3

4.2K 487 14
                                        

Senja melihat punggung Barry yang sedang membuka pintu rumahnya. Senja hanya diam membisu. Hari sudah malam Ketika Senja sampai disini. Ia tidak bisa melihat dengan jelas rumah Barry. Penerangan tidak terlalu bagus.

Rumah Barry benar-benar di kampung. Bahkan Ketika tadi mengantarkan Pak Hasan ke rumahnya, mereka masih menempuh 15 menit perjalanan.

"Masuk."

Senja masih diam membisu.

"Mau di luar aja?"

Senja menggeleng dan langsung masuk ke dalam rumah tersebut., "Ini di tutup?"

Barry baru saja menaruh jaket di sofa using miliknya melihat kearah Senja yang diam di depan pintu, "Iya. Kecuali kamu mau ada nyamuk masuk." Barry menghela napas kasar, "Kamu bikin diri kamu senyaman mungkin. Disini kamu akan tinggal juga."

Senja mengangguk.

"Di kampung beda dengan di kota, semua tidak tersedia. Nggak bisa minta macem-macem. Tetangga juga besok pasti akan ke sini untuk melihat kamu. Sikap pun harus dijaga."

"Iya."

"Semua apa adanya disini. Beda dengan kehidupan kota."

"Iya, aku tau." Ucap Senja kesal, "Aku juga nggak minta apa-apa kan? Aku Cuma diam aja daritadi."

"Yaudah aku mandi dulu."

Senja diam saja melihat sekeliling. Tidak ada foto atau pajangan apapun di rumah ini. Di ruangan ini hanya terlihat sofa using, sebuah TV saja. Di sampingnya ada dua kamar tersedia. Cat di ruangan ini sudah memudar, beberapa bagian bahkan sudah mengelupas.

Senja agak masuk ke dalam untuk melihat dapur. Senja lebih menahan napas pelan melihat keadaan disini. Lantai dan tembok hanya disemen tanpa keramik dan cat. Beberapa alat masak sudah berdebu, kompor penuh dengan minyak bekas memasak. Meja makan hanya di lapisi dengan taplak dengan bau yang tidak sedap.

Kok bisa Barry tinggal disini?

Barry keluar kamar mandi melihat Senja yang sedang melihat keadaan dapurnya. "Kenapa?"

Senja menggeleng, "Udah berapa lama kamu nggak bersih-bersih?"

Barry menggosokkan rambutnya dengan handuk, "Menurut kamu saya punya waktu?"

Senja berdecak,"Kamu tinggal sendiri?"

Barry hanya berdeham dan meninggalkan Senja sendiri. Otomatis Senja langsung mengikuti Barry masuk ke dalam.

Barry membuka salah satu pintu yang ia yakini kamar Barry, lalu dimana kamar Senja?

"Kamar aku dimana?"

Barry melihat Senja tipis. Gerakan tangannya langsung membuka kedua kamar tersebut.

Kamar pertama yang di buka Barry ada kasur yang tidak terlalu besar. Bukan ukuran queen tapi juga bukan single, kasurnya diukuran itu. Sedangkan kamar satu lagi, ada kasur single tetapi dipenuhi barang-barang. Senja yakin itu berdebu.

"Setiap hari aka nada Bi Laksmi yang datang membersihkan rumah dan mencuci pakaian. Kita nggak mungkin pisah kamar. Nanti sekampung akan tau juga."

"Yaudah, aku aja yang mencuci dan membersihkan rumah?"

"Dan kamu membiarkan Bi Laksmi nggak mendapatkan pendapatan?" ucap Barry, "Bi Laksmi punya 4 anak yang masih kecil dan suaminya penjudi. Dia butuh pekerjaan itu."

Senja diam, padahal Senja juga butuh pekerjaan disini. "Aku juga butuh pekerjaan. Aku bisa mencuci dan membersihkan rumah. Kamu tinggal menggajiku."

"Nggak." Ucap Barry, "Keputusanku tidak akan pernah ada yang bisa merubah. Sekali tidak tetap tidak."

Barisan Senja [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang