapat dibandingkan dengan efek dari postingan semalam.

"Lo cukup membantu kok." Arumi menepuk kepala Chika dengan tangan kanannya. "Dengan lo inisiatif aja, gue udah berterima kasih."

Senyuman Chika mengembang. "Hoho ... harus dong!"

Arumi tersenyum simpul.

"Btw, lo gak penasaran sama yang ngirim postingan tadi?"

Arumi menghentikan langkah. "Hm ... enggak sih."

Chika mengernyit. "Kok bisa?! Gue penasaran setengah mati padahal!"

Arumi mengedipkan mata berkali-kali lalu tertawa hambar setelah melihat wajah serius Chika. "Gue tahu soalnya."

"Eh?!" Chika melotot. "Siapa?!" Ia meraih pundak gadis itu menggebu-gebu.

"Hater nomor satunya Kak David."

Jauh setelah menuruni tangga, menyebrangi lapangan, dan melewati perpustakaan, tepatnya di gedung kelas dua belas. Denis yang tengah mengecat papan kayu untuk kebutuhan stan festival dikejutkan oleh kedatangan tamu tak diundang.

"Butuh bantuan?"

Denis menghela napas. Tanpa perlu menoleh, ia sudah tahu siapa pemilik suara itu. Sambil mencelupkan kuas ke dalam kaleng cat, ia berkata, "Gak ada siapa-siapa di sini, lo kalau mau caper cari mangsa lain."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 06, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Be(Twins) [Slow Update]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang