10

4.1K 598 31
                                        

Barry sudah mulai gerah dengan tingkah bunda yang meminta aneh-aneh dari Senja. Meskipun Senja biasa saja dan mengabulkan apa yang diminta oleh bunda tetapi Barry tidak tega saja.

Kemarin Bunda meminta rendang, padahal Senja sudah bilang tidak bisa tetapi bunda dengan mudah bilang akan memasak bersama. Jadilah, kedua wanita itu sibuk di dapur dari pagi hingga siang.

Setelah itu, bundanya juga mengajak Senja untuk buat rujak. Membuat Barry benar-benar geleng kepala. Tapi, yang heran. Senja sama sekali tidak mengeluh padanya atas sikap bunda. Jika Anna, ia sudah kabur sejauh mungkin.

Dari dulu bunda tidak pernah suka dengan Anna. Mungkin salah Anna juga tidak tahan dengan sikap bunda yang menyebalkan. Hanya Senja yang tahan. Meskipun Senja masih kecil, tetapi sikapnya sangat dewasa.

"Bun, udah dong ngerjain Senjanya. Kasian." Ucap Barry ketika melihat Senja yang sedang memetic cabai untuk membuat bumbu rujak.

"Senja anak baik, Bar."

"Iya, makanya jangan dikerjain lagi. Kasian."

"Kamu harus jagain Senja loh, Bar. Kalau kamu nyakitin Senja, bunda bisa marah banget sama kamu."

Barry memeluk bundanya dan mengusap lengannya, "Mana mungkin Barry sakitin Senja? Bunda lihat sendiri, dia ngelakuin hal yang dia suka tanpa peduli Barry. Yang ada aku yang sabar-sabar sama Senja." Jelas Barry, "Dari awal disuruh jangan bersih-bersih, ibu lihat sendiri gimana. Cuma satu yang Senja minta dari awal."

"Apa?" Narti penasaran dengan Senja. Anak kota yang tiba-tiba tinggal di kampong itu pasti tidak mudah. Nyatanya, menantunya bisa bertahan dengan keadaan kampung yang semua terbatas. Mungkin di kota Senja dengan mudah mendapatkan semuanya dengan mudah berbeda dengan di kampung. Semua terbatas.

Narti tau, dibalik pernikahan Barry dan Senja. Pak Hasan sudah bercerita. Meskipun pernikahan mereka dilandasi dengan permasalahan, Narti sekarang malah berharap mereka berdua bisa menikah sungguhan. Narti sangat menyukai Senja meskipun ia tidak bisa bilang sekarang.

"Air mineral gallon buat sikat gigi."

Narti tertawa, "Nggak heran. Bunda lihat dia suka banget bersih-bersih rumah."

"Emang. Bunda bisa lihat rumah Barry disulap segimananya sama Senja."

Narti mengangguk, untuk itu ia tidak bisa berkomentar. Menantunya melakukan dengan baik semuanya. Sekarang mereka hanya harus membuka hati. "Yaudah, nanti sore bunda pulang. Kasih bunda cucu segera ya."

Wajah Barry sudah tidak bisa dikondisikan. Ia yakin, wajahnya memerah mendengar permintaan bundanya.

Cucu? Mana mungkin tiba-tiba mereka punya anak. Hubungan mereka tidak sejauh itu.

*

"Loh, kok ibu bawa barang-barang ibu? Kenapa? Ada tikus?"

"Nggak, udah waktunya pulang ini. Barry udah suruh-suruh pulang."

Senja berdecak, "Nggak usah dengerin Bang Barry."

Narti mengusap lengan Senja, "Ayah juga di rumah nungguin bunda." Ucap Narti, "Panggil bunda saja ya, Senja. Nanti kapan-kapan bunda datang lagi. Boleh kan?"

Senja tersenyum hatinya menghangat mendengar panggilan yang disematkan oleh ibu Barry, "Boleh. Kan rumah Bang Barry."

"Apa yang milik Barry adalah milikmu. Semuanya. Tanpa terkecuali, bahkan Barry sendiri adalah milikmu. Jangan sungkan minta apapun sama Barry karena dia suami kamu. Lapor ke bunda kalau Barry nakalin atau jahatin kamu. Nanti bunda sentil."

Senja tersenyum, "Kalau Senja yang sentil sendiri boleh?"

"Boleh."

Senja memeluk bunda Narti erat, "Maafin Senja yang buat Bang Barry harus menikah sama Senja ya, bun."

Barisan Senja [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang