Semenjak ada Senja di rumahnya, entah mengapa Barry hanya ingin cepat sampai di rumah. Setidaknya ia ingin membantu Senja ketika wanita itu mengalami kesulitan. Tetapi, itu tidak terjadi. Senja seakan bisa hidup dengan baik di rumahnya. Wanita itu tidak peduli dengan keterbatasan yang ada Senja benar-benar tidak menyusahkannya.
Ketika Barry sampai rumah, ruang tamu dan dapur tidak ada orang. Lalu Barry mendengar suara dari dalam kamar.
"Iya, adek nggak mau angkat video call abang sengaja." Suara Senja terdengar. Ternyata Senja lagi telponan dengan Langit.
"Kenapa?"Suara Langit terdengar, "Kamu baik-baik aja kan? Barry baik sama kamu kan?" tanya Langit.
"Baik. Baik banget malah. Aku malah dikasih uang jajan. Sebenarnya, mau adek tolak. Karena kata Bang Langit kan aku nggak boleh dapet uang dari laki-laki manapun kan?"
"Terus?"
"Kata Barry, aku udah jadi tanggung jawab dia. Jadi, terima aja. Toh, uangnya untuk beli makan dan lain-lain."
"Dek.." kali ini suara wanita lembut, Barry bisa asumsikan itu adalah ibunya. "Kamu harusnya manggil Barry itu abang loh. Kelihatannya dia juga lebih tua dari Langit. Nggak sopan, dek. Kamu harus baik sama dia. Toh, nak Barry baik banget sama kamu kan?"
"Ih, aneh bu kalau tiba-tiba aku panggil Bang Barry. Masa tiba-tiba." Suara Senja menjawabi, "Baik banget memang, bu. Katanya kita berhutangnya sama Pak Hasan, jadi dia nggak ada campur tangan sama hutang kita. Sisa uang yang dia kasih boleh aku simpen."
"Titipkan salam sama Barry, ya nak." Terdengar suara isakkan kecil.
"Tuh kan! Ini nih yang bikin aku nggak mau video call. Nanti aku ikut nangis." Suara Senja bahkan sudah bergetar. "Bang Langit kerjanya nggak usah gila-gilaan. Adek tau susah nyari 500 juta. Pelan-pelan aja."
Sejenak Senja berpikir, kalau ternyata Barry dan Anna mau menikah dan kembali? Bukannya dirinya menjadi halangan untuk keduanya? Mungkin nanti Senja harus tanyakan pada Barry.
"Abang kira kamu nggak mau video call karena muka kamu biru-biru terus takut ketauan kita."
"Kebanyakan nonton film."
"Dek, kamu bantu urus rumah Nak Barry. Belajar masak seenggaknya Cuma itu yang bisa kamu lakuin untuk membalas kebaikan dia."
"Bu, Senja nggak usah dibilang bersih-bersih. Nggak usah ditanya pasti dia bersihin. Diakan nggak betah liat rumah kotor." Ucap Langit, "Debu dikit aja langsung bebersih. Semenjak kamu nggak ada, kamar abang merdeka!"
"Ih! Pasti kamar Bang Langit ancur kaya kapal pecah. Pokoknya pas adek pulang kamar Bang Langit harus bersih dan wangi. Kuman bang kuman!"
"Udah-udah kok malah rebut-ribut. Dek, ibu kangen besok kita video call ya."
"Iya. Besok pagi adek angkat video call-nya. Tapi, bang Langit jangan disitu."
"Kenapa? Kamu emang nggak kangen sama aku?"
"Justru itu, adek kangen banget sama kalian. Tapi, adek harus kuat ya. Bang Langit sama ibu juga ya!" ucap Senja sudah terisak, "Adek matiin telponnya dulu ya."
Barry langsung duduk di sofa usangnya. Tidak lama Senja keluar masih mengusap matanya.
"Loh, Bang Barry udah pulang?"
Barry tersenyum kecil, Senja memang anak penurut. Ia bahkan langsung memanggilnya dengan kata Bang hanya karena ibunya menyuruhnya.
"Udah. Kamu habis ngapain?"
Senja menggeleng, "Habis telponan sama ibu dan Bang Langit."
Suara ramai terdengar di depan, Senja dan Barry langsung keluar melihat. Beberapa bapak-bapak sudah berdiri mengucap salam.
"Masuk, masuk." ucap Barry.
Ada empat bapak-bapak duduk di ruang tamu. Membuat Senja otomatis ke dapur mengambilkan air. Senja melihat bapak-bapak tersebut memberikan uang kepada Barry. Tetapi, Senja tidak mau terlalu ikut campur. Setelah memberikan air niatnya Senja ingin masuk ke dalam kamar tetapi suara salah satu bapak membuatnya diam sebentar.
"Wah, Nak Barry sudah enak. Sudah ada yang urusi. Makin berisi."
Senja melihat wajah Barry yang tersenyum, membuat Senja salah tingkah melihat senyum Barry. Entah, senyumnya hari ini membuat Senja kesulitan menghirup oksigen. Senja buru-buru masuk ke dalam kamar. Ia harus menetralkan hatinya. Kenapa tiba-tiba melihat Barry tersenyum ada reaksi aneh dari dirinya?
Ketika sudah mau tidur, Barry sudah berbaring di tempatnya, sedangkan Senja masih membereskan perkakasnya. Ia baru saja menggunakan pelembap dan lainnya untuk wajahnya.
"Bang Barry." Ucap Senja.
"Kenapa?"
"Aku mau tanya tapi kamu jangan marah."
"Tergantung. Pertanyaan kamu bikin saya emosi nggak."
Senja berdecak, "Kalau sudah berumur, nggak boleh emosi. Udah ada contoh yang sering emosian terbaring stroke gitu aja. Aku yakin, Bang Barry nggak mau nyusul kan?"
"Kamu mau tanya pertanyaan aja pake merembet ke umur segala. Pake bawa-bawa penyakit. Kamu mau tanya atau nyumpahin?"
Senja terkekeh, "Inget umur jangan suka emosian." Senja diam sejenak, bingung juga sebenarnya mau bertanya gimana tetapi ini menyangkut dirinya juga. Senja tidak ingin dianggap sebagai penghalang. "Bang Barry sama Anna itu?"
Barry melihat kearah Senja, ia tidak tau maksud dari pertanyaan Senja. "Kamu udah pernah nguping kan? Harusnya kamu tau."
"Bukan. Maksudnya aku, kalian kan memang ada rencana mau nikah atau mungkin kalian bisa kembali bersama. Tapi, aku takut jadi penghalang untuk kalian. Maksudnya karena aku, hubungan Bang Barry dan Anna semakin rumit."
Barry menghembuskan napas, ia menutup matanya. "Kamu nggak perlu pikirkan yang aneh-aneh. Cukup fokus sama diri kamu sendiri aja. Nggak usah mikirin saya."
Barry langsung membuka matanya, ketika Senja menyentuh tangannya. Sebenarnya gerakan ini mungkin reflek semata tetapi Barry bisa merasakan kelembapan dan halus tangan Senja di kulitnya.
"Ih bukan gitu maksudnya. Aku nggak mau Anna semakin menjauh dan aku memperkeruh keadaan kalian. Bang Barry boleh kok bilan g kalau pernikahan ini emang udah rumit."
Barry duduk, ia sedikit kesal ketika mendengar Senja mengatakan pernikahan ini rumit. "Mungkin bagi kamu pernikahan ini semudah itu untuk diakhiri. Tapi, untuk saya? Saya merasa pernikahan ini tidak salah. Kamu sudah menjadi istri saya. Tidak usah memikirkan Anna atau yang lainnya. Kamu cukup fokus dengan kehidupan kita. Kenapa harus mikirin tentang orang lain? Emang pernikahan ini sebegitu tidak pentingnya ya di mata kamu?"
Barry melihat Senja diam saja, ia langsung membaringkan tubuhnya dan memunggungi Senja. Seharusnya memang Barry tidak perlu seemosi itu. Tetapi entah mengapa, ia hanya tidak suka Senja menyepelekan pernikahan ini.
Senja sendiri diam membisu ketika mendengar penuturan dari Barry. Maksud baiknya seakan tidak diterima Barry. Padahal Senja ingin Barry tidak kehilangan orang yang ia cinta karena dirinya. Bagaimanapun jika Senja jadi Anna pasti sakit rasanya melihat laki-laki yang ia cinta tiba-tiba menikah dengan orang lain kan? Apalagi ditambah kelihatannya Barry masih mencintai Anna.
"Aku minta maaf." Ucap pelan Senja ketika ia melihat punggung Barry.
Suara Senja membuat Barry diam, ia hanya kesal tetapi tidak tau kesal kenapa. "Tidur." Hanya itu yang bisa ucapkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Barisan Senja [TAMAT]
RomansSenja membenci bapaknya, dari dulu hingga sekarang bapaknya selalu menjadi alasan atas kesedihannya. Belum cukupkah Senja menderita ketika harus mendapat caci, maki dan samsak ketika ayahnya marah? Sekarang Senja bahkan harus menjadi jaminan dan m...
![Barisan Senja [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/321309847-64-k456602.jpg)