Chap 25. Perang Dingin

259 14 1
                                        

Sejak kejadian daddy emosi itu kediamana nayatama hanya dingin tidak ada interaksi hangat  seperti biasa antara anak dan daddy, atau antara suami dan istri semuanya berjalan mengalir aja. Anak-anak hanya menegur daddy ketika mau pamitan berangkat sekolah, sang mammy masih menyiapkan perlengkapan kantor daddy tanpa ada pelukan atau kecupan ringan ala suami istri

Seperti pagi ini, mammy bangun hanya menyiapkan perlengkapan kerja dady setelah itu memilih keluar tanpa memberika kecupan selama pagi kepada suami. Jo hanya mengelas napas selepas istrinya pergi, bahkan malam tadi al benar benar tidsk bicara bahkan menolah dipeluk jo.

Sama seperti kamar al hanya menyiapkan Sarapan jo ala kadarnya tanpa obrolan singkat. Begitu juga dengan anak anak hanya sarapan dalam diam. Jo sepertinya tau emosi dia kemaren berdampak sesuatu ke keluarga mereka. Setelah selesai sarapan anak-anak pamit berangkat mereka lebih milih diantar oomnya daripada daddy mereka

"Ayo om d sudah jemput di depan" ucap mammy, jo hanya nemperhatikan mereka bertiga

"Bekal kakak smaa harsen di dalam tas nanti di makan yah"

"Siap mammy" setelah bersalaman Dengan daddy mereka mereka latas langsubg panit dengan mengecup pipi sang mammy

"Semangat sekolahnya sayang mammy"

"Dadah mammY" sepeninggalan anak-anak al langsung bergegas melalukan aktivitas bisanya menjelang bibi datang tanpa menghiraukan jo yang masih memperhatikan sang istri

Telpon genggam al berbunyi memperlihatkan nama yang membuat jo  bertanya kenapa laki laki itu menelpon istribya di pagi hari. Tanpa pikir panjang al menjangkau dan menbawa nya jauh dari jo.

Jo masih memperhatikan sang istri yang sedanfgasyik berbicara dengan muka bahagia. Setelah selesai barulah al masuk kembali

"Siapa?" Tanya jo, al hanya dia tanpa menganggapi pertanyaa jo lebih memilih meletakan kembali semua bahan untuk sarapab ke dalam kulkas

Setelah mendekat dimeja makan dengan keberanian jo menahan tangan al denga sedikit kuat.

"Aku lagi bicara sama kamu"

"jo lepas aku mau beresin meja"

"Jawab pertanyaan aku al"

"Pertanyaan apa?"

"Siapa yang nelpon kamu pagi pagi"

"Client"

"Client atau sehan?. Kenapa kamu kelihatan senang dapat telpon dari dia"

"Ada yang salah?"

"Salah al,kamu sudah jadi istri aku kamu sudah jadi ibu dari 2 anak"

"Ngga pantas kamu bahagia nerima nelpon lagi dari laki-laki lain"

"Aku hanya bahas bisnis"

"Dengan mantan pacar? Harus yah al? Atau kamu rindu sama dia gitu? Mau balik sama dia?"

"Kamu ngomong apa sih jo"

"Kalau kamu kangen sama dia silahka Al ketemu"

Tinggg

"Al jangan lupa jam 10 aku kebuti" begitulah pesan singkat yang dikirim dan berhasil membuat jo geram

"Kamu mau ketemu dia?"

"Aku masih suami kamu al ngga pantas kamu bertemu laki laki lain tanpa ada suami lamu"

"Apa kamu mau pisah dari aku" pertanyaan jo berhasil menimbulkan pertanyaan dalan diri al, bagaiman bisa jo berkata sepeti ini

"Oke al itu yang kamu mau kan silahkan. Aku Ngga bakal ngelarang kamu. Mau kamu jalan sama dia terserah kamu al"
jo langsung pergi meninggalkna al tanpa mendengar penjelasan al dulu setelahmendengar mobil jo menjauh, runtuh sudah pertahan al yang dia tahan dari kemarin.

Marhen Harsen vs daddyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang