Bersenandung riang sebagai pertanda suasana hati sedang baik, gadis dengan seragam putih biru itu melangkah menuju kelasnya dengan sesekali tersenyum pada orang yang menyapa.
"Selamat pa–" Salamnya terhenti dan senyumnya luntur begitu saja. Matanya membola dengan langkah cepat dia berjalan menuju bangkunya, melihat bagaimana kondisi tempat duduknya untuk belajar yang dihiasi permen karet dan meja penuh coretan.
"SIAPA YANG LAKUIN INI, HAH?" Napasnya memburu dan memindai seisi kelas yang hening. Hanya ada beberapa siswa yang sudah datang dan dengan begitu bisa dia pastikan siapa dalang di balik semua ini. Matanya melirik tajam sosok yang duduk di bangku paling pojok sedang tersenyum tengil.
Berjalan menghampiri orang yang dia yakini adalah pelaku sebenarnya dengan napas memburu, gadis itu menggebrak meja sang pemilik tanpa takut.
"Kamu, kan yang coret-coret bangku aku?!"
Namun, nyatanya menghadapi amaraj seperti itu tidak membuat senyum jail si lelaki luntur. "Kok nuduh, ada bukti memang?"
"Bukti? Kamu masih nanya bukti saat kamu jelas liat bangku aku kotor begitu, hah?!"
"Loh, emang kamu liat aku yang coret-coret bangku kamu itu?"
"Tanpa aku liat pun aku yakin kamu yang bikin bangku aku kayak gitu. Di sini nggak ada yang sejahil itu sama aku selain kamu, bersihin sekarang!"
"Nggak mau."
"Zander.bersihin." Kesabaran gadis itu semakin diuji melihat teman - oh, bukan lebih tepat musuhnya yang masih bisa duduk santai tanpa rasa bersalah.
"Nggak mau dibilang. Kalau kamu mau mah sini duduk sama aku."
"Ogah banget. Bersihin atau kamu aku aduin sama guru."
Zander melipat tangan di dada sembari bersandar tenang. "Laporin, nggak takut aku mah. Kalau mau ya, duduk sini."
"Gak!"
"Ya udah bersihin aja sendiri."
Bertepatan dengan itu seorang guru masuk dan mengernyit melihat keributan di pojok ruangan. Bukan rahasia lagi jika kedua orang itu mudah berseteru.
"Bu Nuri, lihat bangku saya dikotorin Zander," adu si gadis membuat sang guru mengalihkan pandangan pada bangku muridnya.
"Zander benar kamu yang lakuin itu?"
"Iya." Jawaban enteng tanpa beban itu mengundang pelototan maut dari gadis yang masih berdiri di depannya.
Bu Nuri menghela napas. "Kenapa kamu lakuin itu, Zander?"
"Biar dia bisa duduk sebangku sama saya."
"Alasan macam apa itu? Kamu kira aku mau duduk sama kamu? Eng.gak!"
"Zander. Bawa bangku Berlian ke gudang dan ambil bangku yang baru, sekarang!" perintah Bu Nuri sebelum terjadi kembali perdebatan.
"Membiarkan pelajaran terhambat?" pinta Zander menaikkan alis yang membuat Bu Nuri berpikir bahwa ada benarnya. Adanya perdebatan ini saja sudah memangkas waktu belajar yang sebentar.
"Baik lakukan itu saat jam istirahat nanti. Berlian, ibu mohon pengertiannya untuk akur sebentar, ya? Duduk sama Zander sampai jam istirahat nanti, nggak pa-pa,kan?"
Berlian, gadis itu mengepalkan tangan dan menggertakan gigi. Menuruti perintah Bu Nuri dengan paksaan yang teramat, dia duduk dan menarik kursinya menjauh dari sosok yang menjadi teman sebangkunya.
Zander menyunggingkan senyum kemenangan. Merebahkan kepala menghadap gadis yang masih masam dan merengut kesal benar-benar membuatnya bahagia. "Hai, teman sebangku."
.
.
.
KAMU SEDANG MEMBACA
Another Side : Berlian
Fiksi Remaja"I love you." "Love who?" "You." **** Bagi Berlian mengenal Arexon adalah sebuah kesialan. Akan selalu ada hal tidak menyenangkan yang terjadi bila sudah bersangkutan dengan ketua geng Sigra's tersebut. Namun, bagi Arexon bertemu dengan Berlian adal...
