Sendiri,Binara gadis itu mengunci pintu UKS dari dalam disusul menutup korden sampai semuanya gelap dan sunyi.
Berdiam untuk membuang bayang bayang itu, tapi tetap saja ada.
Duduk diatas brankar UKS dengan mata terpejam,tangan kanan meremas silet dengan kuat.
Tess...
Itu tetesan darah berasal darinya, jatuh mengenai lantai UKS sedikit banyak.
Disusul dengan air mata yang ikut menetes perlahan. Tidak ada suara tangisan, ruangan ini sepi. Dirinya menangis dalam diam.
Tentang pergi nya dari lapangan indoor, dirinya tidak izin karna sudah pasti tidak dicari anggotanya,seperti biasa.
Mungkin acara sudah selesai karna terdengar suara anak anak yang melewati UKS menuju kelasnya.
Mungkin terlalu lama berdiam diri, dirinya berjalan untuk membersihkan tangannya dengan balutan kain kasa.
Beres,dirasa sepi dirinya membuka korden UKS dan membuka pintu yang terkunci.
Pintu ditutup kembali olehnya,dan sebentar dirinya duduk dikursi depan UKS dengan kepala menyender didinding.
"Ini minum teh"
Suara itu seperti suara Rama, membuka mata dan ternyata benar. Rama menyodorkan satu botol air mineral dihadapannya.
Diam,tanpa menerima air itu Rama meletakan di tengah tengah mereka.
"Tangan teteh kenapa"
Masih sama, sedikit kesal bagi Rama tapi tidak masalah, karna menurutnya dirinya lah yang terlalu penasaran.
Menatap wajah Binara yang kini menutup mata kembali, membiarkan Rama duduk disampingnya.
"Sakit ya teh"
"Tetap kuat ya teh, yakin kedepannya bakal lebih baik lagi,percaya sama Tuhan. Kalo butuh temen Rama disini,ada Rama jangan sungkan"
Ucapan yang terakhir membuat Binara menatap dalam mata hazel milik Rama. Sedangkan Rama hanya senyum manis.
"WAKETOS"
Suara itu lagi, kaget tentu saja. Mereka derdua kaget karna suara yang tinggi dan keras itu.
Binara, gadis itu langsung berdiri berjalan kearah Ahdan,suara tadi milik Ahdan.
Meninggalkan Rama dan air mineral itu.
Dirinya disuruh menyiapkan untuk apel siang setelah istirahat selesai. Tinggal 5 menit, dirinya harus menyiapkan semuany.
Lebih dari lima menit belum selesai,semua murid baru sudah baris rapi begitupun dengan OSIS.
Ahdan,si Ketos berdiri di podium sedangkan anggota yang lain berdiri dibelakangnya. Lah dirinya sibuk mengatur semuanya.
Beres, ikut gabung dengan anggota yang lain tapi suara Ahdan lagi lagi terdengar
"WAKETOS,BARIS DIBELAKANG MURID BARU UNTUK MENGAWASI"
Alibi, dirinya merasa dibedakan disini. Tapi tidak mampu menjawab hanya melakukan apa yang diperintahkan.
Baris dibelakang murid baru, artinya langsung berhadapan dengan sinar matahari.
Apalagi kini pukul 2 siang, cuaca lagi panas panasnya,lupa membawa topi pula ya sudahlah.
Menghela napas sejenak sambil sesekali memejamkan mata.
"Bantu aku tuhan" batinnya.
Dirinya merasa lemas,lagi. Apel siang sepertinya akan selesai,dirinya berbalik badan kemudian berjalan kedepan untuk membereskan peralatan.
Dan benar Samapi didepan acara sudah selesai, dirinya sibuk ,lagi.
Tanpa bantuan dari anggotanya, karna jika ada yang membantu akan dimarahi habis habisan oleh Ahdan.
Dirinya Sibuk mengulung kabel sambungan dan akhirnya.
Brukk...
Dirinya terjatuh akibat gulungan kabel itu melilitnya. Awalnya mereka kaget, tapi setelahnya mereka tertawa, si ketos juga ikutan.
"SIAPA YANG NYURUH KETAWA"
Suara Septian terdengar,karna merasa kasihan.
Belum ada yang membantu dirinya, Binara sedang berusaha untuk keluar dari lilitannya. Selesai, akhirnya terbebas.
Dirinya lecet sedikit,tapi untuk tulang kering dan tangan kain kasa itu terbuka dan alhasil darah mengucur lagi.
Mereka semua kaget dan meringis pelan karna melihat luka ditilang kering yang lumayan besar kini mengucur darahnya.
Hendak berjalan dirinya tersandung kabel dibawahnya, terjatuh seperti duduk pasti lututnya tergores ,lagi.
Semua tertawa lagi lebih keras, sedangkan didepan Sana,Binara menutup mara menghalau rasa perih yang kini menjalar di lukanya
"DIAM" Suara tegas tedengar dari mulut si Bendahara,Ria Saesti.
Ria membantu Binara untuk berdiri,diikuti yang lain untuk memapah Binara dan ada juga yang membereskan peralatan.
"Lo bantuin seharusnya Dan, bukannya ketawa ga jelas, ngga punya hati Lo"
Sarkas, ucapan keluar dari bibir Ria menatap Ahdan yang kini turun dan menghampirinya.
"Itu hak gue"
"Gue tau itu hak Lo, setidaknya punya rasa kasihan buat Binar, dia kerja terus dari pagi ngga sarapan juga terus pas mau makan buah Lo tarik dia buat nyiapin keperluan lagi, belum puas Dan"
"Belum"
"Gila Lo Dan, kita semua diem takut Lo marah. Dari awal masuk OSIS kita diem liatin Lo yang selalu nyuruh Binar, dengan alibi Binar yang mau sendiri kata Lo. Tapi apa, ini semua bohong kita liat sendiri Lo nyuruh dia terus sedangkan kita sekedar liatin dan ngerjain yang gampang, bangsat Lo Dan"
Ahdan mulai berjalan kedepan menghampiri Ria,dan teman OSIS satu lagi yang kini sedang memapah Binar.
"Gue bangsat karna dia"
Tunjuknya ke arah Binar,Binar hanya menutup matanya karna Ahdan berbicara didepan wajahnya persis.
Ria hendak menjawab tapi suara Septian terdengar.
"Udah Lo bawa binar ke UKS"
Semua anggota OSIS bubar tersisa Ahdan,dan Septian.
"DAN UNTUK SEMUANYA, JANGAN UNGKIT MASALAH INI SELANJUTNYA KALIAN ISTIRAHAT UNTUK SOLAT ASHAR BAGI YANG ISLAM"
Semua bubar,Septian juga ikut bubar. Tersisa Ahdan yang kini duduk dipinggiran lapangan.
Sedangkan Rama saat itu ingin sekali menolong Binar,tapi tidak bisa.
"Maafin saya ya teh ngga bisa bantu"
"Sakit ya teh" lanjutnya didalam batin
Jangan lupa baca ya follow juga.
Saya butuh dukungan kalian sebagai rasa timbal balik
Terimakasih.
KAMU SEDANG MEMBACA
Binara (ON GOING)
Fiksi RemajaFOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA SAYA MINTA TIMBAL BALIKNYA BUAT SAMA SAMA HARGAI KARYA ORANG TERIMAKASIH. Jika ada kesamaan nama tokoh atau tempat pemain saya mohon maaf karna tidak sengaja,ini murni karangan saya sendiri. Tentang Binara, Si gadis pe...
