Manik mata warna biru itu masih terjaga, tidak ada tanda tanda kantuk. Susah tidur atau lebih tepatnya tidak bisa tidur itu biasa baginya.
Dari awal sekolah menengah pertama, dirinya sering tidak tidur ngga tau kenapa atau mungkin mengerjakan tugas sampai pagi.
Tapi kali ini beda, bukan mengerjakan tugas tapi tubuhnya lemas seperti jelly.
Setelah meminum coklat dingin tubuhnya langsung lemas dan berkunang-kunang.
Masih tetap terjaga agar tidak pingsan, beberapa kali menarik napas.
Semuanya sudah tidur tinggal dirinya. Si ketos beda dirinya pulang kerumah karna si ketos itu anak pemilik sekolah swasta ini.
Bangun, terus berjalan ke arah kamar mandi, karna rasanya seperti ingin muntah.
Sampai disana dirinya berdiri didepan wastafel, keadaan gelap tidak ada pencahayaan tapi tidak membuat dirinya takut, karna mungkin terbiasa.
Dirasa cukup,berbalik hendak keluar tapi tubuhnya terpental sedikit jauh.
Dijatuhkan oleh seseorang didepannya yang memakai topi, ternyata si ketos lagi.
"Gausah sok kesakitan, ngga guna" ketos berbicara sambil mencengkram kuat dagunya.
"Gue belum puas sama Lo, tunggu besok" akhirnya pergi.
Binara, gadis itu meringkuk didepan pintu kamar mandi sambil memegangi perutnya.
Tetap terpejam sambil menggigit bibir bawahnya tapi tetap saja sakit.
Beberapa jam disana menghalau hawa dingin dari lantai sampai pukul tengah 5 pagi tiba.
Dirinya bangun dan mencuci wajah serta sekalian mandi selagi sepi.
Sempat balik ke ruangan OSIS dan bertemu si bendahara yang sedang solat subuh.
Dirinya acuh dan kembali ke kamar mandi. Selesai semua dirinya berjalan kedepan sendirian. Menuju kursi yang ada di pos satpam sekolahnya.
Ini hari ke2 menginap, masih ada 1 hari satu malam lagi. Sekarang pukul 7 dirinya sudah bersih sedangkan yang lain sedang mengantri untuk bergantian mandi.
"Si Neng gasik bener disini" ucapan khas orang yang sudah berumur mengalun ditelinga nya.
Dirinya hanya mengangguk sambil menatap pak Joko, satpam sekolahnya.
Sudah biasa bagi pak Joko mendapat respon seperti itu, beliau duduk disampingnya.
"Ini bapak kebetulan bawa coklat hangat 2 gih ambil buat kamu 1"
Spontan dirinya bergeser mendengar kata coklat dirinya masih terkejut soal semalam, menghadirkan kerutan didahi beliau.
"Neng kenapa, neng" tepukan dibahunya akhirnya sadar. Kembali menatap pak Joko sebentar kemudian menatao kedepan dengan pandangan kosong.
"Saya ngga minum pak" singkat sekedar memberitahu bukan menolak.
"Loh masa enak gini" dibalas gelengan kecil
"Ya sudah ngga papa, tapi semalem pas bapak jaga kamu minum coklat" hanya senyum kecil tapi seperti senyum kesakitan.
Pak Joko tau, dirinya tidak beres tapi dirinya acuh. Tubuhnya masih memar memar karna masih terasa coklat semalam ditambah dengan perlakuan tengah malam itu.
Untungnya memar itu tidak keliatan karna memakai seragam dan Hoodie hitam oversize atau tertutup oleh alamamaternya.
Tapi lututnya tidak, ada kain kasa yang menempel cukup besar. Diobati sendiri saat selesai mandi tadi.
"Neng kenapa, sini sapa tau mau cerita sama bapak"
Diam sampai pak Joko menarik napas panjang. Sabar.
"Neng ce..."
"Permisi pak" dipotong olehnya yang tiba tiba berdiri dan berjalan ke lapangan.
Pak Joko menatap punggung nya dengan pandangan seperti kasihan, mungkin banyak yang disembunyikan olehnya menurut pak Joko.
Sedangkan dirinya sebelum memasuki lapangan untuk apel pagi, menarik napas dalam-dalam kemudian bergabung dengan yang lain.
Jangan lupa baca ya follow juga.
Saya butuh dukungan kalian sebagai rasa timbal balik
Terimakasih.
KAMU SEDANG MEMBACA
Binara (ON GOING)
Teen FictionFOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA SAYA MINTA TIMBAL BALIKNYA BUAT SAMA SAMA HARGAI KARYA ORANG TERIMAKASIH. Jika ada kesamaan nama tokoh atau tempat pemain saya mohon maaf karna tidak sengaja,ini murni karangan saya sendiri. Tentang Binara, Si gadis pe...
