00:02 : Lo Siapa?

446 39 49
                                        

Gedoran pintu kamar membuat tidur si Tuan Putri cukup terganggu. Mencoba abai karena tahu siapa gerangan yang sudah ribut bahkan kala matahari belum benar-benar menampakkan sinar.

"KAK LIAN BANGUNN!"

"TATAK, AYO BANGUN."

Meski terusik gadis itu tetap erat memejamkan mata bahkan mengambil guling untuk menutupi telinga serta menaikkan selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya, tak peduli sekalipun ketika dua adiknya semakin brutal di balik sana.

"KAKAK, AYO BANGUN ATAU AKU SAMA ZIRCON BERANTEM."

Ternyata semakin dibiarkan justru semakin jadi saja, Berlian membuang asal guling dan melempar selimutnya. Bangkit dengan wajah yang ketara masih mengantuk, dirinya berjalan gontai ke arah pintu sebelum kedua kurcacinya itu semakin membuat rusuh dan membangunkan seisi rumah.

"Kenapa?"

"Katanya mau ngajak kita lari-lari?" Tatapan polos dari si bungsu bernama Krystal membuat Berlian tidak mampu untuk meluapkan emosinya.

"Kenapa kalian bisa bangun sepagi ini, hm?" Berlian berjongkok dan mengelus rambut si kembar yang masih mengenakan piyama dengan Krystal yang memeluk boneka marmutnya.

"Kita buat jamnya biar bunyi." Cengir Zircon membuat Berlian kembali menahan keinginannya untuk menonjok samsak.

"Zircon, Krystal, ini masih pukul empat, oke? Kalau kita lari sekarang namanya lari fajar bukan lari pagi. Tidur dulu, ya setengah jam lagi kakak bangunin buat sholat terus kita siap-siap, setuju?" Berlian mencoba untuk memberi pengertian dengan pelan. Oh, ayolah saat ini dia sudah mendengar godaan keras dari bantal guling untuk segera dipeluk. Gadis itu baru menyelesaikan bacaan ceritanya hingga pukul 00.24 dini hari.

"Bener, ya? Jangan bohong," pinta Krystal mengangsurkan jari kelingkingnya yang diikuti Zircon. Berlian tersenyum tabah lantas mengaitkan kedua kelingkingnya sebagai bentuk janji.

"Balik tidur, gih sebelum mama sama papa ke sini dan marah. Mau kakak antar atau tidur sama kakak?"

"Sama kakak!" jawab keduanya dengan mata berbinar.

"Ya udah, ayo." Berlian menggiring adik-adiknya menuju kasur.

...

"Pagi, Sayang," sambut Jane pada si sulung yang baru saja keluar kamarnya.

"Pagi, Ma," balas Berlian menyematkan satu kecupan untuk Jane yang sudah menyiapkan sarapan. Mengambil duduk dan langsung menyantap makanan yang tersaji.

"Kakak mau bareng berangkatnya?"

Berlian mendongak menatap Magenta. "Nggak, Pa."

"Malu?" tanya Genta mengangkat sebelah alis sembari menyeruput kopinya.

Berlian otomatis mendengus, yang benar saja dia malu. Papa-nya saja masih terlihat awet muda dan cocok untuk dijadikan sugar daddy.

"Beda arah, Papa."

"Ya nggak apa-apa. Papa, kan sayang anak."

"Lian males kalau pulang segala ada drama ban bocorlah, macetlah, nggak bisa jemput, hah...."

Magenta hampir menyemburkan tawa melihat anak sulungnya yang terlihat lucu saat kesal. Pasti karena terlalu banyak membaca cerita. "Kan, ada helikopter, Kak."

"Nggak sekalian pesawatnya?"

"Boleh juga."

"Udahlah, kakak berangkat dulu."

Another Side : Berlian Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang