15

4.4K 578 22
                                        

Senja melihat Barry yang sibuk memilih motif keramik dan cat dinding yang akan digunakan di dapur. Senja merasakan hatinya tergelitik geli ketika pendapatnya dibutuhkan oleh Barry ketika laki-laki itu sedang ingin merenovasi rumahnya. Padahal itu semua adalah hak Barry, ia tidak perlu bertanya pendapat Senja.

Senja sama sekali tidak memiliki hak tentang rumah itu. Bahkan dirinya baru saja tinggal di rumah itu selama tiga bulan.

"Jadi mau warna apa keramiknya?" tanya Barry memegang lengan Senja agar wanita itu bisa memilih keramiknya.

"Aku bebas aja. Kamu maunya gimana?"

"Kamu kan yang di dapur terus. Aku kan di luar, jadi ini terserah kamu."

Tau kan tiba-tiba hati merasa hangat? Merasa dihargai dan diinginkan. Seperti merasa jika Barry menginginkan Senja terus menerus di hidupnya dan mereka akan bersama selamanya, padahal pengikat kuat antara mereka masih hutang bapak. Bukan cinta yang ternyatakan.

Mungkin justru itu yang membuat Senja tersentuh. Pernikahan mereka bisa dibilang tiba-tiba, tidak ada cinta, hanya terikat hutang tetapi Barry justru mau melibatkan Senja ketika ia memperbaiki dapur rumahnya.

"Yaudah putih motif marbel ini aja boleh?"

"Cat temboknya?"

"Putih aja ya?"

"Yaudah pak. Keramik ini dan cat ini ya. Diantar Senin saja ya."

Senja melihat kearah Barry, ia tidak menyangka jika Barry akan menuruti semua pilihannya. Entah, segala perasaan Senja bercampur aduk antara senang dan terharu.

"Ayuk." Ucap Barry menggandeng tangan Senja, "Kita ke satu toko lagi baru kita istirahat ya."

"Mau kemana?"

"Beli penyaring air." Ucap Barry mengusap kepala Senja, "Istriku nggak suka air yang tidak bening. Suaminya udah mulai bangkrut beli air gallon terus."

Senja berdecak, "Seriusan?"

"Iya serius. Nanti juga kamar mandi kamu atur segimana terserah kamu ngomong aja sama Pak Karsa. Dia yang bantu untuk merapikan dapurmu."

Senja memeluk pinggang Barry secara reflek, membuat Barry juga memeluk pundak Senja. "Kamu nggak perlu lakuin itu hanya untuk aku, kamu tau kan?"

Barry melihat wajah Senja yang melihat kearahnya juga. Jarak mereka sangat dekat, jika saja ini bukan di luar sudah pasti Barry akan mengecup bibir Senja. Pelukkan mereka saja sudah mengundang mata kearah mereka. "Tau. Tapi biar hariku tenang juga nggak dikejar-kejar bunda. Mungkin emang rejekimu karna jadi kesayangan bunda."

Senja tersenyum, "Masa sih?"

Barry mengangguk, "Bunda melebihi alarm tau nggak. Ngomong tentang benerin dapur, wc dan rumah biar enak dilihat. Kasian Senja. segala macem sampe aku hapal. Jadi, demi kepentingan dan kebahagian bersama kita lakukan ini."

Senja merasa dunianya hampir saja berakhir ketika harus membayar hutang bapak yang nominalnya begitu banyak. Ia juga tidak pernah berharap mendapatkan perhatian dan kebaikan Barry sebegininya. Ini lebih membuat Senja merasa tidak enak, sudah punya hutang besar tetapi diperlakukan sangat baik. Tapi, ia harus sangat bersyukur. Barry memperlakukannya dengan sangat baik.

Banyak hal-hal kecil yang membuat Senja semakin tidak bisa menahan perasaannya. Seperti Barry yang membuka dan menahan pintu ketika mereka masuk, Barry yang mengurus segala hal untuk penginapan mereka, Barry yang memaksa membawakan tas dan koper Senja. Senja merasa dirinya berlebihan memang tetapi itu yang ia rasakan. Semakin hari perasaannya semakin dalam karena sikap Barry terhadapnya.

Barry membuka pintu kamar hotel yang ia pesan, ia tidak pernah bertindak seperti ini. Jika dulu ada acara seperti ini, sudah pasti lebih baik Barry tinggal di rumah Reza. Tapi sekarang ia harus memikirkan Senja. Mungkin saja Senja tidak nyaman tinggal atau menumpang di rumah Reza.

"Kamu cuci-cuci dulu aja. Aku beli makanan untuk kita dulu."

Senja mengangguk dan membuka kopernya. Barry sudah keluar dari kamar. Senja langsung masuk ke dalam kamar mandi dan mulai membersihkan diri.

Pancuran air hangat dari shower membuat tubuh Senja sangat rileks. Sudah lama ia tidak merasakan mandi air hangat. Selama tinggal di rumah Barry, Senja selalu mandi air dingin meskipun pagi hari. Kulitnya sudah terbiasa sepertinya. Tetapi, ia tidak sama sekali mengeluh. Air hangat dan dingin bukan prioritas pertama, hal pentingnya adalah air bening. Senja jadi tersenyum, mengingat Barry perhatian terhadap apa yang Senja inginkan.

Senja keluar kamar mandi hanya berbalut handuk saja. Ia ingat jika Barry sedang mencari makan. Tetapi, yang ia lihat ketika membuka pintu kamar mandi adalah Barry yang juga melihat kearah dirinya.

Senja jadi salah tingkah. Jika ia masuk lagi ke kamar mandi juga percuma, karena bajunya di luar. Senja akhirnya memutuskan bertingkah setenang mungkin. Ia tidak boleh terlihat gugup meskipun jantungnya sudah berdetak cepat. Senja mengambil baju dan masuk kembali ke dalam kamar mandi. Membuat Senja harus memegang dadanya dan mengatur detak jantungnya.

Bukan hanya Senja yang berdetak, diluar Barry masih terdiam dan terpaku dengan pemandangan yang baru saja ia lihat. Sebagian hatinya merasa tidak enak dengan Senja, tapi sebagian hatinya lagi senang. Barry masih laki-laki, ia tidak munafik jika ia senang melihat pemandangan tadi. Hanya saja, ia tidak tau harus bersikap bagaimana ketika Senja keluar nanti.

Senja keluar sambil menggosok rambut basahnya. "Makan apa?" Senja sangat berdoa ucapannya tidak seperti basa-basi mencari pembahasan agar tidak canggung.

"Soto Betawi. Aku beli dua itu. Ayam dan sapi."

Barry duduk di hadapan Senja. Mereka makan dengan nikmat sambil bercerita yang lumayan kikuk. Tapi masing-masing dari mereka tidak ada yang berencana menutup obrolan itu agar tidak semakin canggung.

Senja sudah berbaring di kasur. Ia benar-benar merebahkan tubuhnya, perjalanan jauh, mencari keramik dan kebutuhan lainnya benar-benar memakan energy tubuhnya atau justru tubuh Senja sudah mulai manja karena selama tinggal di rumah Barry ia sama sekali tidak bergerak.

Barry sudah keluar dari kamar mandi, menjemur kembali handuknya. Barry berbaring di sebelah Senja.

"Capek?"

"Lumayan. Kamu?" tanya Senja, "Pasti lebih capek ya? Soalnya nyetir."

"Nggak. Aku udah biasa nyetir kota ke desa. Tidur aja kalau capek."

Senja melihat wajah Barry yang melihat kearahnya. Perlahan Senja mendekatkan wajahnya kea rah Barry dan mengecup pelan bibir Barry. "Makasih ya, kamu biarin aku ikut serta dalam renovasi rumah kamu."

Barry tersenyum lalu membalik Senja, Senja bahkan terpekik karena Barry yang membalik posisi mereka.

Barry mencium Senja perlahan dan menuntut. Barry bahkan menahan kepala Senja agar wanita itu bisa mengikuti ciuman Barry. Barry melepaskan ciuman tersebut sebentar agar Senja mengambil napas. Tidak lama karena setelah itu Barry langsung mencium Senja kembali.

Ciuman itu turun ke leher jenjang dan putih Senja membuat Senja merasakan perutnya geli tak. Ada perasaan aneh dari dalam dirinya ketika Barry mencium lehernya.

Barry menghentikan semuanya lalu melihat kearah Senja, "Aku kayanya harus nginap di tempat Reza aja."

Senja mengerutkan keningnya, "Kenapa?"

"Kalau aku tetap disini, aku bisa kehilangan penguasaan diri."

"Penguasan diri untuk?"

"Buat cucu untuk bunda."

Senja melihat lekat Barry. Wajahnya masih berjarak tidak jauh dengan dirinya. "Emangnya bunda udah minta cucu?"

"Cuma alesan aja. Aku yang lemah nggak bisa nahan diri." Ucap Barry bangkit duduk.

Senja juga otomatis ikut duduk dan memegang tangan Barry, "Kalau nggak bisa nahan diri, yaudah. Kamu tinggal minta ijin sama aku."

Barry mengusap pelan kepala Senja, "Emang kamu bakal ijinin?"

Senja mengerucutkan bibirnya seakan berpikir, belum Senja menjawab Barry sudah menyerang bibirnya kembali, "Persetan dengan ijin. Aku Cuma mau kamu sekarang." 

Barisan Senja [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang