Sudah lebih dari 5 hari sejak Peter dipindahkan ke ruang rawat inap, namun kondisinya belum menunjukkan perkembangan signifikan setelah berhasil melewati masa kritisnya. Dokter hanya memastikan bahwa Peter mengalami koma untuk waktu yang belum bisa dipastikan karena adanya cedera kepala.
Anak-anak Sigra secara bergantian untuk berjaga setiap harinya, pun dengan beberapa bodyguard yang diminta Arexon untuk membantu agar pengamanan lebih terjaga demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Mau bagaimanapun, Peter adalah temannya dan masih dalam tanggung jawabnya, dia tidak ingin mengambil resiko lebih besar jika sampai lalai.
"Yang lain udah dateng, ayo pulang gantian, Rex."
Arexon yang sedang bermain ponsel di depan ruang rawat Peter mendongak ketika Aerius menepuk pundaknya. Melihat beberapa anak Sigra datang, dirinya lantas berdiri untuk berganti menjaga.
"Tante Hana nanti ke sini?" tanya Banu sembari membuka jaketnya.
"Iya, nanti sama adeknya Peter juga," jawab Arexon yang dibalas anggukan mengerti oleh Banu.
"Duluan ya guys, nitip Peter. Kabarin kalau ada apa-apa," pamit Aerius.
Banu dan beberapa anak Sigra kompak mengangguk.
.
.
.
Di lorong rumah sakit itu, baik Arexon maupun Aerius berjalan dalam diam, tanpa ada yang mau membuka suara terlebih dahulu terlebih sifat Aerius yang memang cenderung tak banyak bicara.
"Lo mau langsung pulang, Ri?" tanya Arexon ketika mereka sudah sampai di parkiran rumah sakit.
"Iya, kenapa? Lo mau mampir?" Aerius menjawab sembari mengenakan helmnya.
Arexon mengangguk mengiyakan. "Ke rumah Carka."
"Dia masih gak mau gabung kita, ya?"
"Berharap apa dari orang sekeras itu sama pendiriannya."
"Padahal dia sering bantu kita kalau berantem sama anak sekolah lain."
Arexon hanya mengenditkan bahu tak acuh. Tidak tahu saja di balik keikutsertaan Carka itu Arexon sampai harus merendahkan gengsinya. Bukannya dia meragukan dirinya serta teman-temannya, namun kehadiran Carka itu membuat peluang mereka untuk menang menjadi mutlak.
Jadi, di siang menjelang sore ini, setelah membunyikan klakson sebagai pertanda perpisahan dengan Aerius, Arexon melajukan motornya menuju rumah Carka untuk menanyakan suatu hal.
.
.
.
Carka mendesah lelah dan merasa menyesal mengiyakan keinginan temannya yang ingin datang berkunjung. Sekarang dirinya merasa sesak sendiri karena ketempelan sosok Arexon yang sejak datang sudah membombardirnya dengan serangkaian pertanyaan.
"Harusnya lo tuh datengnya ke rumah cewek gue. Gue mana ngerti soal dia, sih," keluh Carka dengan wajah yang sudah sangat ketara kesal.
"Cewek yang mana?"
"MIKIR!"
Arexon tergelak mendengar nada galak teman karibnya itu. "Gak takut karma apa lo main-main mulu."
"Kenapa jadi bahas hubungan gue?" desis Carka tak menyukai jika ada yang menanyakan perihal hubungannya.
"Heran aja, kenapa cewek lo masih mau aja padahal lo udah sebrengsek itu."
Carka berdecak dan melemparkan bantal sofa ke arah Arexon yang dapat dielakkan dengan mudah.
"Santai, bro. Kan gue ke sini mau nanya soal Berlian. Kalau urusan karma lo, sih gue tinggal nunggu aja," kelakar Arexon kembali tergelak melihat ekspresi Carka yang memerah menahan marah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Another Side : Berlian
Teen Fiction"I love you." "Love who?" "You." **** Bagi Berlian mengenal Arexon adalah sebuah kesialan. Akan selalu ada hal tidak menyenangkan yang terjadi bila sudah bersangkutan dengan ketua geng Sigra's tersebut. Namun, bagi Arexon bertemu dengan Berlian adal...
