SMA Shatara bukanlah sekolah menengah favorit yang ada di Jakarta. Masih ada SMA Gentara yang terkenal terkenal sulit untuk ditembus gerbangnya karena memiliki banyak atlet pemegang sabuk hitam yang siap menjadi garda terdepan. Di lain sisi ada SMA Pandora yang memiliki persaingan ketat dalam akademik. Di dalam Pandora mereka akan diperkenalkan pada perasaan tidak ingin kalah dan harus menjadi nomor satu. Mereka adalah yang terbaik dari yang paling baik.
Namun, SMA Shatara juga tidak bisa diremehkan. Mereka memiliki Arexon yang notabene adalah ketua dan akan melindungi sekolahnya dari serangan sekolah lain terutama musuhnya. Jika Gentara unggul dalam bidang non akademik dan Pandora menang dalam kecerdasan. Maka, Shatara memiliki keduanya yang membuat musuh berpikir ulang untuk menyerang.
Seperti yang terjadi saat ini, halaman yang biasanya ramai dengan aktivitas siswa justru sekarang ricuh dikarenakan Bara dan gengnya yang berasal dari SMA Pancaka tiba-tiba menyerang tanpa aba-aba sebelumnya. Bahkan Arexon merasa tidak memiliki masalah sebelumnya yang membuat pemuda itu harus datang dan menyerang sekolahnya.
"Aman?" Arexon melirik temannya yang baru datang. Hiro, salah satu anggota Sigra's yang merangkap menjadi anggota OSIS itu mengacungkan jempol pada ketuanya. Sebelumnya dia bertugas untuk mengamankan semua warga sekolah untuk menghindari korban jiwa.
Arexon melirik sekilas ke lantai atas untuk memastikan sudah tidak ada lagi seorang pun selain anggota Sigra's dan Anthrax.
"Muncul juga lo, gue kira lo bakal lari dan ngumpet di kantong guru."
Suara merendahkan itu sama sekali tak membuat Arexon terpancing untuk membalas. Dia hanya menatap lurus, memindai segala kerusakan yang diakibatkan oleh Bara dan gengnya.
"Berapa kali gue peringati untuk gak nyerang Shatara?" Suara berat sarat kemarahan itu membuat sebagian bulu kuduk mereka merinding.
Bara tertawa remeh. "Kenapa? Lo takut kalah di sekolah lo sendiri?"
"Takut?" beo Arexon lantas dengan gerakan tak terduga menendang ulu hati Bara membuat pemuda itu mundur beberapa langkah dan terbatuk.
Belum sempat pemuda itu membalas. Arexon kembali melayangkan tinjunya dan membogem pipi Bara hingga cowok itu benar-benar muntah darah. Kericuhan kembali terjadi, tapi kali ini terasa seimbang karena Sigra's tak kalah jumlah.
"Kenapa gue harus takut sama lo yang bahkan gak pernah menang dari gue?"
Suasana semakin memanas. Suara pukulan dan retakan tulang terdengar di mana-mana. Di sisi lain, Banu, cowok itu justru asik menghirup vapor di tengah-tengah tawuran yang terjadi. Bukan tak menghadapi musuh, hanya saja dia memang bertengkar tanpa kebrutalan. Buktinya sudah ada 5 orang yang terkapar di dekatnya.
"Kalian ngapain, sih gabut segala nyerang sekolah? Lo semua itu ganggu waktu istirahat gue. Harusnya sekarang gue makan mie-nya mbak Sri elah," dumelnya kesal menatap Joko yang katanya panglimanya Anthrax.
"Banyak omong lo." Joko langsung saja melayangkan pukulan yang dengan gesit dihindari Banu.
"Eits, nggak kena."
Sikap slengek Banu adalah ujian kesabaran yang terbesar. Pemuda itu bahkan bisa membuat orang lain emosi tanpa banyak usaha. Seperti sekarang, wajah Joko sudah memerah karena amarah di ubun-ubun yang rasanya ingin meledak. Banu dengan santai menghembuskan asap vapor ke wajahnya.
"Lo nggak asik, masa yang katanya panglima geng nyerangnya gitu doang. Mending balik gih minta dipuk-puk Wulan."
"By one sini lo." Tantang Joko berang.
"Lah, Samsul. Lo kata gue dari tadi di sini ngapain? Ngopi?" Banu menyudahi menghirup vapor dan memasukkan benda itu ke saku celananya. "Ya udah, hayuklah. Yang kalah traktir." Tak memberi jeda ucapannya Banu langsung menyerang Joko dengan membabi buta membuat cowok yang belum terlalu siap itu terlempar dan menabrak beberapa orang.
Di tempat lain, Aerius sudah berhasil meringkus wakil ketua Anthrax tanpa sedikitpun luka menghiasi wajahnya. Ya, dia tidak suka wajah tampannya terdapat luka sekecil apa pun yang membuat kekasihnya nanti berpaling. Dengan sedikit menjambak rambut wakil Bara yang sudah setengah sadar itu agar mendongak dan mengarahkan ke tempat di mana Arexon menghabisi Bara dengan kesetanan.
"Lihat baik-baik, di atas ketua lo ada malaikat pencabut nyawa, tarik semua anggota lo buat mundur atau nyawa ketua lo beneran melayang," ucap pemuda itu dingin. Alasan Aerius meminta Ellio adalah karena dirinya yakin ketua Anthrax itu untuk sekedar menarik napas saja akan kesulitan dan tidak mungkin akan memberi aba-aba untuk membuat anggotanya kembali. Untuk itu dirinya meminta Ellio yang masih memiliki secuil kesadaran.
.
.
.
Setelah semua selesai. Kepala sekolah memilih untuk memulangkan lebih awal siswa-siswinya dan meliburkan mereka selama dua hari untuk renovasi sekolah yang mengalami kerusakan di bagian depan.
Untuk anggota Sigra's sendiri mereka langsung menuju markas untuk saling mengobati satu sama lain. Suara mereka yang terlalu berisik membuat Arexon melipir ke tempat yang lebih sepi untuk menenangkan diri. Untunglah tidak ada korban jiwa dalam anggotanya selain hanya luka memar dan lecet.
"Luka lo gak diobati?"
Arexon melirik kehadiran Aerius sekilas. "Cuma luka kecil."
"Nanti infeksi," peringatnya.
"Mhm, gue pergi dulu."
Tanpa mendengar suara Aerius yang akan berubah menjadi seperti ibu-ibu di saat seperti ini, Arexon langsung melenggang pergi.
.
.
.
Ninja hitam dengan sedikit garis merah itu berhenti di salah satu halte. Arexon memilih menepikan motornya dan duduk di halte yang sepi ketimbang pulang. Paling-paling di rumah dirinya hanya akan mendengar jeritan heboh mamanya melihat anak tunggalnya pulang dengan lebam. Sebagai anak tunggal Arexon terkadang merasa bosan di rumah, tidak ada saudara yang bisa dijahilinya atau diajaknya bermain.
Arexon menunduk untuk melihat luka di tangannya. Luka yang di dapat saat dirinya sedikit lengah dan telat menangkis serangan anak buah Bara yang hampir memukulnya dengan balok kayu.
"Jangan pernah lagi usik Shatara atau lo yang gue buat mati di sini."
Masih terlintas ancaman yang dilayangkan dirinya untuk Bara di ambang kesadaran cowok itu tadi. Mungkin itu akan menjadi peringatan terakhir dari Arexon untuk Bara agar tidak kembali ke SMA Shatara. Bahkan mereka pun harus sadar bahwa jangan pernah mengusik Arexon dan teritorialnya.
...
Anneyong, gimana kabar?
Berlian nanti dulu, ya. Lagi sibuk dia.
Ini part rada gaje, sih. Gue juga nggak bisa mendeskripsikan jelas gimana kondisi tawuran, gak pro, hehehe.
Jangan lupa vote comment, cantik. See you.
Papay
KAMU SEDANG MEMBACA
Another Side : Berlian
Fiksi Remaja"I love you." "Love who?" "You." **** Bagi Berlian mengenal Arexon adalah sebuah kesialan. Akan selalu ada hal tidak menyenangkan yang terjadi bila sudah bersangkutan dengan ketua geng Sigra's tersebut. Namun, bagi Arexon bertemu dengan Berlian adal...
