Range 15+
Bangkrutnya pemilik peternakan kuda tempat Mawar bekerja, seperti menjadi skenario Tuhan untuk mempertemukannya dengan Rudi. Mawar dengan segala keunikannya berhasil mengambil tempat istimewa di hati Rudi. Sayangnya, peternakan kuda yang d...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mobil Rudi memasuki gerbang villa mewahnya, mentari sudah tak terlihat lagi, namun langit gelap terlihat tetap indah dengan ribuan bintang yang menghiasinya. Meski keindahan langit tidak serupa dengan suasana di villa mewah milik Rudi ini. Seluruh penghuni villa ini terlihat sangat tegang sembari menunggu kedatangan Rudi, termasuk di antaranya si Mbok, Angeline, Bapak Terah Wijaya dan Ibu Ratih Wijaya serta seluruh pekerja di villa ini. Sedangkan Rudi berjalan tanpa rasa berdosa saat memasuki pintu utama.
“Rudi!” bentak Ibu Ratih Wijaya menyambut kedatangan Rudi. Langkah Rudi terhenti, ia menoleh ke kanan. Ia melihat semua orang sudah berdiri di sana dengan wajah ketakutan, kecuali Angeline, Ibu dan Pak Terah Wijaya. “Malam, Ma. Maaf Rudi telat, tadi ...,” ujar Rudi sembari berjalan mendekati mamanya.
“Maaf kamu bilang? Setelah kamu bikin kami menunggu selama ini, dengan gampangnya kamu bilang maaf?” bentak Ibu Ratih Wijaya memotong penjelasan Rudi. Rudi terdiam, ia memandang wajah ibunya dalam-dalam. Namun ia justru mengalihkan pandangannya ketika Ibu Ratih Wijaya memalingkan wajah ke arahnya. Suasana hening sejenak, sejurus kemudian Rudi melangkah kakinya hendak meninggalkan ruangan ini.
“Rudi!” bentak Ibu Ratih Wijaya sekali lagi menghentikan langkah Rudi, namun Rudi tak mengeluarkan sepatah kata pun.
“Kamu ini gimana sih, Rud? Sudah bikin kita menunggu lama, bukannya bicara malah pergi tanpa suara. Duduklah dulu, bicara baik-baik dengan mamamu.” Pak Terah Wijaya berusaha menengahi anak dan istrinya.
“Maaf, Pa. Tapi rasanya percuma Rudi bicara, kalo Mama belum bisa meluangkan hatinya untuk mendengarkan penjelasan Rudi,” jawab Rudi diplomatis, namun ia enggan membalikkan badannya. Ibu Ratih Wijaya membuang muka saat Pak Terah Wijaya menatap wajahnya yang masih mencerminkan betapa keras hatinya. “Tapi Rudi, kamu juga harus menghargai Mama kamu. Sebagai anak seharusnya kamu patuh, bukannya mengabaikan permintaan Mama kamu lantas pergi tanpa memberikan penjelasan,” kata Angie dengan nada memelas.
“Ini bukan urusan kamu! Tolong jangan ikut campur! Kalo kedatangan kamu hanya memperkeruh suasana atau bahkan mengadu domba aku dengan orang tuaku, sebaiknya kamu pulang! Kamu bukan bagian dari keluarga kami ‘kan?” lanjut Rudi masih membelakangi mereka. Kali ini nadanya begitu santai namun arogan dan menusuk-nusuk hati Angie. Tanpa sadar air mata Angie mengalir membasahi pipinya, kata-kata Rudi begitu menoreh luka di hatinya.
“Rudi! Bicara apa kamu ini? Angie ini calon istri kamu! Tidak sepantasnya kamu bicara seperti ini sama Angie!” bentak Ibu Ratih Wijaya, ia semakin murka pada anaknya. Rudi melangkah kakinya meninggalkan ruangan ini menuju kamarnya setelah mendengar ucapan mamanya. “Rudi! Rudi!” bentak Ibu Ratih Wijaya berusaha menghentikan langkah Rudi, tapi Rudi tak menghiraukan ucapan ibunya itu.
🌹
MAWAR terbaring di tempat tidurnya, matanya masih terbuka lebar memandangi langit-langit rumahnya. Terngiang kembali kejadian tadi siang. ... Rudi mendekati Angie, setali tiga uang Mawar juga menyusul langkah Rudi.