21. Pendaftaran.

5 1 0
                                        

Hari ini pendaftaran untuk menjadi bagian dari organisasi osis SMA BINSANA dibuka, dengan kapasitas 100 orang.

Dan untuk kelas 11 dibuka pendaftaran bagi yang berminat menjadi ketua osis dan inti lainnya.

Binara duduk di samping pintu masuk ruang osis untuk mendata siwa siswi yang mendaftar.

Ditemani Ria, dirinya sibuk mempersiapkan formulir pendaftaran dan mencatat nya dalam buku osis.

"Buka sekarang Nar" tanya Ria

"Boleh"

Pendaftaran dibuka pukul setengah delapan.

"Gimana beres kan" tanya Rio tiba tiba

"Aman"

"Sudah berapa banyak"

"Baru 20" Binara jawab

"Buset cewe semua"

"Iyalah karna ada si Ahdan noh" semprot Ria

Mereka hanya menggelengkan kepalanya karan memang benar adanya, dari mereka rata rata mendaftar hanya untuk bisa berkomunikasi dengan si Ketos.

"Lo udah enakan Nar'' tanya Ria.

"Udah"

"Kemaren kenapa"

"Nothing"

"Eh tapi si Ahdan panik bener kemaren" cerocos Rio

"Iya bener, sampe langsung bawa lo ke RS" Ucap Ria

"Kaget gue, baru pertama liat dia begitu"

Binara hanya tersenyum tipis mendengarnya, membiarkan mereka berceloteh sesuka hati.

Binara menyerahkan formulir kepada anak yang mendaftar dan sudah ada 50 orang.

"Calon ketos belum ada" tanya Ria

"Ada di Ahdan" jawab Rio

"Udah  istirahat nih, makan dulu ayo" ajak Ria

"Boleh, kantin mana" jawab Rio

"Dalem aja ya kan Nar"

Binara hanya mengangguk saja dan mulai membereskan peralatan mereka untuk dimasukan keruangan osis sementara.

Mereka bertiga berjalan keluar kearah kantin indoor, yang biasanya hanya beberapa murid saja karna kantin itu seperti cafetaria.

Memesan makan berat tapi hanya si duaR saja, sedangkan Binara hanya desert dan matcha dingin.

Hening, mereka sibuk dengan ponselnya sambil menunggu makanan datang tanpa ada percakapan singkat.

Makanan datang, mereka langsung menghabiskan nya tanpa menoleh kemanapun.

"Itu Ahdan" celetuk Rio

Binara tersedak minuman dan langsung menatap Rio.

"Yaudah biarin aja kenapa sih ribet amat"

"Yakan refleks"

"Binara kaget itu"

"Sory Nar, gapapa kan"

Binara hanya mengangguk saja dan acuh akan keberadaan Ahdan.

"Buru keruangan" suruh Ahdan saat tiba dimeja mereka

"Sabar kenapa sih ngga liat lo kita lagi makan"

Ria kesal, mood hancur karna Ahdan. Ahdan pergi menghilang mereka kembali hening.

Drttt...

Ponsel salah satu dari mereka berbunyi ada panggilan masuk via seluler.

"Ponsel lo Nar"

Binara izin mengangkat panggilan sebentar.

"Apa"

"Lagi makan"

"Gabisa"

"Aku bilang gabisa"

"Nanti datang"

"Iya"

Mematikan sambungan telepon sepihak dan menatap lama layar ponsel yang kini masih ada riwayat panggilan dari  orang itu.  Binara menghela napas sejenak.

"Selalu begini" batinnya.

Kembali duduk dengan mereka berdua, dan langsung diserbu pertanyaan oleh mereka.

"Siapa Nar" tanya Ria

"Kepo lo" semprot Rio

"Ada, orang biasa" jawab Binara.

"Ayo balik guys"ajak Rio

Mereka pergi setelah membayar tentunya dan meninggalkan cafetaria dengan keadaaan kenyang.

Berjalan  beriringan sesekali berbicara singkat tapi tidak dengan Binara yang hanya diam sambil membaca proposal.

"Yang ambil proposal siapa" tanya Ria

"Gue"

"Udah emang"

"Udah beres"

"Ahdan nanya lo Nar" Rio berucap

"Otw"

Binara berbelok kearah kiri menuju kelas Ahdan sedangkan Ria dan Rio menuju ruang osis untuk melanjutkan acara pendaftaran.

Binara berjalan dengan membawa proposal yang sudah ditanda tangani oleh Pak Rudi.

"Teh"

Binara berhenti, tanpa berbalik badan itu pasti Rama. Hanya Rama yang memanggil dirinya dengan sebutan Teh .

"kemana"

Kali ini berbalik sambil menunjukan kertas proposal kearah Rama. Rama paham Binara sedang sibuk.

"Rama daftar osis"

"Tapi bukan Teteh yang nge data" lanjut Rama

"Iya"

Binara pergi, meninggalkan Rama sendiri. Tanpa diketahui oleh mereka ada sepasang mata yang melihat mereka berbincang.

Binara ditarik mendadak kearah samping kelas dan bahu dicengkram begitu kuat.

"Lepas" pinta Binara

"Gatel"

"Ngga"

"Terus tadi apa"

"Diem kan ngga bisa jawab"

"Gue liatin lo kayaknya suka sama dia"

"Ngga"

"Bohong"

"Kalaupun suka, urusan sama kamu apa"

"Karna ini menyangkut gue"

"Apa"

"Sekali lagi gue liat lo sama dia awas lo"

"Aku ga bisa"

"Tinggal ngehindar apa susahnya"

"Susah"

"Dan satu lagi, aku ngga pernah suka sama dia kalaupun dia suka itu urusan dia bukan aku. Dan masih kamu"

Binara pergi meninggalkannya tanpa mengungkit urusan osis yang akan ditanya kannya.









Hallo guys.
Jangan lupa baca dan voment ya
aku butuh dukungan dari kalian.
see you dipart selanjutnya.


Binara (ON GOING)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang